Siasat Main Aman Redam Gejolak, Cerita Riri dan Ary di Reksa Dana Pasar Uang

Nur Hana Putri Nabila
8 Mei 2026, 15:38
Reksa dana pasar uang
AI/ Diolah Katadata
Reksa dana pasar uang
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Siasat main aman kini menjadi pilihan banyak investor di tengah pasar yang limbung. Euforia awal tahun yang sempat mengantar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh rekor tertinggi sepanjang sejarah di level 9.134 pada Januari 2026 perlahan berubah menjadi kecemasan.

Lantai bursa tak lagi dipenuhi optimisme. Grafik saham memerah, transaksi mulai sepi, sementara investor asing terus angkat kaki dari pasar domestik. Di tengah tekanan suku bunga tinggi, pelemahan rupiah, hingga gejolak politik dan ekonomi global, orientasi investor pun berubah drastis. Jika sebelumnya berburu cuan menjadi tujuan utama, kini banyak yang hanya ingin menjaga nilai aset agar tak ikut tergerus badai pasar.

Merujuk data BEI, nilai transaksi investor mulai sepi dan muncul bayang-bayang ketakutan. Di tengah kepungan sentimen negatif dan gejolak politik yang kian memanas, para investor kini tak lagi bermimpi tentang keuntungan besar. Mayoritas kini hanya ingin bertahan dan melindungi aset investasinya. 

Pukulan telak terlihat jelas pada papan skor pasar modal global per 30 April 2026. Di saat bursa Korea Selatan (KOSPI) meroket hampir 50%, Indonesia justru terperosok ke peringkat 24 dunia.

Dengan performa anjlok hingga minus sekitar 19% secara year-to-date (ytd). Posisi Indonesia bahkan jauh tertinggal di bawah tetangga terdekatnya, Singapura, yang masih mampu tumbuh 19,7%.

Tak heran jika kini terjadi aksi jual asing besar-besaran mencapai Rp 45,38 triliun ytd per 30 April 2026. Investor mulai "tiarap" dan memarkirkan dana mereka di tempat-tempat yang paling aman. 

Reksa dana pun mendadak berubah fungsi menjadi "bunker" atau tempat persembunyian investor bagi Riri dan Ary. Mereka mulai meracik portofolionya dari gempuran tingginya suku bunga, ekonomi domestik yang tengah babak belur, hingga saham yang kian anjlok, sembari berharap badai makro kali ini tak berlangsung lama. 

Mulai Ancar-ancar Amankan Dana

Seorang investor ritel, Ary (26), awalnya optimistis investasinya di saham akan berbuah manis pada 2026. Namun gejolak pasar justru membuat portofolionya babak belur. 

Awal Januari 2025, saat itu Ary memasuki pasar modal pertama kali dengan membeli saham lewat initial public offering (IPO). Selama 1,5 tahun masuk ke pusaran investasi saham, Ary selama ini belajar otodidak terkait investasi dan mencoba peruntungan lewat trading jangka pendek.

Hasilnya mengejutkan. Hingga akhir 2025, portofolio Ary mampu melampaui IHSG sebesar 40 - 50%. Bahkan kala portofolio sahamnya diadu dengan jayanya saham konglomerat, portofolio genggamannya masih bisa mengalahkan kenaikan IHSG. 

"Saya merasa sangat pintar sekali," kenang Ary saat berbincang dengan Katadata. 

Memasuki 2026, kondisi berubah dan IHSG mulai merah. Hal itu imbas pengumuman MSCI, laporan pemeringkat internasional, hingga rupiah kian melemah tembus Rp 17.300. 

Harga-harga bahan pokok hingga minyak pun sudah merangkak naik. Ia pun mulai menyadari ada risiko kalau belajar pasar modal secara otodidak. Ia tak punya pengetahuan mendalam, analisis, fundamental, hingga manajemen risiko. 

"Ternyata ada risiko besar untuk saya berinvestasi langsung di pasar modal," ucap Ary. 

Belakangan, Ary mulai melirik portofolio sejumlah reksa dana. Di tengah IHSG yang tertekan dan pasar gonjang-ganjing, ia justru melihat beberapa produk reksa dana tetap tangguh bahkan mencatat kinerja yang relatif stabil sepanjang periode Januari hingga April 2026.

Pengalaman itu mengubah cara pandangnya. Dari sebelumnya aktif berburu cuan di saham, Ary mulai mempertimbangkan beralih ke instrumen reksa dana. Ia menilai investasi melalui manajer aset menawarkan pendekatan yang lebih rasional, terutama untuk jangka panjang, dibanding ikut-ikutan atau fear of missing out (FOMO) influencer media sosial.

Kini Ary berencana mengalihkan sebagian dananya ke reksa dana pasar uang. Ia bukan hanya mengejar imbal hasil tinggi, tetapi kini dirinya harus bertahan dan tetap berinvestasi di tengah ketidakpastian pasar, risiko inflasi, hingga ekspektasi bank sentral yang menahan suku bunga dan inflasi.

“Mungkin saya coba untuk menaruh di reksa dan dan pasar uang, di saham mungkin berisiko, masa saham BBCA bisa turun ke Rp 6.000 dan BBRI bisa Rp 3.000-an,” ucap Ary. 

Ary pun mengaku gejolak ekonomi dan inflasi merupakan hal yang lumrah dalam siklus ekonomi, bahkan dalam kondisi tertentu inflasi dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan.

