Pengeluaran Masyarakat Tak Berkurang Saat Pensiun

Image title
Oleh
15 Oktober 2014, 17:10
Rupiah
Arief Kamaludin | Katadata
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ? Pengeluaran masyarakat Indonesia ternyata tak berkurang signifikan di saat memasuki masa pensiun. Pengeluaran pensiun mencapai 94 persen dibanding sebelum masa pensiun.

Kesimpulan itu itu diperoleh dari hasil riset yang dilakukan Manulife Investor Sentiment Index di Kawasan Asia. Survey itu melibatkan 500 responden di tiga kota besar yaitu Jakarta, Medan, dan Surabaya pada Mei dan Juni 2014.

Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro mengatakan Indonesia memiliki bonus demografi dengan usia produktif 30 tahun ke depan. Dengan usia produktif yang banyak tersebut menyebabkan persentase pensiun 20 tahun mendatang meningkat 20 persen. 
"Tetapi tingkat persiapan masa tua masih kecil, karena rendahnya tingkat kekayaan bersih di hari tua," ujarnya, di Jakarta, Rabu (15/10).

Persiapan dana pensiun itu seharusnya dilakukan di usia produktif, dengan menyisihkan penghasilan untuk masa pensiun. Semakin dini persiapan, beban di masa pensiun akan semakin ringan. "Ketika menerima penghasilan, sisihkan dulu untuk masa depan. Sisanya untuk memenuhi kebutuhan hidup," ujarnya.

Ada beberapa sumber pendapatan yang biasa diandalkan agar bisa menghidupi masa pensiun. Sumber pendapatan yang diandalkan yaitu jaminan sosial dan dana pensiun. Namun apakah dana yang dikumpulkan selama usia produktif itu cukup untuk membiayai hidup selama pensiun. Andalan lainnya yaitu mengharapkan dukungan keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun fenomena tersebut tidak bisa lagi berlaku. Adanya urbanisasi membuat anak tinggal jauh dengan orang tua. Selain itu, jumlah anak saat ini juga sedikit, hanya satu atau dua anak saja.

Sebagian masyarakat juga beranggapan untuk memenuhi kebutuhan pensiun mengandalkan deposito yang suku bunganya mencapai 7 persen. Padahal jika dikurangi pajak, risiko kredit dan inflasi, hasilnya hanya sedikit. Selain itu mengharapkan bantuan pemerintah untuk menjamin masa tua juga tidak bisa. Belum lagi ditambah usia harapan hidup yang meningkat membuat kebutuhan biaya pensiun lebih besar. 

Berdasarkan data tersebut diketahui jika empat puluh tahun ke depan usia harapan hidup rata-rata meningkat lebih dari enam tahun di Asia. Sehingga pilihannya ketika masuk usia pensiun, masyarakat masih akan tetap bekerja. Dari seluruh responden, 75 persen yakin bisa bekerja di usia pensiun. Realitanya hanya 40 persen yang bisa bekerja kembali karena terbatasnya skill dan harus bersaing dengan generasi muda.

"Mana yang bisa diandalkan, yang paling benar adalah diri sendiri. Semakin cepat mempersiapkan diri akan semakin baik," kata dia. 

Besarnya kebutuhan hidup pada saat pensiun juga terlihat di negara lain seperti Jepang dan Taiwan yang memiliki angkatan tua besar. Konsumsi rumah tangga pensiunan di negara itu meningkat. Anggapan biaya pendidikan dan transportasi turun ternyata keliru. Terlebih orang Indonesia rata-rata menikah di usia 30 tahun, dan pensiun 55 tahun. Ketika pensiun, anak pertama rata-rata berusia 24 tahun dan belum lulus kuliah. Dana kesehatan juga butuh lebih besar karena menjadi tanggungan sendiri, yang sebelumnya ditanggung perusahaan.

Dia mencontohkan dengan dengan usia harapan hidup orang Indonesia 70 tahun. Jika masa pensiun dimulai pada usia 55 tahun, maka waktu pensiun yaitu 15 tahun. Dengan asumsi pengeluaran selama pensiun sebesar Rp 10 juta per bulan, maka kebutuhan yang harus disiapkan mencapai Rp 1,8 miliar.
"Apakah jumlah uang sebesar itu sudah disipakan oleh masyarakat Indonesia untuk menghadapi usia pensiun? Untuk itu jangan menunda menyiapkan dana pensiun," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rikawati
Editor: Arsip

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...