PTPP Ungkap Rencana Divestasi hingga Arah Merger dengan Adhi Karya (ADHI)
Manajemen emiten pelat merah sektor konstruksi yaitu PT PP Tbk (PTPP) membeberkan langkah-langkah restrukturisasi perseroan di tengah rencana penggabungan usaha atau merger BUMN Karya. Upaya tersebut mulai dari divestasi aset hingga penyehatan kinerja keuangan.
Direktur Utama PTPP Novel Arsyad proses merger sedang berjalan dan sudah melalui tahap diskusi. Dia mengatakan proses merger akan ditentukan oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara, apakah dilakukan sebelum atau setelah restrukturisasi. Namun, dia berharap merger dilakukan setelah kondisi keuangan perusahaan benar-benar sehat.
“Kalau kami melihat, mestinya lebih mengarah restrukturisasi terlebih dahulu dengan perusahaan itu benar-benar sehat, sehingga akan dilakukannya merger,” ujar Novel dalam acara PTPP 2026 Earnings Call, Selasa (7/4).
Ia menjelaskan, saat ini PTPP tengah menjalani tahapan restrukturisasi sebelum menuju proses merger. Pihaknya diminta melakukan evaluasi sembari menunggu tahapan lanjutan dari Danantara.
Novel mengungkapkan, diskusi peleburan PTPP sejauh ini dilakukan bersama PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Kedua perusahaan diminta melakukan evaluasi mendalam terhadap kondisi masing-masing.
Bakal Divestasi Beberapa Aset Termasuk Menara BSI
Berbicara soal divestasi, Direktur Manajemen Risiko dan Legal Tommy Wiranata Anwar menyampaikan, perseroan saat ini tengah menjalankan proses divestasi sejumlah aset.
Ia menyebut beberapa lahan yang dimiliki perusahaan sedang dalam tahap divestasi, sementara sebagian lainnya dikembangkan melalui kerja sama dengan mitra strategis untuk meningkatkan nilai tambah.
Salah satu contohnya adalah aset Bepro di Semarang yang tengah dikembangkan bersama pengembang swasta. Selain itu, terdapat aset di Bandung yang sebelumnya tidak jadi dikembangkan dan kini tengah ditawarkan kepada investor untuk dioptimalkan.
Sementara itu, Novel menjelaskan, langkah divestasi menjadi bagian penting dalam penyehatan kinerja perseroan. Menurut dia, PTPP juga melakukan perampingan (streamlining) anak usaha melalui divestasi yang saat ini sedang berjalan. Beberapa aset yang masuk dalam rencana tersebut antara lain Menara BSI, PP Infrastruktur, serta entitas anak lainnya seperti LMA.
“Karena ini yang bisa menjadi buffer kita juga dalam proses berjalan menuju restrukturisasi,” kata dia.
Kontrak Baru 2026 PTPP
Selain itu, Novel juga memastikan bahwa PTPP tetap menjalankan beberapa proyek ke depan. Perseroan menargetkan pencapaian nilai kontrak di 2026 sebesar Rp 22 triliun. Hingga April, perseroan telah mengantongi nilai kontrak sebesar Rp 4,5 triliun.
Agar piutang-piutang yang menumpuk di 2025 tidak terulang, Novel mengatakan perseroan akan lebih selektif memilik kontrak. Dia akan melihat kapasitas dan kompetensi PTPP terhadap kontrak tersebut, terutama proyek berbasis anggaran pemerintah (APBN), BUMN,serta proyek swasta.
Adapun dia menyatakan PTPP masih memperoleh dan menjalankan proyek kontraktor sektor pertambangan. Sejumlah proyek saat ini berada dalam tahap tender maupun penjajakan.
Meski demikian, perseroan menegaskan tetap fokus pada bisnis inti sebagai kontraktor konstruksi, bukan pada aktivitas tambang.
“Dari sisi konstruksinya, kami tetap berada di area tersebut, bukan di area tambangnya,” ujar Novel.
PTPP juga mengedepankan pengelolaan risiko dengan memilih proyek yang memiliki arus kas (cash flow) yang baik. Langkah ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan yang sehat pada 2026.
Selain itu, peluang proyek engineering, procurement and construction (EPC) juga dinilai cukup besar. Sejumlah tender dari sektor energi, termasuk proyek-proyek dari PLN sedang diikuti perseroan.
Dari sisi profil pelanggan, Novel menyebut mayoritas proyek PTPP masih berasal dari pemerintah dan BUMN. Ia memperkirakan sekitar 30%–40% proyek berasal dari anggaran pemerintah (APBN), sementara porsi BUMN juga berada di kisaran persentase yang sama. Sisanya berasal dari sektor swasta.
