Ini Respons Krom Bank (BBSI) dan Bank Amar (AMAR) soal Titah OJK agar Naik Kelas
PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) buka suara merespons dorongan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar seluruh bank Kelompok Berdasarkan Modal Inti (KBMI) I alias bank mini dihapuskan dan segera naik kelas. Kedua bank tersebut membutuhkan hampir dua kali modal inti saat ini agar bisa naik kelas ke KBMI II.
Dorongan tersebut sebelumnya disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae. Menurut Dian, penguatan bank-bank KBMI I perlu dilakukan secara terarah dan stabil agar industri perbankan menjadi lebih sehat dan berdaya saing. Adapun KBMI I adalah kelompok bank yang memiliki modal inti Rp 3 triliun - Rp 6 triliun. Sementara itu KBMI II memiliki modal inti Rp 6 triliun - 14 triliun.
Direktur Kepatuhan Amar Bank, Thio Sucy mengatakan, hingga saat ini perseroan belum dapat menyebutkan ke publik jenis aksi korporasi apa yang akan dilakukan perseroan untuk menambah modal inti, agar dapat memenuhi imbauan OJK agar segera naik kelas.
Dia menjelaskan, fokus perseroan saat ini antara lain menjaga kinerja keuangan yang sehat, memperkuat fundamental bisnis dan permodalan dan memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan dan prudent.
“Saat ini belum terdapat keputusan atau aksi korporasi yang dapat kami sampaikan ke publik terkait rencana penambahan modal khusus sehubungan dengan dorongan naik kelas dari OJK,” kata Sucy kepada Katadata.co.id, Senin (26/1).
Jika melihat laporan kinerja keuangan AMAR pada kuartal ketiga 2025, bank yang 75,25% sahamnya dimiliki oleh Tolaram Grup ini membutuhkan penambahan modal hampir dua kali lipat dari modal perusahaan saat ini untuk dapat naik ke KBMI II.
Saat ini, AMAR memiliki modal inti utama sejumlah Rp 3,33 triliun. Perseroan memiliki modal tambahan sebesar Rp 31,46 miliar sehingga total modal yang dipegang perseroan saat ini bernilai Rp 3,36 triliun.
AMAR mencatatkan laba bersih sebesar Rp 174,64 miliar hingga periode 30 September 2025. Torehan tersebut naik 14,69% dibandingkan laba bersih perseroan pada periode yang di 2024, yaitu sebesar Rp 152,26 miliar.
Pendapatan bunga perseroan juga tercatat naik menjadi Rp 1,05 triliun dari Rp 887,62 miliar secara tahunan atau year on year (yoy). Adapun total aset Bank Amar tercatat sebesar Rp 5,47 triliun, naik 17,36% secara tahunan.
Sementara Presiden Direktur Krom Bank, Anton Hermawan mengatakan, perseroan juga belum menyiapkan langkah korporasi khusus untuk naik kelas. Kendati demikian, Krom Bank telah melakukan penjajakan awal atau sounding terkait kemungkinan tersebut.
Ketika ditanya peluang konsolidasi, termasuk opsi merger dengan entitas lain untuk memenuhi ketentuan modal inti KBMI II, Anton menyatakan langkah tersebut tetap terbuka. “Terkait konsolidasi tersebut masih memungkinkan,” kata Anton kepada Katadata.co.id.
Ia menjelaskan, Krom Bank secara berkelanjutan mengkaji peluang kolaborasi dan sinergi strategis, baik dengan pelaku industri perbankan maupun pihak lain dalam ekosistem keuangan dan digital. Kajian ini mencakup upaya memperluas ragam produk dan layanan, memperbesar basis nasabah, serta mempercepat pencapaian skala bisnis yang berkelanjutan.
“Kami telah menjalankan berbagai strategi seperti kolaborasi dan sinergi bisnis kolaborasi dengan mitra strategis di sektor teknologi finansial (fintech), e-commerce, dan lembaga keuangan lain dalam rangka memperluas jangkauan layanan dan memperkuat portofolio produk, khususnya pada segmen kredit digital dan loan channeling,” ujarnya.
Selain itu, Krom Bank juga terus memperkuat permodalan dan meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi proses, optimalisasi struktur biaya, serta pemanfaatan sinergi antarunit usaha. Anton menyebutkan, setiap potensi konsolidasi maupun kolaborasi akan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku, termasuk ketentuan OJK terkait pengendalian, kepemilikan, integrasi sistem, dan tata kelola.
Merujuk laporan keuangan BBSI, perseroan tercatat memiliki modal tier 1 sebesar Rp 3,31 triliun dan modal tier 2 senilai Rp 72,20 miliar. Sehingga, setelah dijumlahkan total modal BBSI sebesar Rp 3,39 triliun. Masih jauh untuk dapat memenuhi syarat naik ke KBMI II.
Landasan OJK Dorong Bank Mini Naik Kelas
Dian mengatakan, OJK memandang penguatan bank-bank KBMI I sebagai bagian dari agenda strategis yang perlu ditempuh secara terarah dan stabil.
“Langkah ini dipandang penting terutama mempertimbangkan dinamika perkembangan teknologi informasi, akselerasi digitalisasi perbankan, ketidakpastian kondisi ekonomi global, serta meningkatnya risiko serangan siber,” ujar Dian dalam pernyataan resmi seperti dikutip Kamis (22/1).
Dian menjelaskan, OJK memandang perlu mendorong pertumbuhan bank yang lebih berkelanjutan. Menurut OJK, bank di KBMI I masih memiliki ruang untuk memperkuat permodalan dan meningkatkan skala usaha melalui langkah penguatan, baik secara organik maupun anorganik.
“Imbauan untuk penguatan fundamental dan konsolidasi telah kami sampaikan kepada bank-bank yang berada dalam kategori KBMI I pada akhir Oktober 2025,” ujar Dian.
Dia menuturkan, saat ini OJK mengimbau setiap bank KBMI I untuk melakukan evaluasi menyeluruh dan berkelanjutan atas kinerja bisnis, permodalan, kualitas aset, tata kelola, model bisnis, dan prospek jangka panjang. Bank juga diminta mengidentifikasi opsi penguatan modal dan peluang konsolidasi yang sesuai karakteristik masing-masing bank.
Selain itu, pendekatan anorganik melalui konsolidasi diperlukan untuk dapat menjadi dorongan terhadap kinerja bank yang dinilai mengalami stagnasi. OJK mendorong konsolidasi dan aksi korporasi secara natural dan sukarela berdasarkan kajian bisnis yang sehat.
“Setiap rencana penguatan akan dinilai secara case by case untuk memperhatikan kepatuhan terhadap regulasi, prinsip kehati-hatian, dan aspek pelindungan nasabah,” kata Dian.
