Menakar Prospek Perbankan Kala Literasi Keuangan Masih Lemah, Potensi Tumbuh?

Nur Hana Putri Nabila
14 Oktober 2025, 08:14
Seorang calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Kupang menerawang uang pecahan Rp100 ribu saat sosialisasi mengenal rupiah dalam Literasi Keuangan Digtital Bagi PMI di Kota Kupang, NTT, Rabu (1/10/2025). Kegiatan yang digelar Bank Indonesia itu ber
ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/sgd/tom.
Seorang calon pekerja migran Indonesia (PMI) asal Kota Kupang menerawang uang pecahan Rp100 ribu saat sosialisasi mengenal rupiah dalam Literasi Keuangan Digtital Bagi PMI di Kota Kupang, NTT, Rabu (1/10/2025). Kegiatan yang digelar Bank Indonesia itu bertujuan untuk mengedukasi calon PMI NTT agar paham tentang keaslian uang rupiah sehingga tidak mudah ditipu saat bekerja di dalam maupun luar negeri.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Bisnis di sektor perbankan masih punya ruang berkembang sangat besar seiring inklusi dan keuangan perbankan belum mencapai 100%. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 menunjukkan kenaikan indeks literasi keuangan mencapai 66,46%dan indeks inklusi keuangan 80,51%.

Hasil SNLIK 2025 ini meningkat dibanding SNLIK 2024 yang menunjukkan indeks literasi keuangan 65,43% dan indeks inklusi keuangan 75,02%. Berdasarkan sektor jasa keuangan, indeks literasi dan inklusi keuangan masih ditopang paling tinggi oleh sektor perbankan, yakni sebesar 65,50% dan 70,65%.

Meskipun tingkat inklusi keuangan Indonesia belum mencapai 100%, Dosen sekaligus ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai sektor perbankan masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat besar. Menurutnya, masih banyak masyarakat dan pelaku usaha di Indonesia yang belum memanfaatkan layanan perbankan secara optimal.

Ia mengatakan rasio aset perbankan terhadap PDB Indonesia tercatat sebagai salah satu yang terendah di kawasan, yaitu sekitar 43%. Angka ini jauh di bawah Filipina yang mencapai 71%, Vietnam 136%, Thailand 152%, Malaysia 153%, dan Singapura yang berada di posisi tertinggi.

Demi memperkuat sektor perbankan, ia mengatakan perlu sejumlah langkah strategis seperti peningkatan literasi keuangan, mendorong pelaku usaha sektor informal agar beralih ke sektor formal, serta meningkatkan efisiensi perbankan. Saat ini, lanjut Wijayanto, Net Interest Margin (NIM) dan rasio iaya Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) masih tergolong tinggi.

Selain itu, masih banyak pelaku usaha yang enggan beralih ke sektor formal karena proses perizinan dan perpajakan dinilai rumit dan mahal. 

“Pemerintah perlu mempermudah proses, dengan pendekatan jemput bola,” kata Wijayanto ketika dihubungi Katadata.co.id, Senin (13/10). 

Berikut Perbandingan Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Berdasarkan Sektor Jasa Keuangan

IndeksMetodeHasil Survei
LiterasiPerbankan65,50%
Pasar Modal17,78%
Perasuransian45,45%
Lembaga Pembiayaan46,66%
Dana Pensiun27,79%
Pergadaian54,74%
Lembaga Keuangan Mikro9,80%
Fintech Lending24,90%
Lembaga Jasa Keuangan Lainnya42,77%
InklusiPerbankan70,65%
Pasar Modal1,34%
Perasuransian28,50%
Lembaga Pembiayaan12,38%
Dana Pensiun5,37%
Pergadaian8,23%
Lembaga Keuangan Mikro1,20%
Fintech Lending4,40%
Lembaga Jasa Keuangan Lainnya14,71%

Sumber: Otoritas Jasa Keuangan

Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) Kuartal II 2025

Seiring dengan hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merilis Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) Triwulan II-2025, yang menunjukkan kinerja industri perbankan tetap solid dengan tingkat risiko yang terkendali dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan hingga Juni 2025, fungsi intermediasi perbankan berjalan positif. Hal ini tercermin dari kenaikan penyaluran kredit serta penghimpunan dana masyarakat yang tetap kuat.

Selain itu, kualitas aset perbankan terus membaik seiring menurunnya risiko kredit. Kondisi likuiditas juga berada pada level yang memadai, ditopang oleh cadangan likuiditas yang jauh di atas batas minimum yang dipersyaratkan. Kemudian tingkat permodalan yang tinggi turut mencerminkan ketahanan sektor perbankan dalam menghadapi potensi risiko di masa mendatang, sekaligus menunjukkan kemampuan industri ini dalam terus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

“OJK juga mendorong bank-bank untuk selalu mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking), profesionalisme, inovatif, dan selalu menjaga integritas sehingga mencapai pertumbuhan yang tinggi, sehat, dan berkelanjutan,” kata Dian.

Menurut Dian, OJK juga senantiasa melakukan pengawasan perbankan secara intensif dan prudent untuk memastikan stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dan pertumbuhan sektor perbankan tumbuh berkesinambungan.

Data OJK hingga Agustus 2025, kondisi perbankan juga terjaga baik tecermin dari pertumbuhan DPK sebesar 8,51% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit sebesar 7,56 persen (yoy). 

NPL gross stabil sebesar 2,28% yang mencerminkan risiko kredit yang juga stabil, terjaganya likuiditas didorong oleh AL/NCD sebesar 120,25% dan AL/DPK sebesar 120,25% yang di atas threshold serta risiko pasar didorong oleh rasio PDN yang sangat rendah sebesar 1,19% jauh di bawah treshold 20%. CAR terjaga tinggi sebesar 26,03% persen dan meningkat utamanya karena kenaikan laba.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...