Harga Saham Naik Ratusan Persen, Ini Rencana Besar Bisnis Emiten Hapsoro (RATU)
Harga saham emiten terafiliasi pengusaha sekaligus suami Ketua DPR Puan Maharani, Happy Hapsoro, PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) telah naik lebih dari 760% sepajang tahun ini. Perusahaan pun berhasil membukukan laba bersih hingga kuartal ketiga tahun ini naik 28% secara tahunan di tengah tekanan harga minyak.
Berdasarkan bahan paparan yang disampaikan perseroan kepada Bursa Efek Indonesia, RATU mencatatkan laba bersih dalam sembilan bulan pertama tahun ini mencapai US$ 11,76 juta atau sekitar Rp 197,10 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu US$ 9,18 juta. Laba naik meski pendapatan turun 13% dari US$ 43,21 jutamenjadi US$ 37,61 juta.
Pendapatan bersihnya itu hanya berasal dari lifting minyak dan gas pihak ketiga. Di sisi lain, beban pokok pendapatan turun lebih besar dari US$ 28 juta menjadi US$ 19,14 juta.
RATU juga mencatatkan jumlah aset sebesar US$ 66,31 juta, liabilitas US$ 20,42 juta, dan ekuitas sebesar US$ 45,89 juta hingga September 2025.
Return on Asset dan Return on Equity (RoA dan RoE) RATU juga menunjukkan tren peningkatan yang konsisten sejak IPO pada kuartal I 2025, didorong oleh pertumbuhan pendapatan yang masing-masing mencapai 17,9% dan 25,8%. Rasio utang atau debt to equity ratio juga terus menurun hingga mencapai 0,20x, menegaskan posisi ekuitas yang semakin kuat serta tingkat leverage yang lebih rendah.
Rencana Besar RATU
Ratu menargetkan tiga fase pengembangan dalam 10 tahun ke depan. Pada fase awal atau 1-3 tahun ke depan, perusahaan akan mengutamakan non-operating investment.
Pada fase ini, Ratu akan mengakuisisi participating interest (PI) pada PSC berskala besar tanpa mengoperasikan aset. Perusahaan berperan sebagai pemegang PI dengan memanfaatkan modal untuk mengamankan kepemilikan strategis di PSC yang signifikan.
Kemudian fase kedua yang akan dilakukan dalam 3-5 tahun ke depan adalah fokus pada operating investment transition. Pada fase ini, RATU akan bertransisi ke investasi operasional dengan mengakuisisi PI pada PSC berproduksi skala lebih kecil dan mulai mengelola serta mengoperasikan aset secara langsung.
Sedangkan pada fase ketiga yang akan dilakukan dalam 5-10 tahun ke depan adalah fokus menjadi perusahaan operating investment. RATU menargetkan ekspansi investasi operasional ke PSC dengan skala produksi yang lebih besar. Langkah ini mencerminkan komitmen perseroan untuk memperkuat kapabilitas operasional dan meningkatkan kontribusinya terhadap portofolio produksi.
Kaji Akuisisi 3 Lapangan Migas Selain Blok Kasuri
Adapun RATU kini tengah menjajaki kemungkinan akuisisi hak partisipasi atau participating interest (PI) blok migas selain Blok Kasuri di Papua Barat.
Direktur Utama Raharja Energi Cepu, Sumantri sebelunya mengatakan tiga kandidat potensial lainnya tersebar di wilayah Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Timur. Hanya saja dirinya mengaku saat ini posisinya masih proses.
“Tapi posisinya masih proses ya, aku tidak mau over promise ke publik,” kata Sumantri ketika dihubungi Katadata.co.id, Kamis (30/10).
Sebelumnya Direktur Utama RAJA, Djauhar Maulidi, menyampaikan bahwa Grup Rukun Raharja saat ini masih berada pada tahap negosiasi dengan sejumlah pihak terkait untuk rencana partisipasi di Blok Kasuri, salah satu blok gas potensial yang dikelola Genting Oil di Papua Barat. Ia menyebut akuisisi Blok Kasuri itu akan rampung akhir tahun ini.
“Pembicaraan dan kajian indikatif telah berjalan, dan diharapkan dalam 1–2 bulan ke depan dapat tercapai kesepakatan awal,” kata Djauhar dalam paparan publik secara virtual pada Selasa (28/10).
Menanggapi rencana itu, Direktur Utama Raharja Energi Cepu, Sumantri, menyampaikan proses akuisisi masih berjalan dan bersifat dinamis. Menurutnya penyelesaian akuisisi bergantung pada kesepakatan komersial dengan pihak terkait serta persetujuan pemerintah.
“Terus terang soal selesainya ini masih sangat dinamis,” ucapnya.
