Akrobat INET Perkuat Bisnis Kabel Laut Caplok 60% Saham Sarana Global Indonesia
Emiten sektor telekomunikasi PT Sinergi Inti Andalan Tbk (INET) memperkuat cengkraman di bisnis kabel laut atau submarine cable. Teranyar, perseroan mencaplok 60% saham kontraktor spesialis kabel laut PT Sarana Global Indonesia (SGI) senilai Rp 280,4 miliar.
Direktur Utama INET, Muhammad Arif mengatakan, seusai aksi akuisisi tersebut, SGI resmi menjadi entitas anak perseroan. “Pengambilan bagian atas saham baru yang mengakibatkan perseroan memiliki 60,00% saham SGI dan SGI menjadi entitas anak perseroan,” tulis Arif dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), dikutip pada Kamis (17/9).
SGI adalah kontraktor dan penyedia jasa rekayasa, pengadaan, serta konstruksi atau engineering, procurement and construction (EPC) yang memiliki spesialisasi pada proyek kabel laut.
Perusahaan tersebut juga memiliki sejumlah infrastruktur pendukung, yakni kapal kabel khusus Pacific Guardian, tongkang penggelar kabel Nostag 10, serta fasilitas gudang kabel di Kupang NTT.
Dengan masuknya SGI sebagai entitas anak, INET membangun kapabilitas infrastruktur kabel laut yang terintegrasi, mulai dari perencanaan, konstruksi, pengoperasian hingga pemeliharaan.
Berdasarkan anggaran dasar perusahaan, kegiatan usaha SGI mencakup konstruksi sentral telekomunikasi, termasuk jaringan transmisi dan distribusi kabel telekomunikasi di atas permukaan tanah, bawah tanah, hingga di dalam air. SGI juga menjalankan aktivitas telekomunikasi dengan kabel, termasuk melalui sistem komunikasi kabel laut.
Selain itu, kegiatan usaha SGI meliputi pemasangan jaringan listrik, konstruksi bangunan sipil minyak dan gas bumi serta aktivitas jasa akses internet.
Saat ini, kegiatan usaha SGI difokuskan pada rekayasa, pengadaan, konstruksi (EPC), dan pemeliharaan sistem kabel bawah laut untuk serat optik dan kabel listrik.
Dalam aksi tersebut, SGI menerbitkan 180.000 saham baru dengan nilai nominal Rp 100.000 per saham. Seluruh saham baru tersebut diambil bagian dan disetor oleh INET.
Dengan begitu, nilai nominal seluruh saham baru mencapai Rp 18 miliar, sedangkan nilai transaksinya sebesar Rp 280,4 miliar. Selisih antara nilai transaksi dan nilai nominal saham tersebut dicatat sebagai agio saham.
Akuisisi SGI dilakukan ketika kinerja keuangan INET mencatat pertumbuhan signifikan pada semester pertama 2026. Perseroan membukukan pendapatan neto sebesar Rp 926,45 miliar pada enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Pendapatan tersebut melonjak 1.958,68% dibandingkan Rp 45 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kinerja semester I-2026 menunjukkan bahwa INET berada pada jalur pertumbuhan yang semakin kuat. Pertumbuhan pendapatan, laba bruto, dan laba usaha menjadi dasar penting bagi perseroan untuk menjaga disiplin operasional dan memperkuat struktur bisnis secara berkelanjutan,” ujar Arif.
Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp 33,67 miliar naik 340,02% dari Rp 7,65 miliar secara YoY.
Total aset INET mencapai Rp 6,11 triliun per 30 Juni 2026. Nilai tersebut meningkat 703,69% dibandingkan Rp 760,37 miliar pada 31 Desember 2025. Ekuitas perseroan juga naik 787,42% menjadi Rp 3,81 triliun dari Rp 429,21 miliar pada akhir 2025.
Melalui kinerja tersebut, INET menyatakan akan terus menjaga pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas sekaligus memperkuat struktur keuangan perseroan. Perseroan juga akan menyampaikan setiap perkembangan material sesuai dengan ketentuan pasar modal yang berlaku.
