Sarana Multi Infrastruktur (SMI) Bukukan Aset Rp 121,3 Triliun pada 2025
PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) mengumumkan kinerja untuk tahun buku 2025. Direktur Operasional dan Keuangan SMI, Aradita Priyanti memaparkan kinerja keuangan perseroan per 31 Desember 2025 (unaudited) menunjukkan pertumbuhan positif.
“Aset PT SMI per 31 Desember adalah Rp121,3 triliun ini dengan pertumbuhan tahunan 3,8% di tahun 2020-2025,” kata Priyanto dalam acara media gathering, Selasa (3/3).
Untuk komitmen pembiayaan, perseroan membukukan pertumbuhan tahunan sebesar 9,7% sejak 2020, dengan total komitmen mencapai Rp168,7 triliun per akhir 2025. Sementara itu, outstanding pembiayaan tercatat sebesar Rp94,5 triliun atau tumbuh 96,1% secara tahunan sejak 2020.
Dari sisi profitabilitas, laba bersih pada akhir 2025 tercapai Rp2,88 triliun, tumbuh rata-rata 8,6% per tahun sejak 2020. Adapun net business income berhasil mencapai target Rp4 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 6,8% dalam periode yang sama.
Sejumlah rasio keuangan utama juga menunjukkan kondisi yang sehat. Gearing ratio perseroan berada di level relatif rendah, yakni di atas 1,7x. Rasio non-performing loan (MPL net) terjaga di angka 0,45%, dengan tingkat loss coverage mencapai 399%. Margin tercatat sebesar 3,45%, sementara return on equity (ROE) berada di level 6,62%.
Portofolio Perusahaan
Dari sisi portofolio, hingga 31 Desember 2025 PT SMI memiliki dua segmen utama pembiayaan, yakni pembiayaan publik dan pembiayaan korporasi. Untuk komposisi kebiayaan publik adalah sebesar 16%.
"Sementara untuk korporasi ada 84% dari total portfolio PT SMI,” ujar Aradita lagi.
Pada segmen pembiayaan publik, outstanding tumbuh 6,1% secara tahunan sejak 2020. Saat ini, sekitar 98% portofolio pembiayaan publik berasal dari Program Pemulihan Ekonomi Nasional (KEN), sementara pembiayaan reguler menyumbang 2%.
Untuk pembiayaan reguler, sektor terbesar adalah jalan dan jembatan sebesar 79%, serta sektor rumah sakit sebesar 21%. Adapun pada pembiayaan korporasi, yang mencakup 84% dari total portofolio, produk terbesar adalah kredit investasi dengan porsi 67%, diikuti pembiayaan syariah sebesar 17,7%, serta pinjaman subordinasi, pembiayaan saham, dan pembiayaan modal kerja serta belanja modal.
Dari sisi sektoral, pembiayaan korporasi didominasi sektor jalan tol sebesar 35%, diikuti sektor ketenagalistrikan dan transportasi.
