Raksasa Petrokimia Milik Prajogo Chandra Asri (TPIA) Cabut Status Force Majeure

Nur Hana Putri Nabila
5 Mei 2026, 15:24
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperoleh status Objek Vital Nasional Bidang Industri atau OVNI untuk Pabrik Petrokimia yang berlokasi di Ciwandan, Banten.
Katadata
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) memperoleh status Objek Vital Nasional Bidang Industri atau OVNI untuk Pabrik Petrokimia yang berlokasi di Ciwandan, Banten.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten konglomerat Prajogo Pangestu PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) resmi mencabut status force majeure yang sebelumnya diberlakukan pada pasokan polimer. Direktur Human Resources dan Corporate Affairs Chandra Asri Group, Suryandi, menjelaskan pencabutan status force majeure menjadi langkah penting demi memastikan keandalan pasokan bagi sektor industri nasional. 

Ia pun menegaskan perusahaan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan bahan baku bagi industri domestik. Seiring kondisi operasional yang semakin stabil, perseroan kini berfokus memperkuat kapasitas produksi hingga menjaga kesinambungan pasokan demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

“Oleh karena itu, kami mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga pasokan tetap andal dan mendukung pertumbuhan industri nasional,” kata Suryandi dalam keterangannya, Selasa (5/5). 

Tak hanya itu, TPIA juga memperkuat kesinambungan pasokan dengan memanfaatkan dukungan monomer dan etilena dari fasilitas grup di Singapura. Sinergi ini menunjukkan kekuatan model bisnis terintegrasi Chandra Asri Group dalam menjaga ketahanan rantai pasok, meningkatkan fleksibilitas operasional, dan merespons kebutuhan pasar secara cepat dan efisien.

Manajemen TPIA menjelaskan pencabutan status force majeure merupakan hasil dari langkah strategis perusahaan untuk menjaga kelangsungan produksi di tengah tekanan rantai pasok global. Selama periode krisis, perseroan secara proaktif mengamankan sumber bahan baku alternatif dari berbagai pasar internasional.

Selain itu, TPIA juga mengoptimalkan fasilitas kilang di Singapura dan memperluas pengadaan dari Amerika Serikat (AS) demi memastikan kebutuhan pelanggan domestik tetap terpenuhi. Langkah itu diambil di tengah tantangan logistik dan kenaikan biaya.

Pengiriman bahan baku dari Amerika Serikat (AS) memakan waktu sekitar 50–70 hari, lebih lama dibandingkan pasokan dari Timur Tengah yang hanya 15–20 hari. Adapun harga nafta dari Amerika Serikat juga lebih tinggi sekitar US$ 150–200 per metrik ton dibandingkan pasokan dari kawasan tersebut.

Ke depannya TPIA memprioritaskan produksi etilena dari fasilitas olefin cracker untuk kebutuhan internal pabrik polimer. Aksi ini demi mengoptimalkan produksi polipropilena (PP) dan polietilena (PE) sebagai bahan baku utama bagi berbagai sektor strategis, mulai dari kemasan, otomotif, konstruksi, logistik, kesehatan, hingga barang konsumsi.

Mengacu pada informasi di situs perusahaan, Chandra Asri memiliki kilang dengan kapasitas sekitar 237.000 barel per hari serta fasilitas cracker naphtha berkapasitas sekitar 0,9 juta metrik ton per tahun.

Sebelumnya perusahaan petrokimia Indonesia itu menyatakan force majeure usai terganggunya pengiriman bahan baku melalui Selat Hormuz menyusul pecahnya konflik dengan Iran. Perusahaan milik konglomerat RI Prajogo Pangestu itu menyampaikan pemberitahuan kepada pelanggan pada 2 Maret terkait gangguan tersebut. 

Mengutip Bloomberg, dalam pemberitahuan itu disebutkan durasi force majeure masih belum dapat dipastikan. Manajemen Chandra Asri juga menyatakan tengah memantau perkembangan situasi antara Amerika Serikat dan Iran. TPIA juga telah menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk menjaga ketahanan operasional di seluruh unit bisnis. 

“Sebagai bagian dari langkah-langkah ini, kami akan menyesuaikan tingkat operasional (run rates) di pabrik-pabrik kami,” ucap manajemen TPIA dikutip Bloomberg, Rabu (4/3). 

Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat mengganggu arus pengiriman minyak di Selat Hormuz. Sejak serangan terjadi di kawasan tersebut, jumlah kapal tanker yang melintas dilaporkan turun signifikan. Padahal, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur pelayaran sempit tersebut.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...