Blibli Integrasikan Pengelolaan Limbah Elektronik ke Ekosistem Omnichannel
Perusahaan ekosistem perdagangan omnichannel PT Global Digital Niaga Tbk (Blibli) memperluas jangkauan program pengumpulan limbah elektronik bertajuk Gadget for Good.
Aksi ini merupakan respons atas tantangan serius yang dihadapi Indonesia dalam pengelolaan sampah elektronik (electronic waste/e-waste).
Merujuk kepada Global E-waste Monitor 2024, Indonesia menghasilkan sekitar 2 juta ton sampah elektronik per tahun. Fakta ini menjadikan RI sebagai salah satu kontributor terbesar e-waste di Asia Tenggara.
Oleh karena itu, melalui Gadget for Good, Blibli berupaya mengintegrasikan praktik keberlanjutan ke dalam operasional bisnis sehari-hari guna mendorong ekosistem sirkular. Inisiatif ini berangkat pula dari kesadaran adanya ketimpangan pengelolaan e-waste khususnya di wilayah metropolitan.
Sebagai contoh, di DKI Jakarta, hanya sekitar 165 ton limbah elektronik berhasil dikelola sepanjang periode 2019 hingga Mei 2024. Padahal, Pulau Jawa sendiri menyumbang lebih dari separuh total volume limbah elektronik nasional.
Blibli akan berusaha mengatasi hambatan aksesibilitas dengan menyediakan dropbox pengumpulan e-waste. Dropbox ini tersedia sepanjang tahun di lima lokasi Blibli Store, yaitu Central Park, Gandaria City, Bintaro Jaya Xchange Mall, Lippo Mall Puri, dan AEON Mall Sentul.
Khusus dalam rangka memperingati Earth Day 2026, Blibli berkolaborasi dengan AEON Mall Sentul City untuk menghadirkan titik pengumpulan tambahan di Eternity Privilege lantai 2 yang berlangsung hingga 3 Mei 2026.
"Sustainability bukan sekadar program yang dinyalakan saat Earth Day lalu ‘diredupkan’ setelahnya. Kami terus menghadirkan peluang di setiap kanal transaksi untuk mendorong dampak positif bagi lingkungan," ujar Head of ESG Blibli Ignacia Chiara Irawan melalui keterangan resmi, Senin (27/4).
Guna meningkatkan partisipasi publik, Blibli menerapkan strategi insentif. Pelanggan yang menyerahkan minimal empat perangkat elektronik kecil berkesempatan mendapatkan voucher senilai Rp100.000 untuk pembelian produk Samsung di lokasi tertentu. Perangkat elektronik kecil misalnya pengisi daya (charger), earphone, powerbank, atau konsol gim.
Strategi ini terbukti mulai membuahkan hasil. Rata-rata volume e-waste yang terkumpul melalui jalur Blibli meningkat sebesar 54 persen dari 1,5 item per hari pada Desember 2025 menjadi 2,4 item per hari pada kuartal pertama 2026.
Selain limbah elektronik, emiten berkode saham BELI ini juga menjalankan program Take Back Packaging sejak 2020. Melalui program ini, setiap 150 kemasan bekas yang dikembalikan pelanggan dikonversi menjadi satu bibit pohon, dibarengi dengan pemberian poin loyalitas bagi pengguna.
Adapun, tantangan terkait limbah elektronik bukan hanya dihadapi Indonesia tetapi juga oleh negara-negara lain di dunia. Volume e-waste global tercatat mencapai 62 juta ton pada 2022.
Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 82 juta ton pada 2030 dan hanya 22,3 persen limbah yang berhasil didaur ulang secara formal menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
