Musim Paceklik IPO di Tengah Pengetatan Aturan
Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menghadapi paceklik emiten baru. Setelah kebanjiran 79 emiten yang melantai pada 2023, jumlah perusahaan yang menggelar penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) hingga 9 Oktober 2026 baru tujuh, dengan dana terhimpun Rp 2,16 triliun.
BEI mencatat ada sembilan perusahaan masuk dalam antrean IPO. Berdasarkan data pipeline IPO BEI, tiga di antaranya merupakan perusahaan beraset jumbo di atas Rp 250 miliar.
Lalu empat perusahaan memiliki aset menengah Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Dua perusahaan lainnya masuk kategori aset kecil, di bawah Rp 50 miliar. Berdasarkan sektor usaha, calon emiten terbanyak masih berasal dari sektor kesehatan, yakni empat perusahaan.
Sektor energi menyusul dengan dua perusahaan. Adapun sektor bahan baku, keuangan, dan industri masing-masing memiliki satu calon emiten.
Angka tersebut masih jauh dari target BEI yang membidik 50 emiten baru sepanjang 2026. Padahal, hingga menjelang akhir tahun ini, jumlah perusahaan tercatat baru mencapai 965 emiten. Sedangkan regulator menargetkan jumlah emiten bisa melonjak hingga 1.100 perusahaan tercatat dengan total kapitalisasi pasar Rp 30.000 triliun pada 2030 mendatang.
Kini BEI tengah memperkuat persyaratan IPO melalui penyempurnaan tahap kedua Peraturan Bursa Nomor I-A tentang Pencatatan Saham dan Efek Bersifat Ekuitas Selain Saham yang Diterbitkan oleh Perusahaan Tercatat (Peraturan I-A).
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari upaya percepatan reformasi pasar modal Indonesia yang secara berkelanjutan dilakukan BEI demi memperkuat struktur dan kualitas pasar modal, meningkatkan kualitas perusahaan tercatat (emiten), dan meningkatkan perlindungan investor.
Dalam penyempurnaan tahap kedua, BEI meningkatkan persyaratan keuangan bagi calon perusahaan yang akan mencatatkan sahamnya di BEI. Selain itu, BEI menambahkan ketentuan mengenai kewajiban memiliki saldo laba sebagai salah satu kriteria bagi perusahaan tercatat untuk tetap berada di Papan Utama.
Sebagai bagian dari penerapan prinsip equality dalam proses pencatatan, BEI juga menambahkan ketentuan yang memberikan kesempatan kepada calon perusahaan tercatat untuk mengajukan calon pemegang saham tertentu dengan kepemilikan di atas 5%, agar dapat dikategorikan sebagai pemegang saham free float.
Di tengah seretnya penambahan emiten baru, kinerja tujuh perusahaan yang berhasil melantai di bursa tahun ini juga berfluktuasi dan mayoritas babak belur dalam tiga bulan terakhir.
Berikut kinerja 7 saham IPO sepanjang 2026:
| No | Kode | Nama Perusahaan | Tanggal Pencatatan (IPO) | Harga IPO | Harga Usai IPO per Jumat (9/10) | Pergerakan 3 Bulan Terakhir |
| 1 | WBSA | PT BSA Logistics Indonesia Tbk | 10 April 2026 | Rp 168 | Rp 620 | –0,80% |
| 2 | JELI | PT Niramas Utama Tbk | 7 Juli 2026 | Rp 900 | Rp 400 | –71,53% |
| 3 | JECX | PT Nitrasanata Dharma Tbk | 7 Juli 2026 | Rp 1.250 | Rp 1.610 | –17,44% |
| 4 | BACH | PT Bach Multi Global Tbk | 8 Juli 2026 | Rp 442 | Rp 348 | –36,73% |
| 5 | EMMI | PT Esa Medika Mandiri Tbk | 8 Juli 2026 | Rp 470 | Rp 402 | –26,91% |
| 6 | PRDL | PT Prodia Diagnostic Line Tbk | 9 Juli 2026 | Rp 120 | Rp 174 | 45% |
| 7 | RANS | PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk | 10 Juli 2026 | Rp 170 | Rp 177 | –11,50% |
Sumber: RTI Business berdasarkan penutupan harga saham Jumat (9/10).
