Perjalanan Dua Dekade Pancasakti di Bisnis Kimia, Bersiap untuk IPO
Fokus dan konsisten menjadi kata kunci di balik perjalanan PT Pancasakti Putra Kencana. Sejak berdiri pada 2006, perusahaan ini tidak pernah keluar dari bisnis kimia.
Bermula dari bisnis perdagangan bahan kimia pada 2006, Pancasakti kini berkembang menjadi bisnis usaha kimia dengan jaringan di enam kota besar Indonesia. Di antaranya Jakarta, Surabaya, Semarang, Medan, Bandung sampai dengan Makassar.
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Pancasakti Putra Kencana, Suwandy Tasmadi, tidak memiliki latar belakang pendidikan kimia saat memutuskan terjun ke industri tersebut.
Lulusan Universitas Bina Nusantara atau Binus jurusan komputerisasi akuntansi itu mengawali kariernya dengan bekerja di sejumlah perusahaan kimia lokal maupun multinasional pada awal 2000-an.
Berbekal pengalaman tersebut, ia kemudian mendirikan Pancasakti Putra Kencana bersama adiknya dan beberapa anggota tim yang masih bertahan hingga saat ini.
Suwandy mengatakan pilihannya menekuni bisnis kimia berangkat dari keyakinan bahwa industri tersebut akan selalu dibutuhkan selama manusia masih hidup. Menurutnya, bahan kimia digunakan hampir di seluruh aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari produk perawatan tubuh, kosmetik, parfum, pakaian, hingga berbagai kebutuhan industri.
“Jadi kimia ini adalah sebuah industri yang berkaitan dengan kehidupan manusia dan bisnis ini akan berlangsung selama manusia masih hidup. So, bisnis ini adalah bisnis yang sangat menjanjikan selama kita fokus,” Suwandy ketika ditemui Katadata di kantornya, Serpong, Kamis (11/6).
Seiring perkembangan bisnis, Pancasakti Putra Kencana memperluas usahanya melalui sejumlah anak perusahaan yang bergerak di berbagai segmen industri kimia.
Saat ini, grup tersebut memiliki empat entitas usaha, yakni PT Smart Lab Indonesia yang menyediakan solusi untuk kebutuhan laboratorium dan pengendalian kualitas (quality control).
Lalu PT Anugrah Putra Kencana yang bergerak sebagai importir dan penyedia stok bahan kimia industri dan laboratorium, PT Pancasakti Mitra Prima yang fokus pada bahan kimia industri dan pangan, hingga PT Anugrah Prakarsa Raharja yang juga berperan sebagai importir dan pemasok bahan kimia industri maupun laboratorium. Saat ini pabrik terbesar ada di Surabaya, ia berencana untuk menambah dua anak usaha lagi kedepannya.
Pertumbuhan Bisnis Pancasakti
Suwandy mengatakan bisnis Pancasakti terus mencatat pertumbuhan sejak berdiri pada 2006. Ia mengklaim rata-rata pertumbuhan perusahaan mencapai hampir 300% setiap tahun. Menurutnya, torehan tersebut diraih di tengah ketatnya persaingan industri kimia yang dihuni banyak pelaku usaha, baik skala besar maupun kecil.
Salah satu kunci pertumbuhan tersebut adalah konsistensi perusahaan untuk tetap fokus di industri kimia selama 20 tahun terakhir. Alih-alih melakukan diversifikasi ke sektor lain, Pancasakti memilih memperluas pasar dan menangkap peluang bisnis yang masih berkaitan dengan kimia.
Ia mengatakan fokus itu membantu perusahaan membangun jaringan yang kuat dengan pelanggan, pemasok dalam dan luar negeri, perbankan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
“Di dalam perusahaan kami, lebih fokus itu adalah kimia untuk industri. Jadi industri itu bisa, yang paling besar itu saat ini adalah industri untuk B50, B45, biodiesel. Yang kita suplai untuk ke Pertamina, untuk jual di pom bensin,” kata Suwandy.
