Diastika Biotekindo (CHEK) Resmi IPO, Harga Saham Melesat 34,38% Apa Rencananya?
PT Diastika Biotekindo Tbk (CHEK) resmi mencatatkan saham perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, Kamis (10/7). Perusahaan yang bergerak di sektor kesehatan ini menjadi emiten ke-19 di bursa pada 2025.
Pada debut perdananya, saham CHEK dibuka menembus batas atas atau Auto Reject Atas (ARA) melesat 34,38% ke level Rp 172 per lembar. Volume saham yang diperdagangkan tercatat 1,79 juta dengan nilai transaksinya Rp 307,50 juta. Lalu frekuensi perdagangannya tercatat sebanyak 2.122 kali. Adapun kapitalisasi pasar Diastika Biotekindo pagi ini senilai Rp 707,49 triliun.
Dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering/IPO, perusahaan mematok harga IPO Rp 128 per lembar dari rentang Rp 120-140 per lembar. Selain itu, dalam aksi korporasi ini, perusahaan melepas sebanyak 815 juta saham baru, yang setara dengan 20,04% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Dari aksi ini, perusahaan bakal meraup dana segar hingga Rp 104,32 miliar. Adapun CHEK menunjuk PT Lotus Andalan Sekuritas selaku penjamin pelaksana emisi efek.
Direktur Utama PT Diastika Biotekindo Tbk, FX Yoshua Raintjung, menyampaikan bahwa pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan untuk memperkuat struktur pendanaan perusahaan.
Tak hanya itu, ia mengatakan pendapatan bersih tumbuh 9,9% pada 2023 dan meningkat tajam 19,9% di akhir 2024. Pertumbuhan ini mencerminkan fundamental bisnis yang solid dan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan. Ke depannya, perseroan menargetkan pertumbuhan 10–20% per tahun melalui ekspansi produk OEM seperti DB-hem3 dan reagen lokal, yang didukung sertifikasi TKDN dan proyek-proyek pemerintah dalam strategi sinergi produk global dan merek lokal.
“Saya optimistis dengan prospek Industri Kesehatan saat ini, Pasar alat kesehatan dan diagnostik molekuler di Indonesia tumbuh pesat pasca-COVID dan seiring tren personalisasi pengobatan,” kata Yoshua, Kamis (10/7).
Rencana CHEK Usai IPO
Perusahaan berencana mengalokasikan seluruh dana yang diperoleh dari hasil penawaran umum perdana saham (IPO), setelah dikurangi biaya emisi, untuk kebutuhan modal kerja. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung operasional perusahaan, termasuk pembelian barang dagangan, biaya angkut, biaya kantor, biaya penjualan, sewa, dan pengeluaran lainnya.
Penggunaan dana ini sejalan dengan rencana perseroan untuk berpartisipasi dalam proyek pengadaan yang dicanangkan Kementerian Kesehatan, yaitu program SIHREN (Strengthening Indonesia’s Healthcare Referral Network), SOPHI (Strengthening of Primary Healthcare in Indonesia), dan InPLUS (Indonesia – Public Laboratory System Strengthening) dengan estimasi nilai proyek mencapai Rp 100 miliar.
Pembelian barang dari pemasok untuk proyek tersebut mengharuskan pembayaran di muka, perseroan menilai hasil IPO dapat menjadi solusi pendanaan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pembelian persediaan.
Hingga pertengahan Juni 2025, proses tender masih berada dalam tahap evaluasi teknis dan administratif, sementara CHEK telah menyerahkan seluruh dokumen persyaratan yang dibutuhkan, termasuk dokumen teknis, administratif, dan bukti pendukung kualifikasi.
“Perseroan saat ini masih berada dalam posisi yang dipertimbangkan dan dinyatakan memenuhi syarat administrasi awal (eligible), namun belum memasuki tahap negosiasi harga ataupun penetapan pemenang,” demikian tertulis dalam prospektus, Jumat (20/6).
