Profil Friderica Widyasari Dewi yang Terpilih Jadi Bos OJK 2026–2031
Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR memilih Friderica Widyasari Dewi menjadi Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2026–203. Hal itu diputuskan setelah Komisi XI DPR RI menggelar tengah Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) fit and proper test dengan 10 calon anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rabu (11/3).
Wanita yang akrab disapa Kiki itu menyebut dirinya maju karena merasa terpanggil melihat adanya kekosongan kepemimpinan di OJK beberapa waktu lalu.
“Jadi saya merasa terpanggil untuk memimpin dan menahkodai OJK di saat yang tidak mudah seperti saat ini,” kata Kiki di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (11/3).
Kiki optimistis sektor jasa keuangan memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus menjadi motor penggerak pembangunan. Ia menyebut kepemimpinan di OJK ke depan harus mampu memastikan sektor tersebut tetap stabil, kredibel, serta memberi kontribusi nyata bagi perekonomian.
Profil Friderica Widyasari Dewi
Mengutip laman resmi OJK, Friderica Widyasari Dewi lahir di Cepu pada 28 November 1975. Ia memiliki pengalaman panjang di pasar modal Indonesia dengan karier lebih dari satu dekade di PT Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 2005.
Kariernya di BEI mencapai puncak saat menjabat sebagai Direktur Pengembangan Pasar pada periode 2009–2015. Setelah itu, Friderica melanjutkan karier di lembaga self-regulatory organization (SRO) lainnya.
Ia menjabat Direktur Keuangan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada 2015–2016, kemudian dipercaya sebagai Direktur Utama KSEI pada 2016–2019. Kariernya berlanjut di industri pasar modal sebagai Direktur Utama BRI Danareksa Sekuritas pada periode 2020–2022. Friderica juga mengantongi sertifikasi Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Wakil Penjamin Emisi Efek (WPEE) yang diterbitkan OJK pada 2019.
Friderica meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2001. Ia kemudian menyelesaikan Master of Business Administration (MBA) di California State University, Amerika Serikat pada 2004. Pada 2019, ia kembali meraih gelar Doktor di bidang Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
