Dana Grup Djarum Rp 24 T Disebut Mengalir ke Luar, Apa Penjelasan Manajemen?
Keluarga konglomerat pemilik Grup Djarum, Hartono, menjadi perhatian lantaran disebut mengalihkan dana sekitar US$ 1,4 miliar atau Rp 24,9 triliun ke luar negeri. Aksi itu menjadi perhatian di tengah adanya ketidakpastian ekonomi di dalam negeri.
Kabar itu mencuat setelah Bloomberg pada awal September melaporkan aliran dana Grup Djarum mengalir untuk ekspansi bisnis dan diversifikasi aset di luar Indonesia. Benarkah Grup Djarum tengah membawa sejumlah dana untuk investasi di luar negeri?
Menanggapi kabar itu, Corporate Communications Manager PT Djarum Budi Darmawan mengatakan hingga kini komitmen keluarga Grup Djarum berinvestasi di Tanah Air masih besar. Ia menyebut sebanyak 90% investasi konglomerasi ada di dalam negeri.
Menurut Budi, keluarga Hartono ingin tumbuh bersama dengan Indonesia. Selain itu, ia mengatakan Keluarga Hartono masih menggencarkan strategi bisnis untuk menambah portofolionya, terutama dalam industri hasil tembakau.
Budi mengakui Grup Djarum juga tetap melakukan ekspansi di luar negeri. Adapun dana yang disebut dibawa keluar menurut Budi tidaklah benar. Dana itu menurut dia merupakan dana yang diputar untuk pengembangan bisnis di luar negeri seperti mengakuisisi produsen kertas rokok asal Austria, melalui Evergreen Hill Enterprise Pte, entitas milik Keluarga Hartono. Budi mengatakan pendanaannya didapat dari modal kredit asing dan bernilai jumbo.
“Di kertas itu pun menggunakan pembiayaan asing, pembiayaan dapat pinjaman, bukan dari capital flow,” kata Budi dalam wawancara kepada Katadata.co.id, Rabu (9/9).
Ia menegaskan aksi korporasi itu merupakan ekspansi dan investasi di luar negeri, bukan memindahkan dananya. Ia menyebut perputaran dana yang saat ini menjadi sorotan adalah hal wajar dalam pengembangan bisnis di luar negeri.
“Ada beberapa perusahaan kemarin beli aset di negara lain, apakah itu capital flow? Menurut saya enggak lah gitu, itu bagian dari upaya mengembangkan bisnis,” ucap Budi.
Selain itu, Budi juga mengatakan Keluarga Hartono sebagai warga negara Indonesia (WNI) memiliki cita-cita untuk ikut membangun dan bertumbuh bersama Indonesia. Ia menilai bisnis-bisnis yang dibangun ikut berkontribusi kepada negara, salah satunya dengan menciptakan lapangan kerja.
Pengembangan Bisnis
Sebelumnya, Bloomberg memberitakan aksi keluarga pemilik Grup Djarum disebut memindahkan dana ke luar negeri mulai terlihat sejak akhir 2023. Evergreen Hill Enterprise Pte, perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Hartono, menggelontorkan US$ 669 juta untuk berinvestasi di bisnis kertas khusus di Amerika Serikat.
Setahun kemudian, Evergreen kembali merogoh € 360 juta atau sekitar US$ 418 juta untuk mengakuisisi produsen kertas rokok asal Austria. Bloomberg mencatat sedikitnya sembilan entitas berbasis di Singapura dan London yang terikat dengan keluarga Hartono telah menanamkan modal setidaknya US$ 1,4 miliar di luar negeri.
Adapun keluarga Hartono memiliki kerajaan bisnis yang mencakup perbankan yaitu PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), rokok hingga properti. Sebagian besar kekayaan keluarga ini juga masih berasal dari aset-aset di Indonesia.
Menanggapi pemberitaan itu Budi mengatakan aksi investasi Keluarga Hartono di luar negeri tak ada kaitannya dengan situasi politik dalam negeri di pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal itu menurut dia murni merupakan ekspansi bisnis.
“Jadi kami ini siapapun presidennya, bisnis kami harus tetap jalan, nggak boleh mati,” kata Budi,
Budi mengatakan perusahaan akan terus menjalankan berbagai langkah strategis, baik di dalam maupun luar negeri, untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Budi mengatakan aksi tersebut murni merupakan bagian dari strategi bisnis perusahaan dan tidak terkait dengan arus modal maupun faktor eksternal lainnya.
“Siapapun presidennya, siapapun penguasanya, kami harus terlibat aktif dalam mengembangkan ekonomi di negara yang kita cintai ini,” ucap Budi.
