Diterpa Kabar Batal, IPO Prima Multi (PMUI) Lesu, Harga Saham Turun 15% di Debut
Emiten distributor produk XL PT Prima Multi Usaha Indonesia Tbk (PMUI) resmi mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia pada Kamis (10/7). Perusahaan menjadi emiten ke-22 yang terdaftar di pasar saham Indonesia sejak tahun ini.
Pasca debut di bursa, harga saham PMUI turun 15% menyentuh batas bawah atau ARB menjadi Rp 153 per saham pada perdagangan sesi pertama pukul 9.20 WIB. Sebelumnya pada pukul 09.01 harga saham PMUI sempat bertahan di level Rp 163 per saham meski hanya sebentar.
Volume saham yang diperdagangkan tercatat 754 ribu saham dan nilai transaksi sebesar Rp 11,74 miliar. Merujuk prospektus yang diterbitkan perseroan, lewat aksi initial public offering (IPO) ini, PMUI melepas sebanyak melepas 1,16 miliar saham atau setara 20% saham.
Harga saham yang ditawarkan saat IPO adalah Rp 180 sehingga dana segar yang diraup akan mencapai Rp 208 miliar. Perusahaan menunjuk Korea Investment And Sekuritas Indonesia Tbk (PMUI) sebagai penjamin dan pelaksana emisi efek.
Direktur Utama PMUI Agus Susanto mengatakan, langkah perusahaan untuk masuk ke Bursa Efek Indonesia melalui IPO adalah bagian dari strategi kami untuk meningkatkan kapasitas pendanaan dan mendorong tata kelola perusahaan ke tingkat yang lebih baik lagi.
“Kami optimis dengan prospek bisnis yang dijalankan perseroan saat ini, seiring dengan pertumbuhan sektor telekomunikasi dan kebutuhan akan konsultasi manajemen yang profesional di Indonesia,” kata Agus ketika membuka IPO PMUI di Main Hall BEI, Kamis (10/7).
Penggunaan Dana IPO PMUI
Merujuk prospektus yang diterbitkan perseroan, sekitar 26,76% dana hasil IPO setelah dikurangi biaya emisi akan digunakan untuk membeli tanah dan bangunan milik pihak afiliasi, yakni Direktur Utama Agus Susanto, yang berlokasi di Jl. Tuparev No. 87 A, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Selanjutnya, sekitar 29,73% dana akan disalurkan sebagai pinjaman kepada anak usaha, PT Graha Prima Mentari Tbk, dengan suku bunga 9% dan tenor lima tahun. Pinjaman tersebut akan digunakan anak usaha untuk pembelian tanah yang memiliki sumber mata air sebesar 33,33%.
Selain itu juga akan digunakan untuk pelunasan utang pokok kepada PT Bank Mandiri Tbk sebesar 33,33%, pembelian mesin produksi air minum dalam kemasan sebesar 30%, serta kebutuhan modal kerja lainnya.
Profil dan Prospek Prima Multi (PMUI)
PT Prima Multi Usaha Indonesia (PMUI) adalah perusahaan distributor untuk produk dari XL yang dikeluarkan PT XL Smart Tbk (EXCL). Prima Multi awalnya adalah sebuah toko kecil yang bergerak di bidang usaha telepon seluler dengan melakukan penjualan telepon seluler bekas, simcard dan aksesoris telepon ke ritel dengan skala kecil pada tahun 1998.
Dalam rentang waktu 1999 – 2001, PMUI mengembangkan usahanya dari awalnya hanya memiliki satu toko kecil di Cirebon menjadi 11 toko di Cirebon. Pada tahun 2002 – 2006, PMUI mulai menjadi distributor Telkomsel, Indosat, Fren dan Esia.
Pada 2007, PMUI mulai menjadi distributor XL dengan wilayah pertamanya di Cirebon. Selanjutnya pada 2011, Prima Multi resmi berbentuk Perseroan Terbatas atau PT dan mengembangkan wilayah distribusinya ke Sumatera.
Saat ini PMUI tidak hanya menjadi distributor dari XL namun juga melakukan penjualan aksesoris dari handphone seperti kabel data, charger, powerbank, headset dan speaker bluetooth. Perusahaan memiliki Entitas Anak dan Perusahaan Cucu yang menjalani distribusi untuk produk FMCG.
Setelah pelaksanaan IPO selanjutnya pemegang saham perusahaan terdiri dari Rudy Susanto Wijaya Kaswan dengan kepemilikan 56% dan Agus Susanto dengan kepemilikan 24%. Baik Rudy maupun Agus merupakan penerima manfaat akhir dari IPO.
Perseroan mencatatkan penurunan penjualan neto pada tahun buku 2024 sebesar 7,60% dari Rp 3,49% pada 2023 menjadi Rp 3,22 triliun. Koreksi ini terutama disebabkan oleh turunnya penjualan barang sebesar 8,01% dari Rp 3,28 triliun menjadi Rp3,02 triliun.
Pendapatan dari jasa dan komisi juga ikut terkoreksi tipis sebesar 0,92% menjadi Rp 202,78 miliar. Manajemen menjelaskan, penurunan pendapatan jasa dipengaruhi oleh penyesuaian struktur Key Performance Indicator (KPI) yang diterapkan oleh principal.
Meski KPI pada 2024 lebih terbuka dibanding 2023, secara keseluruhan pendapatan masih menunjukkan ketahanan di tengah penurunan penjualan barang. Di tengah penurunan pendapatan, laba bersih tahun berjalan justru mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,06% menjadi Rp 49,63 miliar dari Rp 47,69 miliar pada 2023.
Peningkatan ini didorong oleh efisiensi pada beban pokok penjualan serta biaya umum dan administrasi sepanjang tahun berjalan.
