Harga Emas Hari Ini Naik Lagi, Analis Prediksi Reli Berlanjut hingga Akhir 2026

Ira Guslina Sufa
7 Januari 2026, 08:01
Harga Emas Hari ini 12 September 2025
Unsplash
Harga Emas Hari ini 12 September 2025
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga emas spot naik sekitar 1,1% diperdagangkan di atas $4.495 per ons pada perdagangan Selasa (6/1). Emas mencapai $4.496,34 per ons pada pukul 16.52 di New York dan perak naik 6,2% menjadi $81,31 per ons. 

Di dalam negeri, merujuk data perdagangan hari ini, harga emas yang dikutip dari laman resmi Sahabat Pegadaian menunjukkan dua produk buatan Galeri24 dan UBS kompak mencatatkan lonjakan signifikan. 

‎Harga jual emas Galeri24 melonjak dari awalnya Rp 2.556.000 per gram menjadi Rp 2.582.000 per gram, atau naik Rp 16.000. Sedangkan harga emas UBS turut mengalami kenaikan ke angka Rp 2.638.000, dari semula Rp 2.612.000 per gram atau naik Rp 26.000.

Kenaikan salah satunya dipicu oleh penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro oleh AS yang menyuntikkan ketidakpastian geopolitik baru ke pasar. Selain itu kenaikan harga emas juga ditopang perhatian investor yang beralih ke sejumlah data ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini termasuk laporan pekerjaan Desember yang akan dirilis Jumat (9/1). 

Merujuk situasi terkini, indikator aktivitas manufaktur lebih lemah dari yang diharapkan memperkuat harapan penurunan suku bunga. Situasi ini justru berpotensi meningkatkan harga emas batangan yang tidak berbunga.

Sejumlah analis menilai eskalasi di Venezuela memberikan dorongan jangka pendek pada permintaan emas sebagai aset safe-haven. Meski begitu dampaknya diyakini masih terbatas. 

Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memprediksi tahun ini harganya dapat mencapai US$ 5.400 sampai US$ 5.700 per ons. Hal ini didukung oleh berbagai faktor, seperti permintaan bank sentral, investor, institusi hingga bank. 

“Selain itu kondisi geopolitik yang meningkat juga diperkirakan mempercepat kenaikan harga emas,” kata Lukman saat dihubungi Katadata.co.id, seperti dikutip Rabu (7/1)

Meski harga naik, menurut Lukman, produksi emas dunia tidak akan jauh berbeda jumlahnya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2026 jumlah emas yang ada di dunia mencapai 5 ribu ton, berasal dari hasil penambangan 3.700 ton dan daur ulang emas 1.300 ton.

“Semua produksi emas akan terserap karena angka permintaannya masih lebih tinggi dari pasokan,” ujarnya. 

Di tengah tensi geopolitik dan permintaan emas yang masih kuat, potensi kenaikan harga emas dinilai bisa terjadi hingga akhir 2026. 

Rekor Harga Emas 

Pada 2025 lalu, emas baru saja mencatatkan kinerja tahunan terbaiknya sejak 1979 dan mencapai rekor dengan dukungan dari pembelian bank sentral dan arus masuk ke dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) yang didukung emas batangan. Tiga pemotongan suku bunga berturut-turut oleh Fed juga menjadi pendorong bagi logam mulia yang tidak memberikan bunga.

Merujuk neraca perdagangan global, harga emas batangan mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar $4.549,92 per ons pada Jumat (26/12) lalu. Beberapa bank terkemuka memperkirakan kenaikan lebih lanjut tahun ini. 

Bank Raksasa asal Amerika Serikat Goldman Sachs beberapa waktu lalu memprediksi harga emas akan naik 14% menjadi US$ 4.900 per ons pada Desember 2026. Mereka memperkirakan adanya permintaan emas yang tinggi dari bank sentral sehingga bisa mengangkat harga komoditas safe haven ini.

Namun, dalam jangka pendek, ada kekhawatiran bahwa penyeimbangan ulang indeks komoditas secara luas dapat menekan harga. Reli emas dan perak yang memecahkan rekor dapat mendorong dana sejumlah entitas menjual beberapa kontrak agar sesuai dengan bobot baru.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...