Saham Blue Chip Mulai Tancap Gas: Aksi Berburu Asing dan Tanda Ekonomi Membaik?

Nur Hana Putri Nabila
6 November 2025, 13:39
saham, saham blue chip, emiten, asing, investor asing
Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Saham–saham emiten blue chip mulai bangkit. Kinerja emiten di sektor konsumer dan perbankan bahkan perlahan mulai menggeser saham-saham grup konglomerasi yang harganya sudah terbang tinggi dan mulai menunjukkan gejala ambil untung atau profit taking.

Stockbit Sekuritas sempat mencatat bahwa sejak penutupan bursa pada 16 Oktober 2025 hingga 3 November 2025, harga saham emiten-emiten blue chip kian melonjak. Hal itu terefleksi dari menguatnya indeks bergengsi LQ45 sebesar 8% dibandingkan IHSG yang hanya naik 2%. 

Adapun 10 emiten yang mendongkrak indeks LQ45 dalam rentang waktu tersebut, yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Kemudian diikuti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

“Kami melihat kenaikan harga saham–saham blue chip masih dalam fase awal dan berpotensi melanjutkan penguatannya setidaknya hingga akhir 2025, yang didasarkan pada beberapa faktor,” demikian penjelasan Stockbit dalam risetnya, dikutip Kamis (6/11).

Menurut Stockbit, salah satu faktornya adalah kinerja emiten–emiten pada kuartal ketiga 2025 yang secara umum tidak seburuk kinerja pada kuartal kedua. Hal ini melihat dari sudut pandang perbandingan terhadap ekspektasi.

Stockbit Sekuritas melihat jumlah emiten yang mencatatkan kinerja di bawah ekspektasi tak sebanyak pada kuartal kedua 2025.

Tim analis Stockbit juga menilai hal tersebut disebabkan oleh turunnya ekspektasi sejak rilis kinerja kuartal kedua yang relatif lemah. Sebagai contoh,  sejak rilis kinerja kuartal kedua 2025, konsensus telah memangkas estimasi laba bersih full year 2025 untuk perbankan raksasa sekitar 1–10%. 

Adapun dalam earnings call kuartal ketiga 2025, manajemen big banks melihat prospek pertumbuhan yang lebih baik ke depannya dimulai dari kuartal keempat 2025. Hal itu seiring percepatan pertumbuhan kredit dan lanjut turunnya cost of fund

Maka dari itu, Stockbit Sekuritas melihat risiko pemangkasan estimasi kinerja pasca kuartal ketiga 2025 cenderung terbatas dan bahkan berpotensi revisi menjadi naik seiring ekspektasi pemulihan ekonomi. 

Asing Mulai Buru Saham Indonesia 

Stockbit Sekuritas mencatat sepanjang periode 17 Oktober hingga 3 November 2025, IHSG mengalami net foreign inflow sebesar Rp 7,2 triliun di pasar reguler. Selama periode itu, hanya dua dari 12 hari perdagangan yang mencatatkan aliran dana keluar.

Stockbit Sekuritas menilai kenaikan harga saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) masih berada pada fase awal. Dengan membaiknya indikator ekonomi, didukung percepatan belanja pemerintah di akhir tahun serta tren penurunan suku bunga, arus masuk dana asing diperkirakan masih akan berlanjut dan berpotensi mendorong penguatan pasar saham ke depan.

Tanda–tanda Perbaikan Ekonomi

Stockbit Sekuritas menilai sejumlah indikator makro bulanan, seperti pertumbuhan uang beredar, penyaluran kredit, dan data manufaktur  mulai memperlihatkan tanda akselerasi ekonomi.

Pada September 2025, pertumbuhan M2 tercatat meningkat 8% secara tahunan atau year on year (yoy). Angka itu menjadi kenaikan beruntun dalam empat bulan terakhir, sekaligus sinyal pemulihan likuiditas dan aktivitas ekonomi.

“Sementara itu, pertumbuhan kredit pada September 2025 juga meningkat menjadi naik 7,2% yoy, menandai peningkatan pertumbuhan dalam dua bulan beruntun,” kata Stockbit.  

S&P Global  juga mencatat PMI manufaktur Indonesia pada Oktober 2025 naik menjadi 51,2, meningkat dari 50,4 pada bulan sebelumnya. Stockbit menilai kenaikan ini menjadi tanda ekspansi aktivitas manufaktur selama tiga bulan beruntun.

S&P Global menilai, yang menjadi pendorong utama penguatan PMI itu ditopang dari kenaikan permintaan yang bergerak lebih cepat. Sementara itu, dalam paparan kinerja kuartal ketiga 2025, manajemen PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyampaikan bahwa utilisasi fasilitas kredit modal kerja diperkirakan meningkat pada kuartal keempat 2025. 

Proyeksi ini sejalan dengan ekspektasi percepatan aktivitas ekonomi di akhir tahun, sekaligus persiapan musim Lebaran yang akan jatuh pada kuartal pertama 2026.

“Sementara itu, data BCA Business Transaction Index dan BCA Consumer Index mulai mengalami kenaikan pada September 2025,” tulisnya. 

 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...