Babak Baru Grup Sampoerna, Borong Saham Perusahaan Sagu SGRO Senilai Rp 316 M
Grup Sampoerna melalui dua entitas anaknya, Sampoerna Agri Resources Pte. Ltd. (SARPL) dan PT Sampoerna Strategic (PTSS) membeli seluruh saham anak usaha PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) di industri perkebunan sagu, PT National Sago Prima (PTNSP) senilai Rp 316,01 miliar.
Aksi jual beli saham PTNSP tersebut dilakukan satu hari sebelum Grup Sampoerna menjual seluruh sahamnya di SGRO kepada perusahaan Korea Selatan AGPA Pte. Ltd., anak usaha POSCO International Corporation. Dengan dijualnya seluruh saham Grup Sampoerna dalam SGRO, maka keluarga Sampoerna bukan lagi menjadi pengendali SGRO.
Merujuk keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, pada 18 November 2025 SGRO resmi menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat antara dua anak usahanya, PT Sampoerna Bio Fuels (PTSBF) dan PT Sungai Menang (PTSM) sebagai pemegang 100% saham PTNSP kepada Sampoerna Agri Resources Pte. Ltd dan PT Sampoerna Strategic yang bertindak selaku pembeli.
“Direksi perseroan dengan ini mengumumkan bahwa pada 18 November 2025 telah ditandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat oleh PTSBF dan PTSM sebagai pemegang saham PTNSP dengan SARPL dan PTSS,” tulis manajemen SGRO dalam keterangan resmi, Jumat (21/11).
Bila menilik lebih jauh, SARPL dan PTSS merupakan perusahaan di bawah kendali anak bungsu pendiri Grup Sampoerna Putera Sampoerna, yaitu Michael Sampoerna. Saat ini Michael menjabat sebagai CEO PT Sampoerna Strategic, yang dahulu menjadi pengendali SGRO.
SARPL merupakan perusahaan terafiliasi dengan grup Sampoerna. Sebelumnya, perusahaan yang didirikan di Singapura ini berdiri dengan nama Venture Max Resources Pte. Ltd. kemudian berubah menjadi Sampoerna Agri Resources Pte. Ltd. Saat ini, Michael menduduki posisi CEO di SARPL.
Selain itu, Michael juga tercatat menjadi pemegang saham mayoritas PTSS, dengan memiliki sebanyak 99,99% dari total saham PTSS.
Rincian Transaksi
- PTSBF menjual 2,85 juta saham PTNSP atau 99,66% dari modal ditempatkan senilai Rp 314,93 miliar kepada SARPL.
- PTSM menjual 9.800 saham PTNSP atau 0,34% dari modal ditempatkan senilai Rp 1,07 miliar kepada PTSS.
Transaksi tersebut dikategorikan sebagai transaksi afiliasi karena PTSBF dan PTSM merupakan perusahaan terkendali SGRO, sementara SARPL dan PTSS adalah pihak afiliasi pengendali SGRO, sebelum berubah pengendalian ke AGPA. Namun manajemen menyebut transaksi ini tidak terdapat transaksi benturan kepentingan.
PTSBF merupakan perusahaan yang bergerak di bidang konsultasi manajemen. SGRO menjadi pemegang saham mayoritas PTSBF dengan porsi 99,99%, sementara 0,01% sisanya dimiliki oleh PT Sungai Menang.
Sementara itu, PTSM yang juga bergerak di bidang konsultasi manajemen dimiliki SGRO sebesar 99,99%, dengan kepemilikan minoritas 0,01% oleh PT Sungai Rangit.
Adapun perusahaan yang dilepas dalam transaksi ini, PT National Sago Prima (PTNSP) menjalankan usaha hutan tanaman industri (HTI) komoditas sagu dengan area konsesi berlokasi di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. PTNSP merupakan satu-satunya perusahaan industri sagu milik SGRO, usai perseroan melikuidasi PT Nusantara Sago Prima.
Sementara itu, saat SGRO masih berstatus sebagai usaha terkendali Grup Sampoerna, perseroan bersama PTSBF, PTSM, SARPL dan PTSS dikendalikan secara langsung maupun tidak langsung oleh Ultimate Beneficial Owner (UBO) atau pengendali yang sama yaitu pendiri Grup Sampoerna, Putera Sampoerna.
Setelah pengalihan saham PTNSP, laporan keuangan perusahaan tersebut tidak lagi dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan SGRO. Perseroan mencatat transaksi ini sebagai kehilangan pengendalian atas PTNSP.
Alasan Penjualan Saham PTNSP
Manajemen SGRO menjelaskan bahwa divestasi ini merupakan bagian dari restrukturisasi internal untuk meningkatkan efisiensi dan fokus pada bisnis inti kelapa sawit. SGRO memutuskan untuk keluar dari segmen hutan tanaman industri (HTI), termasuk komoditas sagu sebagai bagian dari divestasi bisnis HTI.
Pasalnya, menurut manajemen SGRO, industri sagu masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan teknologi pengolahan hingga biaya logistik yang tinggi akibat rantai pasok bahan baku yang belum efisien.
Dengan berbagai kendala tersebut, PTNSP dinilai belum mampu menunjukkan kinerja keuangan yang positif dan berpotensi membebani kinerja konsolidasian SGRO ke depan. Hal inilah yang menjadi salah satu pertimbangan PTSBF dan PTSM untuk melakukan transaksi divestasi.
“Perseroan memandang perlu untuk melakukan restrukturisasi bisnis yang strategis untuk meningkatkan efisiensi dan fokus pada bisnis kelapa sawit yang dinilai dapat mendukung peningkatan kinerja keuangan konsolidasian,” kata manajemen SGRO.
Setelah transaksi divestasi efektif, SGRO berharap dapat meningkatkan likuiditas dan memperbaiki kinerja keuangan konsolidasian. Dana hasil divestasi rencananya akan dialokasikan ke investasi yang menawarkan tingkat pengembalian lebih tinggi dibandingkan NSP, sehingga pada akhirnya meningkatkan nilai tambah bagi seluruh pemegang saham.