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata menilai, seretnya IPO tahun ini dipengaruhi oleh pengetatan seleksi calon emiten, aturan free float baru setelah sorotan MSCI, hingga kondisi pasar yang belum kondusif.
Tak hanya itu, tingkat penolakan BEI kini mencapai sekitar 60%, meningkat dari sebelumnya 20–30% sehingga jumlah perusahaan yang lolos pencatatan semakin terbatas.
Di sisi lain, Liza juga menyoroti ketentuan free float IPO sebesar 15–25%, bergantung pada kapitalisasi perusahaan, menuntut pemegang saham pengendali menyediakan porsi saham publik yang lebih besar. Apabila valuasi yang ditawarkan pasar belum sesuai harapan, calon emiten justru memilih untuk menunda IPO ketimbang melepas saham di harga yang terlalu rendah.
“Karena itu, target 50 IPO perlu ditinjau kembali, sementara upaya meningkatkan kualitas emiten tetap positif untuk membangun kepercayaan investor,” ucap Liza dalam analisisnya, dikutip Senin (12/10).
Meski begitu Liza menilai berkurangnya jumlah IPO tidak serta-merta menekan pergerakan IHSG. Dalam jangka pendek, minimnya penawaran saham baru dapat mengurangi persaingan untuk memperebutkan dana investor, sehingga likuiditas pasar tidak terlalu terfragmentasi. Namun, dana yang batal terserap melalui IPO belum tentu beralih ke saham-saham yang sudah tercatat di bursa.
Dalam jangka panjang, kata Lizam pengetatan seleksi calon emiten dan peningkatan porsi free float dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor sekaligus meningkatkan kualitas perdagangan di pasar modal.
“Bursa tetap membutuhkan emiten baru yang menarik dan mampu membawa dana segar, sehingga keberhasilan IPO perlu dilihat dari kualitas perusahaan dan manfaatnya bagi pasar,” kata Liza.
Di samping itu, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin sebelumnya sempat mengatakan target IPO merupakan sasaran yang menjadi pendorong bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan kualitas dan jumlah perusahaan tercatat.
Saidu menilai realisasi IPO sangat bergantung pada keputusan bisnis masing-masing perusahaan dan kondisi pasar saat calon emiten untuk menentukan waktu yang tepat untuk melantai di bursa.
Ia pun mengatakan saat ini BEI juga terus melakukan pendampingan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada dalam pipeline IPO. Prosesnya berjalan lewat sejumlah tahapan. Mulai dari persiapan internal perusahaan, penyempurnaan dokumen, hingga proses perizinan bersama regulator.
Dari sisi sektor, lanjut Saidu, minat perusahaan masih cukup bervariasi. Mulai dari sektor konsumer, kesehatan, industri, teknologi, energi, hingga sektor-sektor yang mendukung hilirisasi dan ekonomi baru.
“Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi alternatif pendanaan yang relevan bagi berbagai jenis industri,” kata Saidu kepada Katadata, dikutip Senin (12/10).
Saidu menyebut pada target 2026, BEI juga akan terus melakukan evaluasi secara berkala sebagaimana praktik yang selama ini dilakukan. Ia menegaskan fokus utama BEI saat ini bukan mengejar angka, tetapi memastikan perusahaan yang masuk ke pasar memiliki kualitas yang baik hingga tata kelola yang kuat.
“Dan mampu menciptakan nilai tambah bagi investor serta mendukung pertumbuhan pasar modal Indonesia dalam jangka panjang,” ucap Saidu.
Ia juga mengatakan otoritas BEI tidak hanya sekadar mengejar kuantitas IPO. Ia menyebut hal yang penting saat ini membangun pasokan perusahaan tercatat yang berkualitas, berkapitalisasi sehat, memiliki tata kelola yang baik, dan mampu bertumbuh setelah IPO.
BEI tetap optimistis masih terdapat peluang tambahan perusahaan untuk melakukan IPO hingga akhir tahun dan akan terus melakukan berbagai inisiatif untuk menjaga momentum tersebut.
“Pasar modal yang kuat dibangun oleh kualitas emiten, bukan hanya jumlah emiten,” ucap saidu.
