Manajemen Ungkap Kabar Terbaru soal Rencana IPO Anak Usaha DEWA Gayo Mineral
Manajemen PT Darma Henwa Tbk (DEWA) buka suara mengenai kabar PT Gayo Resources Mineral (GMR) yang akan melaksanakan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). GMR adalah anak usaha DEWA di bisnis tambang emas dan tembaga yang berbasis di Aceh.
Direktur DEWA Ricardo Silaen mengatakan, GMR saat ini masih berada pada tahap penyelesaian eksplorasi. Setelah proses tersebut rampung, perseroan akan mulai mencari pendanaan (fundraising) untuk mendukung pengembangan proyek.
Meski IPO menjadi salah satu opsi, Ricardo menyatakan hingga kini belum ada jadwal pasti pelaksanaannya. "Untuk IPO belum ada timeline yang fixed," kata Ricardo kepada Katadata.co.id, Kamis (6/8).
GMR merupakan anak usaha DEWA yang 99,75% sahamnya dimiliki langsung oleh perseroan. Saat ini, perusahaan tersebut belum memasuki tahap operasi komersial.
Sebelumnya, Ricardo menyampaikan bahwa DEWA tengah menyiapkan pengembangan GMR sebagai proyek jangka menengah hingga panjang. Menurut dia, kebutuhan pendanaan untuk ekspansi dan monetisasi aset membuat IPO menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan.
"Salah satu metode untuk mengembangkan perusahaan adalah melalui funding. Untuk monetisasi, tentu saja IPO menjadi salah satu opsi yang sedang kami pertimbangkan," ujar Ricardo dalam siaran YouTube Samuel Sekuritas bertajuk Prospek DEWA hingga IPO Anak Usaha, dikutip pada Jumat (10/4).
Ricardo menjelaskan, GMR memiliki izin usaha pertambangan (IUP) eksplorasi seluas sekitar 34.550 hektare. Perseroan telah melakukan pengeboran di sejumlah titik prioritas, salah satunya di kawasan Tengkereng Atas.
Berdasarkan hasil eksplorasi tersebut, DEWA telah melakukan penilaian aset oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP). Nilai bruto (gross valuation) GMR diperkirakan mencapai sekitar Rp 7 triliun. Setelah dikurangi biaya akuisisi, liabilitas, dan penyesuaian aset lainnya, perseroan membukukan negative goodwill sekitar Rp 4,5 triliun.
Direktur sekaligus Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, juga pernah menyampaikan bahwa pengembangan GMR menuju tahap komersial membutuhkan investasi yang besar sehingga perseroan mempertimbangkan berbagai sumber pendanaan eksternal.
Kendati demikian, ia menegaskan GMR masih berada pada tahap eksplorasi. Rencana pengembangan menuju produksi komersial masih menjadi strategi jangka panjang yang terus dikaji, termasuk terkait besaran investasi dan sumber pendanaannya.
"Salah satu opsi yang dipertimbangkan dalam sumber pendanaan adalah penawaran umum perdana (IPO) saham, sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku," tulis Mukson dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip Senin (20/4).
Mukson menambahkan, IPO bukan satu-satunya opsi yang sedang dipertimbangkan. Perseroan juga mengkaji berbagai alternatif pendanaan lain. Hingga saat ini, belum ada keputusan maupun langkah konkret terkait pelaksanaan IPO GMR, termasuk target waktunya.
DEWA Perluas Bisnis Bangun 3 Anak Usaha Baru
Di sisi lain, DEWA mulai memperluas portofolio bisnis di luar usaha utamanya sebagai kontraktor pertambangan. Perseroan membentuk tiga anak usaha baru yang akan bergerak di bidang kelistrikan, infrastruktur kepelabuhanan, serta pariwisata dan perhotelan.
Ketiga entitas tersebut adalah PT DH Listrik, PT DH Infrastruktur, dan PT DH Arunika Hospitality. Langkah ini menjadi bagian dari strategi diversifikasi untuk menciptakan sumber pendapatan baru di luar bisnis kontraktor pertambangan batu bara dan mineral.
"Langkah ini diharapkan dapat mendukung keberlangsungan usaha (going concern) perseroan dalam jangka panjang dengan menciptakan sumber pendapatan baru, serta memperluas peluang dalam memperoleh proyek-proyek baru di masa mendatang," tulis manajemen DEWA dalam keterbukaan informasi BEI yang dikutip Senin (20/7).
PT DH Listrik akan bergerak di bidang pembangkitan dan penyediaan tenaga listrik beserta kegiatan penunjangnya. Perusahaan ini dimiliki PT DH Investindo sebesar 99,9% dan PT Cipta Multi Prima sebesar 0,1%.
Sementara itu, PT DH Infrastruktur akan menjalankan usaha di bidang pelayanan kepelabuhanan, pergudangan, angkutan laut barang, serta jasa transportasi perairan dan darat. Struktur kepemilikan perusahaan ini sama dengan DH Listrik.
Adapun PT DH Arunika Hospitality akan mengembangkan bisnis pariwisata dan perhotelan, termasuk jasa pengelolaan hotel, penyediaan makanan dan minuman, jasa kebersihan, konsultasi manajemen, hingga penyediaan tenaga kerja. Anak usaha ini dimiliki langsung oleh DEWA sebesar 99,9% dan PT Cipta Multi Prima sebesar 0,1%.
