Babak Baru Raksasa Tambang Emas–Tembaga Amman Mineral (AMMN) dari Tanah Sumbawa
PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) kini memasuki babak baru. Setelah menuntaskan Fase 7, AMMAN memasuki cadangan lebih besar dan bijih dengan kadar mineral lebih tinggi di Tambang Batu Hijau.
Di Fase 8 AMMAN menggenggam cadangan sekitar 460 juta ton sekaligus memperpanjang usia tambang di tanah Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga 2030. Transisi menuju Fase 8 sudah dimulai sejak 2021. AMMAN lebih dulu mengupas batuan penutup, membuka jalan menuju lapisan bijih dengan kandungan tembaga dan emas dengan grade yang lebih berkualitas.
Torehan itu mulai terlihat pada kuartal pertama 2026. Volume bijih segar yang ditambang melesat dari hanya 1 juta ton menjadi 38 juta ton. Kualitas bijih ikut membaik: kadar tembaga naik dari 0,31% menjadi 0,53% dan kadar emas meningkat dari 0,17 gram menjadi 0,54 gram per ton.
Peningkatan kadar itu kemudian mengalir ke produksi. Konsentrat yang dihasilkan melonjak 110% menjadi 167.792 metrik ton kering. Kandungan tembaganya naik 173% menjadi 101 juta pon, sementara emas melesat 321% menjadi 136.115 ons.
"Kami mengawali tahun 2026 dengan eksekusi yang kuat dan kinerja operasional yang solid di seluruh lini bisnis. Dari sisi pertambangan, produksi konsentrat mencapai 167.792 metrik ton kering, didukung oleh peningkatan jumlah bijih segar yang ditambang serta perbaikan kadar bijih," ujar Direktur Utama AMMAN, Arief Sidarto seperti dikutip Kamis (3/9).
Peralihan ke Fase 8 seiring dengan rampungnya smelter. AMMAN menghasilkan 27.670 ton katoda tembaga dan 66.209 ons emas murni. Dua proyek tersebut memperkuat rantai operasi AMMAN dari penambangan di hulu hingga pengolahan dan pemurnian mineral di hilir.
Game Changer Produksi Batu Hijau
Memasuki usia satu dekade, AMMAN membuka jalan peningkatan produksi hingga 2030. Presiden Direktur Amman Mineral Nusa Tenggara, Rachmat Makkasau mengatakan produksi katoda tembaga diperkirakan mencapai 162.662 ton pada 2026.
Torehan itu melonjak hampir dua kali lipat menjadi 310.256 ton pada 2027. Produksi emas diproyeksikan naik dari 16,1 ton menjadi 28,67 ton, hingga perak naik dari 45,4 ton menjadi 82,4 ton.
“Dalam 3 tahun ke depan terdapat peningkatan produksi, dikarenakan mulai akan lebih banyak mengambil ore,” kata Rachmat dalam RDP Komisi XII DPR RI di Jakarta, Selasa (14/7).
AMMAN pun menargetkan produksi konsentrat Tambang Batu Hijau mencapai 900 ribu dry metric ton (dmt) sepanjang 2026. Lalu kandungan tembaga 485 juta pon atau sekitar 220 ribu ton, hingga kandungan emas mencapai 579 ribu ons.
Demi mengoptimalkan pengolahan di Batu Hijau, AMMAN memanfaatkan Artificial Intelligence Dashboard Automation (AIDA) yang meningkatkan perolehan mineral sekitar 2,5%.
Dengan berbagai terobosan yang dilakukan AMMAN pun membalikkan dari rugi menjadi laba hingga kuartal I 2026. Perseroan membukukan laba bersih US$ 160,16 juta atau sekitar Rp 2,84 triliun (asumsi kurs Rp 17.757 per dolar AS).
Torehan itu berbalik dari periode yang sama 2025 ketika AMMAN rugi bersih US$ 138,76 juta atau Rp 2,46 triliun. Lalu penjualan AMMAN melonjak 385 kali lipat menjadi US$ 807,91 juta atau sekitar Rp 14,35 triliun, dari hanya US$ 2,1 juta atau sekitar Rp 37,29 miliar.
Penjualan itu ditopang katoda tembaga sebesar US$ 391 juta atau sekitar Rp 6,94 triliun, emas murni US$ 82 juta atau sekitar Rp 1,46 triliun, hingga konsentrat US$ 334 juta atau sekitar Rp 5,93 triliun. Torehan itu seiring terbukanya penjualan konsentrat dan proses ramp-up smelter yang kini stabil.
Elang, Raksasa di Balik Masa Depan AMMAN
Namun, cerita pertumbuhan AMMAN tak berhenti di Batu Hijau. AMMAN tengah menyiapkan sumber pertumbuhan berikutnya dengan mempercepat eksplorasi di Cebakan Elang demi memperpanjang umur tambang atau life of mine di Tanah Sumbawa.
Blok Elang memiliki cadangan bijih sekitar 2,52 miliar ton, dengan kadar tembaga 0,32% dan emas 0,33 gram per ton, dan mengandung 17,78 miliar pon tembaga dan 26,44 juta ons emas. Cadangan Elang mencapai sekitar hampir 4 kali lipat cadangan Batu Hijau.
Besarnya potensi Elang juga tercermin dari klasifikasi United States Geological Survey (USGS). Deposit yang ditemukan pada 1991 itu masuk kategori Super Giant Cu-Au Porphyry. Sekaligus menjadi salah satu sumber daya tembaga dan emas terbesar di dunia yang belum dikembangkan. Gabungan cadangan Batu Hijau dan Elang pun mencapai sekitar 20 juta ton.