Suwandy mengatakan Pancasakti saat ini tidak hanya memasok bahan kimia untuk industri biodiesel, tetapi juga untuk industri cat, thinner, dan poliuretan yang digunakan dalam pembuatan matras, spring bed, hingga material insulasi. Selain itu, perusahaan juga mengembangkan bisnis bahan kimia proanalisis yang digunakan untuk kebutuhan pengujian dan kontrol kualitas di berbagai sektor industri.
Menurutnya, bahan kimia proanalisis digunakan oleh berbagai industri, mulai dari pertambangan, makanan dan minuman, farmasi, laboratorium pengujian, hingga petrokimia.
"Selama memiliki laboratorium QC, mereka pasti membutuhkan bahan kimia untuk analisa," kata Suwandy.
Ia mengklaim Pancasakti menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang memproduksi bahan kimia proanalisis. Namun ia pun mengaku sekitar 60% kebutuhan masih dipenuhi melalui impor, sementara sisanya berasal dari produksi dalam negeri.
Meski begitu Suwandy juga mengatakan total pertumbuhan perusahaan sejak berdiri pada 2006 hingga 2026 mencapai sekitar 6.000%. Menurut dia, capaian tersebut setara dengan rata-rata pertumbuhan hampir 300% per tahun. Kinerja tersebut ditopang oleh persiapan bisnis, perencanaan, strategi yang matang, fundamental perusahaan yang kuat, serta dukungan jaringan.
Meski demikian, ia mengakui bisnis kimia memiliki tantangan tersendiri, terutama kebutuhan modal yang besar. Menurut Suwandy, industri kimia merupakan sektor yang padat modal sehingga membutuhkan investasi yang tidak sedikit untuk terus berkembang.
“Apalagi sekarang setelah 20 tahun modal Rp 100 miliar itu menurut bisnis kami itu adalah masih usaha kecil. Jadi usaha kecil dan menengah itu masih di angka Rp 100 miliar,” ucapnya.
Tantangan Bisnis Pancasakti
Suwandy mengatakan tantangan lain dalam bisnis kimia yakni regulasi. Menurutnya, sebagian besar produk kimia masih diproduksi di luar negeri sehingga perusahaan harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Kondisi itu membuat pelaku usaha harus memenuhi berbagai persyaratan dan regulasi yang mengatur kegiatan impor. Selain itu, bisnis kimia juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar AS karena transaksi dilakukan menggunakan mata uang tersebut.
Pengalaman selama hampir 20 tahun beroperasi menjadi modal penting bagi perusahaan dalam menghadapi berbagai gejolak ekonomi. Menurutnya, Pancasakti telah melewati sejumlah periode penuh tantangan, mulai dari krisis keuangan global 2008, gejolak ekonomi pada 2018, pandemi Covid-19 pada 2020, hingga ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung saat ini.
Ia mengatakan tantangan itu membuat perusahaan memiliki pengalaman yang lebih baik dalam mengelola risiko bisnis, termasuk risiko yang berasal dari fluktuasi nilai tukar.
Demi mengantisipasi pergerakan kurs, perusahaan juga memanfaatkan berbagai instrumen pengelolaan risiko seperti fasilitas kredit, forward selling, forward buying, hingga fasilitas lindung nilai (hedging).
Pancasakti Run
Pancasakti Grup menargetkan menggelar penawaran umum perdana saham (IPO) pada 2029. Sebagai langkah awal perusahaan menuju rencana IPO, perusahaan menyelenggarakan lomba lari Pancasakti Run 2026.
Lomba lari dengan tema "The Journey to Going Public Begins" akan berlangsung pada 19 Juli 2026 di QBig BSD City, Tangerang.
Pancasakti Run 2026 telah memperoleh sertifikat pengukuran rute dari Association of International Marathons and Distance Races (AIMS). Sertifikasi tersebut menunjukkan rute lomba telah memenuhi standar pengukuran internasional.
Pada penyelenggaraan tahun ini, panitia menambahkan kategori Half Marathon selain kategori 10 kilometer dan 5,5 kilometer yang telah tersedia sebelumnya. Sebanyak 5.000 peserta ditargetkan mengikuti ajang tersebut.
Suwandy mengatakan ajang ini juga menjadi bagian dari upaya membangun reputasi, memperkuat kepercayaan publik, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan sebagai fondasi menuju perusahaan terbuka.

