Membandingkan Prospek IPO JELI, PRDL, EMMI, JECK dan BACH, Siapa Paling Menarik?
Aksi penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) kembali menyemarakkan lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Lima calon perusahaan tercatat akan debut di pasar modal Indonesia pada 7-9 Juli 2026.
Kelima perusahaan itu adalah produsen cemilan merek dagang Inaco PT Niramas Utama Tbk (JELI), serta tiga perusahaan di sektor kesehatan yaitu PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI) dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX). Terakhir ada PT Bach Multi Global Tbk (BACH) menjadi salah satu calon emiten yang menawarkan saham terbesar.
JELI akan menjadi emiten kedua yang mencatatkan saham publiknya di bursa setelah sebelumnya PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) yang melakukan IPO pada 10 April lalu. Setelah sekitar tiga bulan kering IPO, kini aksi besar yang dinantikan investor itu kembali.
Penting bagi investor untuk mencermati perusahaan yang akan IPO sebelum memutuskan untuk membeli sahamnya. Analis Panin Sekuritas Elandry Pratama memberikan pandangannya terkait emiten yang akan mencatatkan saham di bursa.
JELI menawarkan saham perdana pada kisaran harga Rp 900-Rp 1.120 per saham dengan nilai nominal Rp 100. Perseroan melepas sekitar 350 juta saham sehingga berpotensi menghimpun dana hingga sekitar Rp 392 miliar.
Menurut Elandry, JELI merupakan emiten sektor konsumer dengan prospek pertumbuhan menengah (mid-growth consumer play). Namun, valuasinya dinilai telah mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang cukup tinggi.
"Pricing JELI sudah cukup growth priced-in karena ekspektasi pertumbuhan sudah cukup tinggi sejak awal," ujarnya kepada Katadata, Senin (22/6).
Sementara itu, PRDL menawarkan harga IPO di kisaran Rp 100-Rp 120 per saham dengan nilai nominal Rp 50. Perseroan melepas sekitar 522,9 juta saham dengan target dana IPO sekitar Rp 62,7 miliar.
Menurut Elandry, kapitalisasi pasar PRDL relatif lebih kecil dibanding emiten lain yang akan IPO. Hal itu membuat valuasinya lebih konservatif dan masih berada pada tahap awal pertumbuhan (early-stage growth).
"Sehingga masih menyisakan ruang rerating jika kinerja eksekusi sesuai ekspektasi," kata dia.
Adapun EMMI menawarkan saham di kisaran Rp 446-Rp 515 per saham dengan nilai nominal Rp 50. Jumlah saham yang dilepas mencapai sekitar 522,8 juta lembar sehingga nilai IPO diperkirakan berada pada kisaran Rp 233 miliar hingga Rp 269 miliar.
Elandry menilai EMMI masuk kategori IPO berkapitalisasi menengah-kecil (mid-small IPO) dengan valuasi yang cukup moderat. Harga sahamnya tidak tergolong murah, tetapi juga belum dapat dikatakan mahal.
Melihat risiko dan potensi imbal hasil yang didapatkan dari masing-masing emiten, Elandry menilai PRDL menjadi pilihan paling menarik karena masih memiliki peluang kenaikan valuasi yang lebih besar.
Sementara itu, JELI dinilai lebih mengandalkan likuiditas perdagangan dan sentimen pasar setelah IPO. Adapun EMMI diperkirakan menawarkan prospek yang lebih stabil, meski potensi pertumbuhannya tidak seagresif dua emiten lainnya.
Selanjutya BACH akan menawarkan sebanyak 615 juta saham atau setara 15,06% modal setelah IPO. Perusahaan yang terafiliasi Grup Djarum itu menawarkan saham pada kisaran harga Rp400-Rp500 per saham.
Dengan rentang harga tersebut, BACH diperkirakan memiliki valuasi price to earnings (P/E) ratio sebesar 10,5 hingga 13,1 kali dan price to book value (P/BV) 2,1 hingga 2,4 kali.