VP Corporate Communications AMMAN, Kartika Octaviana mengatakan aksi penambangan di Cebakan Elang direncanakan setelah usia tambang Batu Hijau selesai hingga 2046.
“Peningkatan cadangan berpotensi mendorong produksi dan memperpanjang umur tambang secara signifikan, tidak hanya berdampak positif bagi bisnis, namun juga memperkuat kontribusi terhadap industri pertambangan, perekonomian daerah dan nasional,” ujar Kartika.
AMMAN juga tengah memperluas pabrik konsentrator untuk meningkatkan kapasitas pengolahan bijih lebih dari dua kali lipat menjadi sekitar 85 juta ton per tahun.
Smelter dan Babak Baru Hilirisasi
AMMAN tengah memperkuat rantai bisnis di sisi hilir agar mineral yang ditambang tak berhenti sebagai konsentrat.
Babak baru itu dimulai lewat investasi besar-besaran dengan membangun smelter tembaga dan Precious Metals Refinery (PMR). AMMAN menggelontorkan investasi US$ 1,462 miliar atau sekitar Rp 25,97 triliun.
Bos AMNT menyebut smelter itu bahkan telah mencapai kapasitas maksimum terhitung mulai Juni 2026.
Diketahui AMMAN menggunakan Double Flash Cyclone Technology untuk proses copper smelting, converting, and casting. Teknologi itu menggabungkan flash smelting dan flash converting furnaces dari Yanggu Xiangguang.
“Teknologi yang dipakai mirip dengan teknologi di PT Freeport,” ucap Rachmat.
Smelter AMMAN memiliki kapasitas input tahunan hingga 900.000 metrik ton konsentrat tembaga yang berasal dari Tambang Batu Hijau dan nantinya Elang. Dari konsentrat itu, menghasilkan katoda tembaga LME Grade A hingga 220.000 ton dan asam sulfat hingga 830.000 ton per tahun.
Sementara fasilitas PMR mampu mengolah sekitar 970 ton lumpur anoda per tahun. AMMAN dapat menghasilkan sekitar 579 ribu ons emas murni, 1,8 juta ons perak murni, dan 77 ton selenium per tahun.
Adapun hilirisasi mineral AMMAN dinilai ikut menggerakkan ekonomi dari Sumbawa Barat hingga nasional. Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI Uka Wikarya mengatakan, aktivitas AMMAN menciptakan efek berganda ke berbagai sektor. Sepanjang 2018–2024, kontribusinya terhadap PDB mencapai Rp 173,4 triliun.
Beroperasinya smelter sekaligus kenaikan produksi dari Batu Hijau dan Blok Elang menjadi mesin yang akan menentukan laju kinerja AMMAN ke depan.
Senior Investment Analyst Stockbit Sekuritas Andrian Tanuwijaya dan Investment Analyst Theodorus Melvin memperkirakan laba bersih AMMN melonjak lebih dari empat kali lipat, dari US$ 249 juta pada 2025 menjadi US$ 1,01 miliar pada 2026 dan 57% yoy menjadi US$ 1,59 miliar pada 2027. Seiring ramp–up operasional menuju kapasitas penuh.
Selain itu, Stockbit memproyeksikan pemulihan kinerja AMMN pada 2026F–2027F akan ditopang oleh 4 faktor. Pertama berkaitan dengan volume output melonjak dari hulu hingga hilir. Stockbit memproyeksikan volume bijih yang diolah AMMAN hampir dua kali lipat, dari 32 juta ton pada 2025 menjadi 62 juta ton pada 2026.
Seiring smelter kembali beroperasi, produksi katoda tembaga diproyeksikan melonjak 102% menjadi 161 ribu ton dan emas batangan 281% menjadi 475 ribu ons pada 2026. Pada 2027, produksinya diperkirakan naik masing-masing 36% menjadi 219 ribu ton dan 22% menjadi 579 ribu ons.
Faktor kedua adalah smelter menuju kapasitas penuh. Selain itu, Stockbit mengasumsikan utilisasi smelter katoda tembaga AMMAN meningkat dari 36% pada 2025 menjadi 73% pada 2026, lalu mencapai 100% pada 2027. Utilisasi fasilitas pemurnian emas juga diproyeksikan melonjak, dari 22% 2025 menjadi 82% pada 2026, sebelum mencapai 100% pada 2027.
Ketiga berkaitan dengan harga komoditas yang lebih tinggi. Faktor lainnya, harga tembaga LME diasumsikan naik menjadi US$ 12.000 per ton, dari US$ 9.480 per ton pada 2025. Sementara harga emas diproyeksikan meningkat menjadi US$ 4.700 per ons, dari US$ 3.446 per ons.
Adapun faktor keempat adalah tambahan laba dari asam sulfat. Sebagai produk sampingan smelter, asam sulfat berpotensi menyokong laba AMMAN berupa COGS credit. Stockbit memperkirakan kontribusinya mencapai US$ 152 juta pada 2026, seiring smelter beroperasi mendekati kapasitas penuh. Apalagi harga asam sulfat di Indonesia tengah melonjak.
“Suplai saat ini terbatas akibat eskalasi konflik AS–Iran, sementara permintaan domestik terdorong banyaknya smelter HPAL yang memasuki fase commissioning,” tulis Stockbit.
