Manuver PACK Siapkan Ekspansi Nikel Terintegrasi, Jadi Saingan Baru ANTM-INCO?

Karunia Putri
14 September 2026, 12:27
Ilustrasi aktivitas bisnis pertambangan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) atau ANHI di Sulawesi Tenggara.
ANHI
Ilustrasi aktivitas bisnis pertambangan PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) atau ANHI di Sulawesi Tenggara.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Emiten portofolio bisnis Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam yaitu PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) menyusun aksi besar untuk memperluas kapasitas produksi nikel. Perusahaan juga bersiap membuka peluang diversifikasi bisnis mineral lainnya di masa depan. 

Manuver itu menjadikan PACK saingan baru bagi emiten di industri nikel utama di Indonesia, seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Dalam rencana bisnis ke depan, PACK telah menyiapkan tiga strategi utama.

Strategi pertama, memperluas kapasitas produksi nikel di sektor hulu dalam jangka pendek. Kedua, membangun integrasi bisnis nikel dari hulu hingga hilir dalam jangka pendek hingga menengah. Ketiga, melakukan diversifikasi ke bisnis mineral lainnya dalam jangka menengah hingga panjang. 

“Strategi ini ditujukan untuk menciptakan sinergi operasional yang lebih besar serta meningkatkan nilai yang dapat diperoleh perusahaan,” seperti yang ditulis manajemen PACK dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (14/9).

Untuk memperluas kapasitas produksi nikel hulu, PACK akan mempercepat produksi bijih nikel. Langkah ini dilakukan melalui kombinasi pertumbuhan organik dan ekspansi anorganik yang terarah.

Pada tahap berikutnya, perseroan akan mengintegrasikan produksi bijih nikel di sektor hulu dengan fasilitas pemurnian dan pengolahan material. Langkah ini ditujukan untuk membangun ANHI sebagai pemain yang terintegrasi dalam rantai nilai nikel.

Selain nikel, PACK juga menyiapkan diversifikasi ke berbagai bisnis mineral lainnya. Perseroan akan memperluas pengolahan sumber daya mineral, baik di segmen hulu maupun menengah, untuk memperbesar basis sumber daya ANHI sekaligus menciptakan peluang pertumbuhan jangka panjang.

Saat ini, PACK memiliki saham minoritas di perusahaan tambang nikel lewat anak usahanya. Kepemilikan tersebut diperoleh melalui akuisisi saham PT Konutara Sejati oleh anak usahanya PT Sumebr Cahaya Raya sebesar 30% dan PT Karyatama Konawe Utara (KKU) oleh anak usahanya PT Adhi Prakarsa Raya sebesar 34,5%.

Kedua perusahaan tambang tersebut berlokasi di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. Akuisisi ini menjadi bagian dari strategi PACK untuk memperluas sumber daya sekaligus mengamankan pasokan bahan baku yang dapat mendukung integrasi bisnis ke sektor hilir pada masa mendatang.

KKU memiliki produksi berdasarkan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebesar 6 juta ton. Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi (IUPOP) perusahaan tersebut berlaku hingga 2035 dan dapat diperpanjang.

Sementara itu, Konutara Sejati memiliki produksi berdasarkan RKAB 2026 sebesar 4 juta ton. IUPOP perusahaan berlaku hingga 2049 dan juga dapat diperpanjang.

Dengan demikian, total produksi RKAB 2026 dari dua perusahaan tambang yang menjadi aset minoritas PACK mencapai sekitar 10 juta ton.

Jika dibandingkan dengan pemain lama industri nikel nasional, kapasitas produksi dari dua tambang yang dimiliki PACK tersebut mulai mendekati skala produksi sejumlah emiten besar.

ANTM membidik target produksi bijih nikel sebesar 18,1 juta ton berdasarkan RKAB 2026. Sementara itu, INCO mencatat rencana produksi bijih nikel dari tambang Bahodopi dan Pomalaa sebesar 8,11 juta ton pada 2026. Selain itu, perseroan menargetkan produksi nikel matte dari Tambang Sorowako sebesar 67.645 ton.

Dengan total RKAB 10 juta ton dari KKU dan Konutara Sejati, kapasitas produksi tambang yang menjadi bagian dari portofolio PACK tersebut bahkan berada di atas target produksi bijih nikel INCO dari Bahodopi dan Pomalaa.

