Bos DCII Ungkap Sederet PR Indonesia Wujudkan Cita-Cita jadi Hub AI Asia
Pemerintah bercita-cita membawa Indonesia menjadi pemain ekonomi digital terkemuka di dunia pada 2040 hingga menjadi pusat inovasi (hub) AI atau kecerdasan buatan di kawasan Asia. Namun, bos emiten pusat data PT DCI Indonesia Tbk (DCII), Otto Toto Sugiri, melihat Indonesia masih memiliki banyak PR alias pekerjaan rumah.
Dia menuturkan, beberapa PR yang mesti dituntaskan negeri ini mulai dari segi infrastruktur, sumber daya manusia (SDM), investasi, hingga kemudahan berbisnis. “Kita harus mencari cara untuk memungkinkan AI berkembang dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi negara agar semakin kompetitif,” kata Toto dalam sesi diskusi di acara BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis (27/8).
Dia mengatakan, Indonesia semestinya sudah fokus memanfaatkan AI. Salah satunya yaitu untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, alih-alih berlomba membangun model AI sendiri.
Tak hanya itu, dia mengatakan pengembangan AI juga membutuhkan dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia. Indonesia masih perlu memperkuat infrastruktur sekaligus mengarahkan pendidikan dan kompetensi generasi muda ke bidang yang memiliki nilai tambah lebih tinggi. Salah satunya dengan mendorong pemanfaatan AI di sektor manufaktur dan industri lainnya.
Dia juga melihat Indonesia menghadapi dilema dalam menciptakan lapangan kerja. Industri tetap perlu membuka banyak pekerjaan namun generasi muda juga perlu didorong untuk menciptakan pekerjaan dengan nilai tambah lebih tinggi melalui pemanfaatan teknologi.
“Selain itu, kita juga harus kembali menghidupkan sektor investasi untuk ekonomi baru. Menurut saya, ini juga menjadi salah satu prioritas utama, di samping pembangunan infrastruktur itu sendiri,” kata Toto.
Di samping itu, kolaborasi antara pemerintah dan industri mesti fokus pada masalah listrik dan air jika ingin mengembangkan data center. Untuk mengamankan ketersediaan listrik, Toto menilai sumber energi hijau bisa menjadi penopang ke depan kala stok batu bara semakin menipis.
Modal Indonesia Jadi AI Hub
Di balik berbagai tantangan tersebut di atas, Toto menilai Indonesia memiliki sejumlah modal untuk menjadi pusat infrastruktur AI dan cloud di kawasan Asia Tenggara. Salah satunya adalah pasar domestik yang besar. “Pertama, dari sisi pasar, Indonesia merupakan pasar terbesar di Asia Tenggara. Kita adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia,” katanya.
Selain pasar, ketersediaan listrik dan energi juga menjadi keunggulan Indonesia. Infrastruktur AI dan data center membutuhkan listrik dalam jumlah besar. Sementara Indonesia memiliki sumber energi yang melimpah.
Indonesia juga memiliki sumber daya air yang dibutuhkan dalam pengoperasian data center. Menurut Toto, faktor tersebut menjadi semakin penting ketika sejumlah negara mulai menghadapi keterbatasan listrik dan air akibat pertumbuhan data center.
“Ini menjadi salah satu faktor yang membuat Indonesia memiliki keunggulan kompetitif untuk mengembangkan data center dalam skala besar dan setidaknya menjadi hub regional,” ujarnya.
Harga listrik juga menjadi salah satu keunggulan Indonesia karena relatif murah dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Toto mengatakan, lonjakan permintaan data center di Asia Tenggara dan Asia Pasifik dalam dua hingga tiga tahun terakhir turut dipengaruhi kondisi geopolitik. Persaingan Amerika Serikat dan Cina, termasuk pembatasan akses perusahaan Cina terhadap GPU berperforma tinggi, mendorong sebagian kebutuhan komputasi AI bergeser ke Asia Tenggara.
“Kami mulai melihat lonjakan permintaan terhadap kapasitas data center,” ungkapnya.
Untuk Indonesia, Toto memperkirakan kapasitas data center yang saat ini sekitar 400 megawatt (MW) dapat melampaui 1,4 gigawatt (GW) pada akhir 2027 jika seluruh permintaan yang telah dikontrak terealisasi.
Pertumbuhan tersebut diperkirakan masih berlanjut seiring meningkatnya kebutuhan kapasitas data center di Indonesia. Perusahaan besar seperti ByteDance juga mulai masuk ke pasar Indonesia.
Meskipun begitu, Toto mengingatkan permintaan yang didorong faktor geopolitik bisa bersifat sementara. Karena itu, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan kebutuhan pelatihan AI.
Menurut dia, kebutuhan inferensi AI di Indonesia justru memiliki prospek jangka panjang karena ditopang jumlah penduduk yang besar.
Data Centrer Tak Boleh Berebut Air dan Listrik dengan Masyarakat
Dalam penggunaannya, AI banyak menyerap listrik dan air. Seiring dengan itu, pengusaha perusahaan pusat data ini mengatakan pembangunan infrastrukturnya perlu disebar ke berbagai wilayah Indonesia. Surabaya, misalnya, dapat menjadi hub data center kedua setelah Jakarta karena memiliki konektivitas menuju wilayah Indonesia bagian timur.
Namun, pembangunan data center juga harus memperhatikan ketersediaan sumber daya bagi masyarakat. Toto mengingatkan Indonesia perlu belajar dari Amerika Serikat dan Eropa, di mana masyarakat mulai memprotes pembangunan data center karena konsumsi air dan listrik yang besar.
“Data center tidak boleh mengambil air dan listrik yang dibutuhkan masyarakat,” katanya.
Karena itu, data center berkapasitas besar sebaiknya dibangun di kawasan industri yang telah memiliki sistem pengolahan air sendiri dan tidak bergantung pada sumber daya kawasan permukiman.
Menurut Toto, kebutuhan tersebut akan menjadi tantangan bagi pembangunan data center ketika kapasitas yang dibutuhkan semakin besar. Ia menilai pembangunan pusat data tidak seharusnya terkonsentrasi di Jawa. Wilayah seperti Bintan dan Batam dapat menjadi alternatif karena memiliki lahan luas dan sumber air yang memadai.
Untuk mewujudkan ambisi Indonesia menjadi pusat AI dan ekonomi digital, Toto menilai pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat kolaborasi, terutama dalam penyediaan listrik dan air. Ia menilai salah satu pekerjaan rumah terbesar Indonesia tetap berkaitan dengan kemudahan berbisnis.
