Laba Bersih BNBR Jeblok Meski Pendapatan Naik 19% Jadi Rp 1,3 T, Apa Faktornya?
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan pendapatan mencapai Rp 1,3 triliun, naik 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, kinerja laba bersih perusahaan anjlok dari Rp 60,36 miliar menjadi Rp 14,36 miliar pada kuartal I 2026.
BNBR mampu membukukan EBITDA senilai Rp 296,44 miliar, melonjak sebesar 252% dibandingkan kuartal I 2025. Perseroan juga menorehkan kenaikan laba usaha mencapai 240% dari Rp 62,33 miliar menjadi Rp211,96 miliar.
Lantas mengapa laba bersih perusahaan justru anjlok hingga 73%?
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan, kinerja laba bersih terbebani oleh bunga pinjaman yang melonjak dari Rp 6,62 miliar pada kuartal I 2026 menjadi Rp 228,26 miliar.
Beban ini menyebabkan laba bersih perusahaan pada kuartal I 2026 anjlok 73% menjadi Rp 14,36 miliar.
Meski bunga pinjaman melonjak, sebenarnya tak ada kenaikan yang signfikan pada pinjaman perusahaan pada kuartal I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. BNBR mencatatkan pinjaman jangka panjang naik dari Rp 14,56 triliun menjadi Rp 14,74 triliun, sedangkan pinjaman jangka pendek turun dari Rp 1,87 triliun menjadi Rp 1,84 triliun.
Adapun total liabilitas perusahaan naik dari Rp 18,89 triliun menjadi Rp 19,36 triliun.
Di Balik Kenaikan Pendapatan BNBR
Direktur Utama & CEO PT Bakrie & Brothers Tbk (“BNBR”) Anindya Novyan Bakrie mengatakan, perusahaan terus konsisten menunjukkan kinerja keuangan positif pada tiga bulan pertama tahun ini di tengah gejolak global. Kenaikan pendapatan perusahaan yang mencapai 19% secara tahunan, terutama disumbangkan oleh pendapatan PT Cimanggis Cibitung Tollways (“CCT”) sebesar Rp 232,76 miliar.
Selain itu, kenaikan pendapatan juga berasal dari PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (“VKTR”) Group sebesar Rp 126,9 miliar.
“Kenaikan laba usaha juga ditopang oleh kontribusi CCT sebesar Rp128,6 miliar atau 77% dari total laba usaha BNBR konsolidasi,” kata Anin.
Direktur Keuangan BNBR Roy Hendrajanto M. Sakti menjelaskan, PT Bakrie Indo Infrastructure (“BIIN”) Group juga menunjukkan kenaikan pendapatan yang signifikan mencapai 274,6% atau Rp 207,6 miliar, yang terutama berasal dari pendapatan CCT. Kenaikan pendapatan BIIN Group juga ditopang oleh peningkatan pendapatan PT Helio Synar Energi sebesar 35,1% atau Rp 1 miliar.
Unit usaha PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (“VKTR”) Group membukukan kenaikan pendapatan sebesar 58,2% atau Rp126,9 miliar. Kenaikan pendapatan ini ditopang oleh kenaikan pendapatan VKTR holding sebesar Rp 114,8 miliar atau 9510,0% dan PT VKTR Sakti Industries )VKTS) sebesar Rp88,0 miliar atau 854,5%.
“PT Bakrie Autoparts Group juga mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar Rp13 miliar atau 6,3% karena adanya pertumbuhan permintaan komponen otomotif,” kata Roy.
Di sisi lain, menurut Roy, sejumlah unit bisnis mengalami penurunan pendapatan, antara lain PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group. “Namun, kami optimis, ke depan akan ada kenaikan pendapatan di sektor pipa dan EPC untuk oil & gas ini seiring dengan upcoming project yang akan masuk dalam semester I 2026 ini,” terangnya