Namun, perlu diingat bahwa PACK memiliki kepemilikan minoritas pada kedua perusahaan tambang tersebut. Dengan demikian, angka 10 juta ton merupakan total RKAB kedua perusahaan tambang, bukan seluruhnya produksi yang menjadi hak ekonomi PACK.

PACK Bisa Jadi Saingan Baru ANTM dan INCO?

Melihat hal itu, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan, prospek pertumbuhan PACK cukup menarik setelah transformasi bisnisnya mulai memberikan kontribusi nyata. 

Namun dia mengatakan PACK belum dapat disejajarkan langsung sebagai pesaing INCO dan ANTM karena keduanya memiliki skala produksi, cadangan, pengalaman operasional dan ekosistem hilirisasi yang jauh lebih matang. 

“PACK saat ini lebih tepat dipandang sebagai emerging nickel player dengan potensi pertumbuhan agresif, tetapi disertai execution risk yang lebih tinggi,” kata Elandry.

Dia menjelaskan, target peningkatan kapasitas bijih nikel melalui RKAB hingga 10 juta ton dapat menjadi katalis kuat apabila memperoleh persetujuan dan mampu direalisasikan. Peluang pertumbuhannya cukup besar, tetapi investor tetap perlu mencermati realisasi produksi, kualitas cadangan, kebutuhan pendanaan, biaya logistik dan kepastian penyerapan hasil tambang.

Ekspansi ke mineral selain nikel positif untuk diversifikasi dan membuka sumber pendapatan baru. Namun, ekspansi harus dilakukan secara terukur agar tidak membebani cash flow dan meningkatkan leverage secara berlebihan. 

“Fokus pasar tetap pada kemampuan PACK mengintegrasikan aset yang telah diakuisisi serta menjaga pertumbuhan laba secara berkelanjutan,” ujarnya.

Untuk horizon satu tahun, dia menyematkan target harga PACK berada di kisaran Rp 620–Rp 650 dengan rekomendasi speculative buy. Target tersebut bergantung pada kenaikan RKAB, pertumbuhan produksi dan kontribusi laba dari aset nikel. 

Mengingat volatility sahamnya relatif tinggi, investor sebaiknya melakukan pembelian secara bertahap dan tidak mengejar harga saat mengalami kenaikan tajam.

Dua Konglomerat di Balik Saham PACK

Perseroan sebelumnya merupakan perusahaan perdagangan plastik kemasan. Namun seusai konglomerat asal Cina Deng Weiming mengakuisisi dan mengambil alih kendali perusahaan, PACK kemudian berubah wajah menjadi perusahaan tambang. 

Pemegang saham pengendali Perseroan adalah Deng Weiming melalui kepemilikan pada PT Eco Energi Perkasa,” tulis manajemen PACK dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Jumat (21/8). Deng mengendalikan 40,56% saham PACK melalui Eco Energi Perkasa.

Deng Weiming merupakan Chairman CNGR Advanced Material, perusahaan asal Cina yang memproduksi komponen baterai lithium termasuk untuk kendaraan listrik. CNGR memiliki sejumlah pelanggan besar, antara lain Tesla dari Amerika Serikat, LG Chem dari Korea Selatan dan CATL dari Cina. 

Mengutip Forbes, Deng merupakan konglomerat asal Cina dengan kekayaan sekitar US$ 2,4 miliar atau setara Rp 42,66 triliun per Jumat (21/8).

Deng memulai bisnisnya pada 1995 saat berusia 27 tahun dan mendirikan CNGR pada 2004. CNGR Advanced Material kemudian tercatat di Bursa Efek Shenzhen pada 2020 dan Bursa Efek Hong Kong pada 2025. 

Setahun setelah transformasi bisnis, tepatnya pada Mei 2026, Haji Isam tercatat menjadi salah satu pemegang saham PACK dengan kepemilikan 21,12%, setara 6,83 miliar saham. Harga perolehan saham tersebut tercatat Rp 137 per saham.

Masuknya Haji Isam turut menjadi sentimen bagi saham PACK, mengingat pengusaha asal Kalimantan Selatan tersebut memiliki bisnis yang kuat di sektor pertambangan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...