Geliat Saham Tommy Soeharto (HUMI) di Tengah Gencarnya Ekspansi Armada
Harga saham emiten terafiliasi Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) melonjak hingga 164% sepanjang tahun ini atau year to date. Pergerakan saham emiten penyedia jasa persewaan kapal angkutan gas alam cair (LNG) ini didorong oleh serangkaian aksi korporasi. Apa saja?
Salah satu aksi terbarunya adalah penambahan armada melalui anak usahanya PT PCS Internasional (PCSI) yang resmi mengakuisisi kapal LPG Hummingbird. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia.
Penambahan kapal ini bertujuan memperkuat kapasitas logistik energi sekaligus menunjukkan komitmen HUMI terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan. Hummingbird merupakan kapal tanker LPG dengan kapasitas angkut 3.815 Deadweight Tonnage (DWT).
Kapal ini dirancang khusus mengangkut berbagai jenis LPG mix seperti Propane, Butane hingga C4 Raffinate. Armada ini siap melayani rute domestik dan memperkuat rantai pasok energi nasional.
“Bergabungnya Hummingbird sejalan dengan komitmen HUMI terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan dan ramah lingkungan," ujar Direktur Utama HUMI Tirta Hidayat dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Kamis (20/11).
HUMI menargetkan penambahan 10 armada sepanjang 2025 dengan alokasi belanja modal (capex) sebesar US$ 39,57 juta. Dengan masuknya Hummingbird, perseroan telah mengakuisisi delapan kapal hingga November 2025, antara lain Mac Singapore, Marlin 88, Trans Pacific 201, dua unit Self Propelled Hopper Barge (SPHB), Jeneponto 01 dan LNGC Danaputri 1. Total serapan capex HUMI mencapai 134% atau US$ 53,15 juta.
“Penambahan delapan armada dengan serapan CAPEX mencapai 134%, hal ini sejalan dengan strategi ekspansi yang berfokus pada peningkatan produktivitas dan diversifikasi portofolio usaha,” ujar Tirta.
Kinerja Keuangan HUMI
Di tengah aksi ekspansi agresif HUMI, laba bersih perseroan pada sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini turun 11,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi US$ 7,25 juta atau sekitar Rp 121,12 miliar (kurs Rp 16.692 terhadap dolar AS).
Padahal, pendapatan HUMI justru tumbuh dari US$ 91,64 juta menjadi US$ 96,48 juta. Pendapatan perseroan didorong lonjakan pendapatan sewa kapal, terutama pada segmen oil tanker dan LNG tanker.
Pendapatan sewa kapal segmen minyak mencapai US$ 30,55 juta, melonjak 161,56% dari US$ 11,67 juta tahun sebelumnya. Sementara pendapatan sewa kapal LNG naik 21,78% menjadi US$ 28,11 juta pada kuartal ketiga 2025.
Tirta menjelaskan, penurunan laba bersih terjadi karena perseroan sedang fokus pada peningkatan aset produktif.
“Penurunan laba pada kuartal ketiga 2025 dibandingkan kuartal ketiga 2024, merupakan konsekuensi dari strategi ekspansi perusahaan melalui peningkatan aset produktif yang diharapkan meningkatkan kapasitas dan efisiensi di masa mendatang,” ujar dia.
Ke depan, HUMI akan memusatkan perhatian pada kuartal IV 2025 melalui penetrasi pasar di segmen utama, efisiensi biaya, serta percepatan produktivitas aset baru. Perseroan berharap ekspansi armada dan fokus keberlanjutan dapat berkontribusi pada penguatan industri perkapalan Indonesia.
