Kebab dan Burger, Kuliner Timur Tengah dan Barat yang Jalan Berdamping

Makanan siap saji merebut hati penikmatnya
Image title
Oleh Tim Publikasi Katadata - Tim Publikasi Katadata
17 April 2021, 17:30
Ilustrasi Kebab Baba Rafi. Perusahaan kuliner ini melebarkan sayap ke India. Saat ini perusahaan memiliki 1.300 gerai di Indonesia dan 9 negara.
Kebab Turki Baba Rafi / Instagram

Siapa yang tak kenal dua jajanan kebab dan burger? Keduanya merupakan kuliner asing yang cukup populer di Indonesia dan produknya sangat mudah ditemui di restoran cepat saji ataupun kedai sederhana di pinggir jalan.

Dua kuliner ini berasal dari latar belakang negara yang berbeda. Burger berasal dari kota Hamburg, Jerman, namun dipopulerkan dan menjadi ikon makanan di Amerika. Pada awal tahun 90-an, waralaba burger pertama masuk ke Indonesia. Sejak saat itu burger makin populer di kalangan anak muda dan para pekerja produktif yang super sibuk.

Roti bundar dengan isian daging, sayuran, dan lumeran keju serta saus pedas ini kerap menjadi alternatif bagi mereka yang tak punya banyak waktu untuk bersantap. Makanan ini sangat praktis dan mengenyangkan, sehingga bisa disantap sambil bekerja.

 

Makanan siap saji ini pun akhirnya cepat merebut hati penikmatnya. Jika dulunya di Indonesia, panganan ini hanya bisa dinikmati di gerai restoran cepat saji, kini kudapan ini bisa dibeli mulai dari yang kualitas premium sampai yang menjadi jajanan anak sekolah dengan harga  di bawah sepuluh ribu rupiah.

Burger pun telah menjadi jadi panganan merakyat dengan harga terjangkau dan cita rasa mengikuti selera dan lokal.

Lain cerita dengan kebab. Kuliner ini sebenarnya berakar dari masakan Persia yang diartikulasi oleh masyarakat Turki. Pada medio tahun 2005, nama kebab mulai mencuri perhatian. Meski jauh sebelum itu, kebab sudah masuk Indonesia lewat pedagang Timur Tengah, namun pada awal 2000-an kebab mulai populer di kalangan anak muda Indonesia.

Tak butuh waktu lama, nasib kebab pun sama seperti burger, disukai dan populer di masyarakat. Banyak gerai kebab tumbuh dengan varian dan citarasa masing-masing. Bisa dibilang, kepopuleran kebab mulai menyaingi burger dengan gerai kebab yang kian menjamur di pinggir jalan atau sekitar kompleks perumahan.

Dari sisi cita rasa, kebab sebetulnya hampir mirip dengan burger yakni sama-sama roti dengan isian daging. Hanya saja, roti kebab berbentuk pipih mirip tortilla Meksiko. Roti ini yang kemudian diisi dengan bermacam-macam isian, mulai dari daging yang dipanggang manual, sayuran, saus dan sebagainya.

Bedanya lagi, potongan daging kambing, sapi atau ayam ini ditusuk lalu dibakar atau biasa disebut shis kebab. Sedangkan untuk kebab yang dikenal di Indonesia lebih popular dengan varian kebab yang disajikan irisan tipis daging panggang atau yang disebut doner kebab.

Meski awalnya kedua makanan ini bersaing, seiring waktu beberapa penjual mulai merombak strategi. Kini para penjual tak lagi mengenal ideologi, mereka pun membuat makanan Barat dan Timur Tengah ini berdamai. Penjual burger tak segan memasukkan menu kebab di resto atau gerainya.

Adapun di Ramadan, pamor kebab boleh jadi sedikit menggunguli burger lantaran memiliki relasi dengan daerah asalnya, tapi setidaknya kini keduanya berdampingan dan sama-sama diminati pembeli.

Editor: Ekarina
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait