Emiten Adik Prabowo (WIFI) Lolos Tahap Lelang Frekuensi 1,4 GHz, Cek Peluangnya

Nur Hana Putri Nabila
2 Oktober 2025, 12:14
WIFI
ANTARA FOTO/Basri Marzuki/tom.
Pekerja melakukan pemeliharaan jaringan broadband di menara Base Tranceiver Station (BTS) milik sebuah operator telekomunikasi di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (3/2/2023).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Entitas usaha yang terafiliasi dengan adik Presiden Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) melaju ke tahap lelang pengadaan pita frekuensi radio 1,4 GHz untuk layanan akses nirkabel pitalebar atau Broadband Wireless Acces tahun 2025 di Kementerian Komunikasi dan Digital. Berdasarkan pengumuman terbaru WIFI menjadi satu dari tiga perusahaan yang lolos seleskai awal. 

Selain WIFI, dua emiten lain yang juga melaju ke tahap lelang adalah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), hingga PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) lolos seleksi awal dan masuk tahap lelang. Sementara itu,  PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL) dan PT Indosat Tbk (ISAT) menyatakan mundur dari lelang. 

“Sesuai  ketentuan dalam Dokumen Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz untuk Layanan Akses Nirkabel Pitalebar (Broadband Wireless Access) Tahun 2025, maka berdasarkan hasil Evaluasi Administrasi proses Seleksi dilanjutkan ke tahapan lelang harga,” tulis Komdigi dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (2/10).  

Secara struktur, PT Telemedia Komunikasi Pratama anak usaha usaha dari PT Dharma Sinar Semesta (DSS) dengan porsi kepemilikan saham 99,99% yang merupakan anak usaha dari PT Investasi Jaringan Nusantara (IJN) dengan porsi 99,99%. Adapun IJN anak usaha dari PT Jaringan Infra Andalan (JIA) dengan porsi 99,99% dan JIA adalah anak usaha langsung dari PT Solusi Sinergi digital Tbk (WIFI) dengan porsi kepemilikan saham 99,83%.

Masuknya Telemedia Komunikasi Pratama dalam daftar ini menjadi sorotan, mengingat posisi strategisnya sebagai entitas yang dikendalikan oleh WIFI. Dalam penjelasan resmi, manajemen WIFI mengatakan dengan lolosnya anak usaha Surge, persaingan di segmen frekuensi BWA 1,4 GHz yang memiliki lebar pita 80 MHz akan semakin ketat, melibatkan pemain infrastruktur digital dan telekomunikasi besar.

“Keberhasilan Telemedia Komunikasi Pratama sebagai perwakilan dari ekosistem digital Surge (WIFI) untuk melangkah ke tahapan lelang harga ini menggarisbawahi ambisi perusahaan dalam memperluas jangkauan layanan akses nirkabel pitalebar mereka di Indonesia,” ujar manajemen WIFI seperti dikutip Kamis (2/10). 

Sebelumnya, Presiden Direktur WIFI, Yune Marketatmo, mengungkapkan perseroan telah melakukan kajian internal terkait kesiapan dan kesesuaian strategi bisnis. Menurut Yune WIFI menyambut baik lelang di semua regional yang ada dengan modal dan kesiapan ekosistem pendukung yang sangat komprehensif.

"Lelang ini menjadi katalis untuk mempercepat pembangunan internet rakyat terjangkau di seluruh pelosok Indonesia, sejalan dengan transformasi dan inklusi digital pemerintah,” jelas Yune. 

Pada lelang nanti, WIFI akan berhadapan dengan dua perusahaan telkomunikasi besar lainnya yaitu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang merupakan emiten dalam konglomerasi Sinar Mas Group. 

DSSA yang berada di bawah konglomerasi taipan Franky Oesman Widjaja itu masuk lewat PT Eka Mas Republik.  Eka Mas merupakan perusahaan yang dikenal dengan merek MyRepublic yang menyediakan layanan internet fiber optik dan TV berlangganan. 

Tahapan Lelang Frekuensi 1,4 GHz

Komdigi mengatakan tahapan lelang harga akan dimulai pada hari Senin, 13 Oktober 2025 melalui sistem e-Auction. Kemudian peserta lelang dapat menyampaikan sanggahan hasil Evaluasi administrasi dalam bentuk tertulis melalui surat resmi.

Sanggahan yang diajukan harus disertai bukti yang memperkuat sanggahan yang disampaikan secara daring melalui sistem e-Auction paling lambat Jumat, 3 Oktober 2025 Pukul 15.00 WIB. Apabila sanggahan disampaikan melebihi batas waktu dan/atau tidak sesuai dengan ketentuan dalam Dokumen Seleksi Pengguna Pita Frekuensi Radio 1,4 GHz untuk Layanan Akses Nirkabel Pitalebar (Broadband Wireless Access) Tahun 2025, sanggahan dinyatakan tidak diterima.

Sebelumnya Direktur Jenderal Infrastruktur Digital Kemenkomdigi Wayan Toni Supriyanto menjelaskan seleksi pengguna pita frekuensi radio 1,4 GHz diperlukan guna memperluas jangkauan internet tetap dan mendukung pemerataan transformasi digital. Wayan mengatakan penambahan infrastruktur dilakukan untuk meningkatnya kebutuhan konektivitas khususnya di daerah yang belum terlayani secara optimal. 

“Langkah ini tidak hanya membuka ruang bagi penyelenggara jaringan untuk meningkatkan kapasitas dan cakupan layanan, tetapi juga memperluas pilihan akses internet yang lebih terjangkau bagi masyarakat,” ujar Wayan.  Pelaksanaan seleksi dilakukan berdasarkan Keputusan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 337 Tahun 2025. 

Tahapan seleksi dilakukan secara terbuka bagi seluruh penyelenggara telekomunikasi yang telah memiliki izin sesuai persyaratan. Komitmen penyediaan layanan tersebut akan menjadi acuan dalam pengawasan dan evaluasi proyek. Pemerintah memastikan bahwa seluruh tahapan berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik. 

“Fokus kami adalah memastikan pita frekuensi ini dimanfaatkan secara maksimal untuk meningkatkan jangkauan dan kualitas layanan internet berbasis jaringan pita lebar tetap,” ujar Wayan lagi.  

Pita frekuensi 1,4 GHz merupakan frekuensi yang diperuntukan untuk penggelaran jaringan akses nirkabel pita lebar (Broadband Wireless Access), terutama dengan teknologi Time Division Duplex (TDD). Penggunaan pita ini diharapkan memberi fleksibilitas bagi operator dalam menyediakan layanan akses internet berbasis jaringan pita lebar yang berkualitas.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...