Manuver Gunanusa (GUNA) Incar Pasar Cina di Tengah Panasnya Perang Dagang AS
Emiten olahan kacang-kacangan, PT Gunanusa Eramandiri Tbk (GUNA) menyasar ekspor ke Cina dalam waktu dekat.
Direktur Utama GUNA, Ivan Cokro Saputra mengatakan, ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Cina membuka peluang besar bagi Indonesia, khususnya untuk penjualan produk almond. Saat ini, sekitar 80% produksi almond berasal dari AS.
GUNA selama ini mengimpor almond dari AS karena Indonesia tidak memproduksi jenis kacang ini. Kacang tersebut kemudian diolah GUNA dan dipasarkan di dalam negeri maupun ke luar negeri. Dengan status sebagai produk Indonesia, perseroan dapat memanfaatkan skema perdagangan bebas untuk menembus pasar Cina.
“Ke depan, China akan menjadi pasar utama kami,” ujar Ivan dalam paparan publik BEI 2025, Selasa (9/9).
Ivan menyebut GUNA sudah melakukan percobaan ekspor ke Cina dan memperoleh sertifikat dari Badan Bea Cukai Cina atau General Administration of Customs of China (GACC). Meski demikian, realisasi ekspor tersebut belum akan terealisasi tahun ini.
“Perusahaan tetap berhati-hati dalam proses pengolahan produk agar sesuai standar,” kata Ivan.
Selain ekspor kacang-kacangan, GUNA juga menyiapkan strategi diversifikasi produk. Perseroan tengah membangun pabrik di Pati untuk memproduksi bahan baku buah tropis (fruit puree) dengan target operasi pada Januari 2027.
Produk fruit puree ini ditujukan ke pasar Eropa dan Amerika, yang meskipun tidak memproduksi buah tropis, memiliki permintaan tinggi terhadap jus buah.
Untuk mendukung strategi tersebut, GUNA menggunakan belanja modal atau capital expenditure (Capex) tahun ini. Sekitar 80% capex didanai perbankan, melalui kerja sama dengan CTBC Bank dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Dana itu digunakan untuk memperluas operasi dan membangun kapasitas produksi baru guna mendukung ekspor.
Selain menjual produk secara business to business di lingkup regional, GUNA sudah mengekspor produknya ke 10 negara, yakni Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Hong Kong, Inggris, Australia, Korea, Amerika Serikat dan Kanada.
Selain bisnis organik, perusahaan juga tengah melirik beberapa perusahaan yang dinilai dapat memperkuat bisnis, khususnya di segmen kacang-kacangan. “Kami masih dalam proses penjajakan untuk eksplorasi potensi-potensi yang ada,” ujar Ivan.
Target Pertumbuhan Laba Tahun Ini
Sekretaris Perusahaan GUNA, Widjoyo Prawirohardjo menyampaikan, hingga akhir 2025 perseroan menargetkan pertumbuhan laba bersih 3% dibanding tahun sebelumnya. Dia menyatakan perseroan tidak akan terlalu agresif dalam ekspansi tahun ini, melainkan fokus pada langkah yang lebih terukur. Merujuk laporan tahunan 2024, laba bersih GUNA tercatat Rp 59,80 miliar.
Untuk mencapai target tersebut, strategi yang ditempuh antara lain berinovasi dan mengembangkan produk baru, menjaga kehati-hatian dalam pengelolaan arus kas, memperkuat posisi keuangan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, meningkatkan efisiensi produksi, menambah produktivitas, serta mengadopsi teknologi untuk mempercepat proses produksi.
Hingga semester pertama 2025, GUNA berhasil membukukan laba bersih Rp 28,17 miliar, naik 26,37% dibanding Rp 22,29 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dari sisi pendapatan, GUNA mencatat pertumbuhan 12,91% menjadi Rp 792,09 miliar dari Rp 701,48 miliar secara tahunan (year on year). Sementara itu, beban pokok penjualan juga meningkat menjadi Rp 691,51 miliar dari Rp 622,20 miliar.
Di pasar saham, pada perdagangan sesi pertama pukul 11.37 WIB, harga saham GUNA turun 0,83% atau 2 poin ke level 238. Namun, dalam sepekan terakhir sahamnya masih naik 1,71%, meski sejak awal tahun terkoreksi 21,19%.
