WALHI Soroti Turunnya Kualitas Lingkungan Hidup, Sentil Pemerintah

Ajeng Dwita Ayuningtyas
8 Juni 2026, 23:04
lingkungan, walhi, pembangunan
ANTARA FOTO/Novrian Arbi/hm
Aktivis lingkungan Walhi Jawa Barat menggelar aksi pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Braga, Bandung, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) menyoroti penurunan kualitas lingkungan hidup di Indonesia di tengah perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

Penurunan kualitas yang turut mengakibatkan krisis iklim ini dinilai tak lepas dari prinsip pembangunan yang masih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi semata.

WALHI beranggapan, target pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029 berpotensi semakin menekan lingkungan hidup dan ruang hidup masyarakat.

Menurut Pengkampanye Iklim dan Isu Global WALHI Patria Rizky Ananda, target pertumbuhan tersebut dapat mendorong investasi dan ekspansi usaha, namun dengan konsekuensi.

“Pertanyaannya, bagaimana dengan kita, petani, nelayan, masyarakat adat, yang seringkali terdampak negatif dari aktivitas sektor swasta itu?” kata Patria, dikutip dari keterangan resmi pada Senin (8/6).

Menurut dia, peringatan Hari Lingkungan Hidup harus menjadi pengingat bahwa krisis lingkungan tidak hanya bisa diselesaikan dengan label ‘hijau’. Ia menyoroti proyek hilirisasi nikel untuk transisi energi. 

“Untuk menghentikan krisis, perlu perubahan arah pembangunan yang menempatkan keselamatan lingkungan dan rakyat sebagai prioritas utama,” ujarnya. 

Perubahan bentang alam Bukit Barisan di Sumatra merupakan salah satu bentuk tekanan industri ekstraktif terhadap ekologis. Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Riau Ahlul Fadli mengatakan, saat ini hutan Riau terus tergerus secara masif setidaknya dalam tiga dekade terakhir.

“Hutan alam yang tadinya 5 juta hektare berkurang jadi 1,3 juta hektare,” kata Ahlul.

Di sisi lain, WALHI juga menyoroti banjir rob yang terus menggerus kawasan pesisir. Kondisi ini membuat banyak warga kehilangan ruang hidupnya perlahan. Begitu pun mata pencahariannya, cuaca ekstrem yang kian intens memukul mundur nelayan dan petani yang bergantung pada pola musim.

Patria mengatakan, krisis iklim yang berdampak pada masyarakat adalah imbas dari pola pembangunan yang bertumpu pada ekstraksi sumber daya alam.  “Hutan dibuka, pesisir direklamasi, dan ruang hidup dikonversi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan,” kata dia.

Menurut data yang dihimpun WALHI, sekitar 2.000 pulau kecil di Indonesia berpotensi tenggelam pada 2050. Ada kurang lebih 42 juta penduduk pesisir yang terancam kehilangan ruang hidup.

Perubahan iklim juga turut berdampak pada sektor pangan. Produksi beras diperkirakan turun 6 persen dan jagung turun 14 persen.  Pada tahun yang sama, lebih dari 34 persen populasi Indonesia diperkirakan mengalami kelangkaan air. Akibatnya, risiko kesehatan meningkat, seperti ancaman malnutrisi, diare, maupun malaria. 

Dia menegaskan, Hari Lingkungan Hidup harus menjadi titik refleksi dan peringatan keras bahwa krisis yang terjadi saat ini adalah warisan yang sedang dibentuk untuk generasi berikutnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat kembali menyinggung ‘taubat ekologis’ dalam pidatonya saat merayakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia itu. Menurut dia, harus ada perubahan dalam cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. 

"Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam," ujar Jumhur.

Menurut Jumhur, salah satu aksi terdekat adalah memilah sampah dari sumber. Selain berkenaan dengan isu kebersihan lingkungan, sampah yang berkontribusi pada timbulan metana juga berperan mendorong perubahan iklim. 

“Masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh apa yang kita rencanakan, melainkan oleh apa yang kita lakukan mulai hari ini," katanya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...