Valuasi IPO JELI Dinilai Kemahalan? Begini Kata Analis

Karunia Putri
17 Juni 2026, 17:39
IPO
Katadata/AI
Ilustrasi IPO Inaco (JELI).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bakal kedatangan emiten baru dari sektor konsumer nonsiklikal. Kali ini, PT Niramas Utama Tbk akan mencatatkan saham perdananya alias initial public offering (IPO) dengan kode emiten JELI pada 7 Juli mendatang.

Dalam aksi korporasi tersebut, JELI menawarkan sebanyak-banyaknya 350 juta saham baru atau setara 25,93% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Perseroan menetapkan kisaran harga penawaran Rp 900-Rp 1.120 per saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham. Dengan rentang harga tersebut, perusahaan berpotensi menghimpun dana maksimal sekitar Rp 392 miliar.

Meski jadwal penawaran umum baru akan berlangsung pada 1-3 Juli, valuasi IPO JELI sudah menjadi perbincangan di kalangan investor. Di berbagai media sosial, pelaku pasar menyampaikan harga saham yang ditawarkan cukup mahal dibandingkan emiten sejenis.

Analis Korea Investment Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian mengatakan, rentang harga IPO JELI mencerminkan valuasi premium. Berdasarkan perhitungannya, harga tersebut setara dengan price earning ratio (PER) sebesar 31,1 kali hingga 38,7 kali.

Valuasi itu lebih tinggi dibandingkan IPO PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang saat melantai di BEI pada 25 Maret 2025. Kala itu, IPO YUPI diperdagangkan dengan PER sekitar 27 kali hingga 33 kali.

YUPI sendiri menawarkan saham perdananya di harga Rp 2.390 per saham. Pada perdagangan sesi pertama Selasa (17/6/2025), harga sahamnya langsung turun ke level Rp 1.480 per saham.

Meskipun secara fundamental valuasi IPO JELI tergolong premium, Azharys menilai saham tersebut tetap berpotensi menarik minat investor. Menurut dia, perilaku pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir mulai bergeser.

"Investor tidak lagi sekadar terpaku pada murah-mahalnya harga di awal, melainkan jauh lebih meminati dan memanfaatkan listing momentum untuk mencari keuntungan," ujar Azharys kepada Katadata, Selasa (17/6).

JELI adalah produsen olahan kelapa dan serat alami asal Indonesia yang telah berdiri sejak 1990. Perseroan dikenal melalui produk unggulannya, seperti Nata de Coco, I’m Coco, dan Jelly Drink, yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan produk pangan yang aman dan bernutrisi.

Operasional perusahaan didukung fasilitas manufaktur berstandar internasional serta jaringan distribusi yang mencakup 251 titik di Indonesia. Selain pasar domestik, JELI juga telah menembus sejumlah pasar ekspor, antara lain Jepang, India, Cina, Thailand, Australia, Kanada, dan Amerika Serikat.

Demi mendukung pertumbuhan jangka panjang, perusahaan terus berinovasi melalui pengembangan produk berbahan alami seperti aloe vera dan konnyaku. JELI juga berkomitmen memperkuat riset dan pengembangan serta memperluas jangkauan pasar ke Afrika dan Eropa pada 2026 guna mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.

Melalui aksi korporasi ini, perusahaan berpotensi menghimpun dana maksimal sebesar Rp 392 miliar. Perusahaan juga telah menunjuk Sucor Sekuritas menjadi penjamin pelaksana emisi efek. 

Apabila melihat historinya, Sucor Sekuritas sudah menjadi penjamin pelaksana emisi efek beberapa emiten seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) hingga PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA). 

GOTO melantai di BEI pada 11 April 2022 dengan menghimpun dana Rp 13,7 triliun yang saat itu menjadi IPO terbesar ketiga dalam sejarah pasar modal Indonesia. Saham GOTO dibuka melonjak 18,34% ke level Rp 400 dari harga penawaran Rp 338 per saham saat IPO. Penawaran saham perdana GOTO juga tercatat mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe hingga 15 kali untuk porsi investor ritel.

Sementara itu, RATU resmi melantai di BEI pada 8 Januari 2025 dengan harga IPO Rp 1.150 per saham atau batas atas kisaran bookbuilding Rp 900-Rp 1.150. Pada hari pertama perdagangan, saham RATU langsung menyentuh auto reject atas (ARA) setelah melonjak 24,78% ke level Rp 1.435 per saham.

Minat investor terhadap IPO RATU juga sangat tinggi. Penawaran umum tersebut tercatat oversubscribe hingga 313,15 kali, dengan jumlah pemesan mencapai 139.899 investor ritel dan 6.291 investor nonritel.

Adapun MBMA mencatatkan saham perdana di BEI pada 18 April 2023 dengan harga IPO Rp 795 per saham. Perusahaan melepas 11,54 miliar saham baru dan berhasil menghimpun dana sekitar Rp 9,2 triliun.

Pada hari pertama perdagangan, saham MBMA naik 13,21% ke level Rp 900 per saham. Selama masa penawaran umum, permintaan investor juga sangat tinggi dengan tingkat oversubscribe mencapai 19,9 kali. Tingginya minat tersebut mendorong perusahaan menerbitkan tambahan hampir 550 juta saham baru melalui mekanisme penjatahan.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...