Gerak Lincah Bos BRMS dan Direksi Borong Saham, Bagaimana Prospek Produksi Emas?
Presiden Direktur PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), Agoes Projosasmito, membeli 5,5 juta saham perseroan pada 22 Oktober 2026. Transaksi tersebut dilakukan dalam dua kali pembelian dengan total nilai sekitar Rp 2,46 miliar.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham perseroan pada Kamis (22/10), Agoes membeli 3,3 juta saham BRMS dengan harga Rp 448 per saham dalam transaksi pertama. Selanjutnya, ia membeli 2,2 juta saham dengan harga Rp 446 per saham.
Dengan demikian, total saham BRMS yang dibeli Agoes mencapai 5,5 juta lembar. Setelah transaksi tersebut, porsi hak suara Agoes di BRMS tercatat sebesar 0,0039%.
Pembelian saham oleh Agoes menambah daftar jajaran direksi BRMS yang melakukan transaksi serupa dalam beberapa waktu terakhir.
Pada 21 Oktober 2026, Direktur BRMS Muhammad Sulthon membeli 120.000 saham dengan harga Rp 426 per saham. Sehari sebelumnya, Direktur BRMS Charles Daniel Gobel juga membeli 550.000 saham dengan harga Rp 424 per saham.
Jajaran Direksi BRMS Rajin Borong Saham
Aktivitas pembelian saham oleh jajaran direksi BRMS juga berlangsung sepanjang September hingga Oktober 2026.
Adika Aryasthana Bakrie tercatat melakukan tiga kali pembelian saham pada September. Pada 22 September, ia membeli 750.500 saham dengan harga Rp 655 per saham. Tiga hari kemudian, pada 25 September, ia kembali membeli 372.400 saham dengan harga Rp 670 per saham. Selanjutnya, pada 28 September, ia membeli 389.900 saham dengan harga Rp 640 per saham.
Pada tanggal yang sama, Muhammad Sulthon juga membeli 40.000 saham BRMS dengan harga Rp 640 per saham.
Memasuki Oktober, Sulthon beberapa kali kembali menambah kepemilikan sahamnya. Pada 1 Oktober, ia melakukan tiga transaksi pembelian, masing-masing sebanyak 85.000 saham dengan harga Rp 565 per saham, 10.000 saham dengan harga Rp 545 per saham, dan 85.000 saham dengan harga Rp 555 per saham.
Sehari kemudian, Sulthon kembali membeli 90.000 saham dengan harga Rp 545 per saham. Ia kemudian membeli 90.000 saham pada 13 Oktober dengan harga Rp 540 per saham, disusul pembelian 100.000 saham pada 15 Oktober dengan harga Rp 535 per saham.
Di pasar saham, pergerakan harga BRMS terpantau fluktuatif pada perdagangan Jumat (23/10/2026).
Pada penutupan sesi pertama, saham BRMS menguat 1,85% atau naik 8 poin ke level Rp 440 per saham. Namun, pada pukul 15.30 WIB, saham tersebut berbalik melemah 0,93% atau turun 4 poin ke level Rp 428 per saham.
Berdasarkan data kepemilikan saham per 30 September 2026, pemegang saham utama BRMS adalah Emirates Tarian Global Ventures SPC dengan kepemilikan 25,10%. Selanjutnya, GLAS Trust menguasai 7,61% saham, sedangkan Sugiman Halim memiliki 7,45%.
BRMS Kebut Pengembangan Tambang Emas dan Tembaga
Di sisi operasional, BRMS menyampaikan perkembangan pembangunan proyek tambang emas bawah tanah di Poboya, Palu, Sulawesi Tengah, pada September 2026.
Perseroan menyatakan portal atau pintu masuk menuju tambang bawah tanah tersebut telah selesai dibangun. Sementara itu, panjang terowongan telah mencapai lebih dari 975 meter dari portal, dengan kedalaman sekitar 140 meter dari permukaan tanah.
Fasilitas ventilasi udara pertama juga telah selesai dibangun, sedangkan fasilitas kedua ditargetkan rampung pada semester I 2027.
Melalui anak usahanya, PT Citra Palu Minerals (CPM), BRMS menargetkan penambangan bijih emas berkadar tinggi, yakni di atas 3,2 gram per ton, dari tambang bawah tanah tersebut dapat dimulai pada pertengahan 2027.
Perseroan juga menargetkan peningkatan kapasitas pabrik pengolahan emas dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari pada awal 2027.
Sementara itu, untuk pengembangan aset tembaga, anak usaha BRMS lainnya, PT Gorontalo Minerals (GM), saat ini mengoperasikan empat unit alat pengeboran eksplorasi di prospek Cabang Kiri East, Gorontalo, Sulawesi.
Pada 2027, GM berencana menambah jumlah alat pengeboran menjadi tujuh unit yang akan beroperasi di tiga lokasi tambang. Hasil pengeboran tersebut diharapkan dapat disampaikan dalam bentuk sumber daya mineral tembaga pada semester I 2027.
Mengenai perkembangan produksi tambang ini, bos BRMS Agoes Prodjosasmito menyatakan perseroan tetap optimistis terhadap fundamental bisnisnya, meskipun harga dan permintaan emas dipengaruhi oleh faktor makroekonomi serta kondisi eksternal.
“Selanjutnya, pabrik emas baru dengan kapasitas 2.000 ton per hari, dan penambangan bijih berkadar tinggi dari lokasi tambang emas bawah tanah kami, akan memungkinkan kami untuk dapat terus meningkatkan produksi emas di tahun 2027 dan 2028,” katanya.
