IPO Superbank (SUPA) Dibayangi Kabar Merger GOTO-Grab, Seberapa Besar Dampaknya?

Nur Hana Putri Nabila
25 November 2025, 15:07
Superbank
Katadata/Hari Widowati
Bank digital hasil kongsi Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) dikabarkan bakal menawarkan sahamnya dalam initial public offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Rencana penggabungan usaha atau merger antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan Grab kian menggeliat. Di tengah kabar merger itu, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) atau dikenal Superbank mengumumkan rencana IPO. 

Meski tak berkaitan secara langsung dengan rencana merger namun Superbank tak bisa dilepaskan dari rencana penggabungan perusahaan transportasi digital itu. Alasannya, Superbank kini juga bermitra dengan sejumlah pemain kunci di industri digital seperti Grab dan OVO. 

Mengacu pada prospektus IPO Superbank, manajemen menyatakan bahwa rencana merger antara Grab dan perusahaan lain berpotensi memengaruhi kegiatan usaha perseroan. Kendati demikian, manajemen Superbank menyebut efek dari aksi korporasi itu terhadap operasional maupun prospek bisnis Superbank saat ini masih belum dapat dipastikan.

Manajemen juga menyoroti apabila rencana merger Grab dan perusahaan lain, dampaknya akan muncul ketidakpastian signifikan terhadap bisnis, operasional dan prospek usaha. Bahkan merger juga bisa berdampak pada kondisi keuangan, dan kinerja perseroan secara keseluruhan.

“Perseroan bergantung pada hubungan Superbank dengan Grab serta integrasi ke dalam aplikasi dan ekosistem Grab sebagai elemen penting dalam akuisisi pelanggan, distribusi produk, dan strategi inovasi,” demikian tertulis dalam prospektus Superbank, Selasa (25/11). 

Manajemen Superbank juga menilai potensi merger antara Grab dan perusahaan lain dapat memengaruhi perjanjian bisnis yang telah berjalan maupun rencana pembaruan kerja sama kedepannya. 

Potensi Dampak Merger

Perseroan menyebut perubahan pada struktur atau pengaturan bisnis dengan Grab berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap strategi akuisisi pelanggan, distribusi, inovasi produk, serta inisiatif yang berkaitan dengan integrasi layanan Superbank di platform Grab. Risiko tersebut terutama dapat muncul selama masa transisi dan proses integrasi pasca-merger antara Grab dan perusahaan lain.

“Apabila potensi merger tersebut terlaksana, perseroan berencana mengambil langkah proaktif untuk mengurangi potensi dampak merugikan terhadap usaha Perseroan,” kata manajemen.  

Adapun untuk memitigasi potensi risiko, Superbank menyatakan akan berkoordinasi dengan manajemen baru dan tim integrasi pasca-merger. Hal itu diperlukan untuk memperoleh kepastian mengenai perubahan dalam perjanjian komersial yang berlaku. 

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan keberlanjutan akses terhadap saluran distribusi yang ada sekaligus membuka peluang dan memperluas kolaborasi di dalam ekosistem. Selain itu, perseroan juga menyampaikan rencana untuk mendiversifikasi kanal akuisisi pelanggan dan kemitraan strategis agar tidak bergantung pada satu ekosistem. 

Superbank menegaskan akan memperkuat kapabilitas internal untuk menjaga stabilitas operasional selama masa transisi, termasuk memastikan layanan tetap berjalan tanpa gangguan dan mempertahankan basis pelanggan yang sudah ada.

“Dan memposisikan Perseroan agar dapat memanfaatkan peluang pertumbuhan baru yang mungkin timbul dari merger tersebut,” ucap manajemen. 

Superbank IPO Incar Dana hingga Rp 3 Triliun

Di samping itu, Superbank dengan kode ticker SUPA bakal melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pencatatan saham perdana atau initial public offering (IPO). Bank digital di bawah grup PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) itu dijadwalkan melantai pada 17 Desember 2025 mendatang.

Dalam IPO ini, Superbank (SUPA) berencana melepas maksimal 4,4 miliar saham baru atau setara 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Setiap saham memiliki nilai nominal Rp 100 dengan harga penawaran di kisaran Rp 525 hingga Rp 695 per saham. 

Dengan demikian, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp 3,06 triliun. Superbank telah menunjuk empat sekuritas untuk mengantarkan proses IPO. Empat sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sucor Sekuritas. 

Adapun rencana usai IPO, sekitar 70% akan digunakan untuk modal kerja dalam rangka penyaluran kredit perusahaan. Kemudian sisanya 30% bakal dialokasikan untuk belanja modal demi mendukung kegiatan usaha.  

Kinerja Keuangan hingga Kuartal Ketiga 2025

Seiring dengan itu, kinerja Superbank justru mencatat lonjakan signifikan sepanjang 2025. Hingga kuartal III tahun ini, bank digital tersebut membukukan laba sebelum pajak (PBT) Rp 80,9 miliar, dengan pertumbuhan pendapatan bunga bersih 176% YoY menjadi Rp 1,1 triliun. 

Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan strategi digital-first menjadi motor utama kinerja. Superbank mencatat 5 juta nasabah sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024, dengan aktivitas transaksi harian meningkat lebih dari 40% dibanding kuartal sebelumnya. 

“Didukung integrasi layanan dengan Grab dan OVO yang tumbuh pesat, kami terus membuktikan pendekatan digital-first mampu menghadirkan pertumbuhan yang sehat dan aman bagi lebih dari 5 juta nasabah kami,” ujar Tigor dalam keterangan resmi. 

Sementara itu pertumbuhan nasabah mendorong peningkatan di hampir seluruh indikator utama keuangan. Perusahaan mencatat kredit tumbuh 84% YoY menjadi Rp 9,04 triliun. Seiring dengan itu aset meningkat 70% YoY menjadi Rp 16,5 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) melonjak 203% YoY menjadi Rp 9,8 triliun. 

Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) turun tajam dari 149,65% menjadi 70,14%, sedangkan Net Interest Margin (NIM) meningkat ke 10,64%. Rasio kredit bermasalah juga tetap terkendali, dengan NPL gross 2,83% dan NPL net 1,21%. Sementara itu LDR Superbank stabil di kisaran 92%, menunjukkan struktur yang sehat 

“Menutup Kuartal III 2025, Superbank terus memperkuat perannya dalam menghadirkan solusi keuangan yang relevan dan mudah diakses,” ujar manajemen Superbank. 

Kinerja solid dan sinergi dengan ekosistem digital besar yaitu Grab, OVO, dan Emtek  menjadi modal utama Superbank jika benar melangkah ke lantai bursa. Integrasi ini memberi keunggulan strategis dalam menjangkau segmen ritel dan underbanked, sekaligus memperluas inklusi keuangan. 

Dengan momentum pertumbuhan yang kuat dan kondisi pasar modal yang mulai stabil, Superbank berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar di sektor finansial 2025, sejalan dengan agenda BEI menghadirkan lighthouse company baru. 

“Kami berkomitmen menghadirkan inovasi digital yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sehingga dapat tumbuh bersama nasabah dan memberikan dampak positif yang lebih luas,” tutur Tigor.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...