Profil Superbank dan Jejak Pemilik di Tengah Kabar IPO Jumbo, Intip Kinerjanya
PT Super Bank Indonesia atau Superbank dikabarkan tengah bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia melalui pencatatan saham perdana atau initial publik offering (IPO). Berdasarkan informasi yang dihimpun Katadata.co.id, bank digital ini akan bergulir pada pertengahan November hingga akhir tahun.
Tak hanya itu, IPO Superbank ini disebut-sebut bakalan menjadi IPO bank digital terbesar mengalahkan PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), dan PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK).
Perusahaan disebut akan melepas sekitar 15% saham dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Adapun harga saham yang ditawarkan tidak lebih dari Rp 1.050. Tak hanya itu, berdasarkan dokumen yang beredar menyebutkan bahwa target yang dihimpun dana sebesar Rp 5,36 triliun.
Meski manajemen Superbank menolak berkomentar terkait rencana IPO, namun kabar itu selaras dengan pernyataan yang diungkap oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna. Dalam keterangan terbaru ia menyebut terdapat tiga perusahaan lighthouse yang bersiap listing di BEI akhir tahun. 3 emiten itu berasal dari sektor finansial, tambang dan infrastruktur.
Lighthouse company merupakan perusahaan mercusuar yang ditargetkan bursa untuk IPO setiap tahunnya. Perusahaan tersebut memiliki dua karakteristik, yaitu minimum kapitalisasi pasar sebesar Rp 3 triliun dan realisasi free float minimal 15%.
Lalu bagaimana latar belakang Superbank, pemegang saham, hingga jajaran dewan direksi dan komisarisnya?
Profil Superbank
Berdasarkan laman resmi perusahaan, Superbank sebelumnya dikenal sebagai PT Bank Fama International, merupakan lembaga keuangan yang berdiri di Bandung pada 1993. Selama hampir tiga dekade beroperasi sebagai bank konvensional, perusahaan ini kemudian memulai transformasi besar menuju bank digital.
Transformasi tersebut dimulai pada akhir 2021, Emtek Group resmi menjadi pemegang saham pengendali. Langkah itu diperkuat dengan masuknya Grab dan Singtel pada awal 2022, serta KakaoBank pada 2023, membentuk konsorsium strategis yang memperkuat posisi Superbank di industri perbankan digital.
Lalu pada awal 2023, Bank Fama resmi berganti nama menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta, dengan kantor cabang di Jakarta dan Bandung.
Memasuki tahun 2024, Superbank semakin agresif memperluas jangkauan layanan dengan meluncurkan berbagai produk keuangan digital, seperti Saku by Superbank, Celengan by Superbank, serta produk Deposito dengan bunga kompetitif dan jangka waktu fleksibel mulai dari tujuh hari.
Susunan Direksi dan Komisaris Superbank
Superbank dipimpin oleh Tigor M. Siahaan sebagai Presiden Direktur, Melisa Hendrawati – Direktur Keuangan, Bhavana Balramdas Vatvani sebagai Direktur Operasional, Amalia Pratantara sebagai Direktur Kepatuhan, dan Sukiwan sebagai Direktur Bisnis.
Dewan Komisaris
- Anton Hermanto Gunawan – Presiden Komisaris
- Neneng Goenadi – Komisaris
- Yenny Zannuba Wahid – Komisaris Independen
Direksi
- Tigor M. Siahaan – Presiden Direktur
- Melisa Hendrawati – Direktur Keuangan
- Bhavana Balramdas Vatvani – Direktur Operasional
- Amalia Pratantara – Direktur Kepatuhan
- Sukiwan – Direktur Bisnis
Pemegang Saham
Merujuk situs resmi Superbank, pemegang saham mayoritas perseroan adalah PT Elang Media Visitama dengan kepemilikan 31,11%. Elang Media merupakah salah satu lini bisnis Emtek Group.
Posisi berikutnya ditempati PT Kudo Teknologi Indonesia dengan kepemilikan sebesar 19,16%. Selanjutnya ada GXS Bank Pte. Ltd. sebesar 12% dan A5-DB Holdings Pte. Ltd. sebesar 1,52%.
Bila menilik lebih jauh lagi, struktur kepemilikan saham Super bank yang di update terakhir pada 15 Agustus 2025, Eddy K. Sariaatmadja merupakan pemegang saham pengendali terakhir Superbank dengan kepemilikan sebesar 21,89%. Eddy merupakan pengendali saham EMTK.
Selain Eddy, ada nama Anthony Tan Ping Yeow yang merupakan pendiri Grab. Ia tercatat sebagai pemegang saham pengendali terakhir dengan kepemilkan sebesar 3,7%.
Sementara itu, PT Kudo Teknologi Indonesia adalah perusahaan online-to-offline (O2O) yang diakuisisi Grab pada 2017 dan diubah menjadi GrabKios. GXS Bank merupakan bank digital di Singapura yang dikendalikan Grab Holdings Inc. dan Singtel. Sementara A5-DB Holdings adalah anak usaha Grab Holdings Limited dan Singtel Alpha Investments Pte. Ltd.
Kinerja Keuangan hingga Kuartal III 2025
Di tengah kabar IPO, kinerja Superbank justru mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2025. Hingga kuartal III tahun ini, bank digital tersebut membukukan laba sebelum pajak (PBT) Rp 80,9 miliar, dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih 176% YoY menjadi Rp 1,1 triliun.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan strategi digital-first menjadi motor utama kinerja. Superbank mencatat 5 juta nasabah sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, dengan aktivitas transaksi harian meningkat lebih dari 40% dibanding kuartal sebelumnya.
“Didukung integrasi layanan dengan Grab dan OVO yang tumbuh pesat, kami terus membuktikan pendekatan digital-first mampu menghadirkan pertumbuhan yang sehat dan aman bagi lebih dari 5 juta nasabah kami,” ujar Tigor dalam keterangan resmi.
Sementara itu pertumbuhan nasabah mendorong peningkatan di hampir seluruh indikator utama keuangan. Perusahaan mencatat kredit tumbuh 84% YoY menjadi Rp 9,04 triliun.
Seiring dengan itu aset meningkat 70% YoY menjadi Rp 16,5 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) melonjak 203% YoY menjadi Rp 9,8 triliun. Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) turun tajam dari 149,65% menjadi 70,14%, sedangkan Net Interest Margin (NIM) meningkat ke 10,64%. Rasio kredit bermasalah juga tetap terkendali, dengan NPL gross 2,83% dan NPL net 1,21%.
Sementara itu LDR Superbank stabil di kisaran 92%, menunjukkan struktur yang sehat “Menutup Kuartal III 2025, Superbank terus memperkuat perannya dalam menghadirkan solusi keuangan yang relevan dan mudah diakses,” ujar manajemen Superbank.