Hal penting dari 5 IPO Calon Emiten di BEI Juli 2026
| Perusahaan | Kode Ticker | Harga Saham | Tanggal Pemesanan | Tanggal Listing | Sektor | Target Dana IPO | Estimasi Kapitalisasi Pasar | UW |
| PT Niramas Utama Tbk | JELI | Rp 900-1.120 | 15-22 Juni 2026 | 7 Juli 2026 | Konsumer bukan siklikal | Rp 392 miliar | Rp 151 triliun | Sucor Sekuritas |
| PT Prodia Diagnostic Line Tbk | PRDL | Rp 100-120 | 18-23 Juni 2026 | 9 Juli 2026 | Kesehatan | Rp 63 miliar | Rp 209 miliar | Sucor Sekuritas |
| PT Esa Medika Mandiri Tbk | EMMI | Rp 446-515 | 22-24 Juni 2026 | 8 Juli 2026 | Kesehatan | Rp 269 miliar | Rp 897 miliar | BRI Danareksa Sekuritas dan INA Sekuritas Indonesia |
| PT Nitrasanata Dharma Tbk | JECX | Rp 1.200-1.400 | 22-24 Juni 2026 | 7 Juli 2026 | Kesehatan | Rp 683 miliar | Rp 4,55 triliun | Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk |
| PT Bach Multi Global Tbk | BACH | Rp400-500 | 22 - 24 Juni 2026 | 7 Juli 2026 | Infrastruktur telekomunikasi | Rp 307,5 miliar | Rp1,633-2,042 triliun | PT Erdikha Elit Sekuritas |
(Sumber: Samuel Sekuritas Indonesia)
Cek Valuasi 5 Calon Emiten IPO di BEI
Mengenai valuasi masing-masing meiten, BRI Danareksa Sekuritas memandang, JELI memiliki bebeapa daya tarik. Perusahaan merupakan pemimpin pasar selama lebih dari 35 tahun di segmen makanan penutup berbasis kelapa melalui merek Inaco.
Dari sisi kinerja, laba bersih JELI melonjak 235% sepanjang 2025 yang didorong oleh perbaikan margin usaha. Selain itu, sekitar 69,4% dana hasil IPO akan digunakan untuk belanja modal produktif, bukan untuk melunasi utang.
JELI juga memiliki jaringan distribusi yang luas dengan 251 titik distribusi di dalam negeri serta telah mengekspor produk ke tujuh negara. Menurut analisis BRI Danareksa, status sebagai emiten syariah dinilai dapat mmperluas basis investor. Di sisi hulu, JELI juga memperkuat rantai pasok melalui akuisisi PT Supra Natami Utama pada 2025 guna menjamin ketersediaan bahan baku.
Namun, BRI Danareksa mengingatkan investor untuk mencermati sejumlah risiko. Seperti pendapatan JELI yang tercatat menurun selama dua tahun berturut-turut sehingga pertumbuhan volume penjualan dinilai belum sepenuhnya terbukti. Arus kas operasional juga turun 83% akibat meningkatnya piutang usaha yang mencapai Rp 174 miliar.
Selain itu, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) masih berada di level 2,79 kali dan perseroan belum memiliki rekam jejak pembagian dividen. Dari sisi valuasi, saham JELI diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (P/E) indikatif 31-39 kali yang dinilai relatif premium.
Sementara itu, BRI Danareksa menilai IPO EMMI perlu dicermati. Perseroan berencana menggunakan dana hasil IPO sekitar Rp 50 miliar untuk melunasi sebagian pinjaman kepada Bank Ina Perdana yang memiliki bunga 10,5% per tahun.
Selain itu, sekitar 11,8% dana IPO akan dialokasikan untuk belanja modal untuk pembangunan pabrik baru di Cikupa dengan nilai maksimal Rp30,25 miliar yang ditargetkan rampung pada kuartal keemapt tahun depan. Sementara sekitar 68,7% dana lainnya akan digunakan sebagai modal kerja, terutama untuk pembelian persediaan alat kesehatan.
Pada kisaran harga IPO EMMI, valuasi perushaaan ini diperkirakan berada pada price to earnings ratio (PER) 22,8-26,3 kali dan price to book value (PBV) 5,8-6,6 kali. Dengan valuasi tersebut, kapitalisasi pasar perseroan diperkirakan mencapai sekitar Rp 898 miliar.
Untuk PRDL, BRI Danareksa melihat perusahaan menawarkan valuasi yang paling menarik untuk sektor kesehatan yang sedang tumbuh.
Pada harga IPO yang ditawarkan, saham PRDL diperdagangkan dengan PER sekitar 10,3-12,3 kali dan PBV 1,3-1,4 kali.
Dari sisi penggunaan dana, sekitar 62,6% hasil IPO atau sekitar Rp 35,7 miliar akan digunakan untuk melunasi pokok pinjaman bank. Selanjutnya, sekitar 28,9% akan dialokasikan untuk belanja modal, meliputi pembelian mesin produksi, peralatan kalibrasi, kendaraan operasional, perangkat lunak, penataan ulang area produksi serta penambahan sistem air handling unit (AHU) untuk laboratorium biomolekuler.
Sisa dana sekitar 8,5% akan digunakan sebagai modal kerja guna mendukung operasional perseroan.
Untuk BACH kapitalisasi pasarnya setelah IPO diperkirakan berada di kisaran Rp1,63 triliun hingga Rp2,04 triliun. Dari sisi kinerja, Bach Multi Global mencatat pertumbuhan pendapatan (revenue growth) sebesar 40% pada tahun buku 2025. Sementara laba bersihnya melonjak 98% dibandingkan periode sebelumnya.