Namun, ia lebih mengkhawatirkan cara pemerintah RI merespons kondisi yang sudah terlihat nyata. Menurutnya, pemerintah belum melakukan penyesuaian kebijakan dan masih melanjutkan kebijakan populis yang dinilai kurang tepat dalam situasi saat ini. Ia pun mengkhawatirkan potensi pelemahan rupiah dan melambatnya pertumbuhan ekonomi.

Dari situ, mulai bulan depan dan ketika gajian tiba, Ary akan mulai mencicil setoran ke reksadana pasar uang dan pelan-pelan disiplin nabung. Ia mengatakan return dari reksadana pasar uang saat ini jauh lebih menarik dibanding tabungan bank biasa. 

Meski begitu yang paling penting bagi Ary adalah likuiditas. Ia mengaku pasar uang bisa dicairkan kapan saja jika ada kebutuhan darurat. Tidak seperti saham yang bisa terjebak di saat pasar sedang merah atau obligasi yang memiliki tenor panjang.

"Potensi keuntungannya lebih tinggi dari tabungan bank biasa, tapi risikonya jauh lebih terkendali dari saham,” kata Ary. 

Ia pelan-pelan mengurangi porsi saham dan berencana pindah ke reksa dana pasar uang demi mengamankan uangnya. Menurutnya ia lebih percaya uangnya dikelola oleh manajer investasi yang jauh lebih berpengalaman. 

Apalagi koreksi saham perbankan hingga sekitar 50% disebut sebagai sinyal bahwa kondisi makroekonomi sedang tidak baik. Meski kondisi makroekonomi cukup mengkhawatirkan, pengelolaan dana oleh profesional dapat membantu menjaga kinerja investasinya.

“Jadi saya takut investasi saya di saham justru hangus karena makro yang makin buruk,” ucap Ary. 

Strategi Jaga Stabilitas Portofolio

Riri (42), seorang peneliti ekonomi mikro di The SMERU Research Institute, pun takut portofolionya tergerus karena kondisi ekonomi saat ini. 

Wanita alumnus Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) itu menjadikan reksa dana pasar uang sebagai instrumen utama untuk dana darurat dan kebutuhan likuid jangka pendek. Menurut dia, RDPU sangat ideal untuk dana darurat (emergency fund) karena risikonya rendah, likuiditas tinggi, dan lebih stabil saat pasar sedang bergejolak.

“Bagi saya bukan untuk tujuan jangka panjang. Instrumen ini memberikan rasa aman karena risikonya rendah dan dana bisa dicairkan dengan cepat saat dibutuhkan,” ujar Riri kepada Katadata.co.id, Kamis (30/4). 

Namun, untuk tujuan investasi jangka panjang, Riri tetap melakukan diversifikasi ke beberapa jenis reksa dana lainnya, seperti RD campuran, RD pendapatan tetap, RD saham, hingga RD indeks. Strategi ini demi portofolionya seimbang antara stabilitas dan potensi pertumbuhan.

Saat ini, Riri mengaku sekitar 80% portofolio investasinya ditempatkan pada reksa dana dalam berbagai jenis, sementara 20% sisanya berada di saham. Porsi saham tersebut dibagi menjadi dua strategi: separuh untuk trading jangka pendek dan separuh lagi untuk investasi jangka panjang.

Namun, sekitar satu bulan lalu, Riri memutuskan untuk menjual sebagian porsi saham trading jangka pendeknya ketika eskalasi perang Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas. Dana tersebut dialihkan untuk menambah porsi reksa dana pasar uang karena dinilai lebih defensif dan stabil dalam menghadapi kondisi krisis seperti saat ini.

“Saham tetap penting untuk pertumbuhan, tetapi di masa krisis, reksa dana pasar uang memberikan ketenangan yang jauh lebih besar,” katanya.

Portofolio investasinya saat ini memang cenderung konservatif. Baginya, reksa dana pasar uang berfungsi sebagai pelindung likuiditas. Sementara pertumbuhan jangka panjang tetap didorong melalui instrumen reksa dana jenis lain yang memiliki potensi return lebih tinggi.

“Saya lebih nyaman menjaga kestabilan aset sambil tetap membuka peluang pertumbuhan melalui saham dan reksa dana lainnya. Jadi menurut saya kombinasi ini paling ideal,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan portofolio reksa dananya menunjukkan hasil yang cukup konsisten. Dengan strategi pembelian rutin setiap bulan, Riri merasa metode ini membantu disiplin investasi sekaligus mengurangi risiko masuk di waktu yang kurang tepat. Ia mengaku reksa dana pasar uang membantu untuk tujuan keuangan jangka menengah hingga jangka panjang. 

“Yang paling saya rasakan adalah ketenangan. Karena investasinya rutin dan tidak perlu terlalu memikirkan timing pasar, hasilnya justru lebih stabil,” tuturnya.

Di tengah tekanan inflasi, Riri menilai investor tidak perlu memilih antara saham atau reksa dana pasar uang secara ekstrem. Menurutnya, keduanya memiliki fungsi yang berbeda dan justru harus saling melengkapi.

“Kalau bicara inflasi, tentu kita ingin uang tetap bertumbuh. Tapi bukan berarti semua harus masuk saham. Reksa dana pasar uang menjaga keamanan, sementara reksa dana saham dan instrumen lain membantu pertumbuhan. Jadi yang paling penting adalah keseimbangan,” ucap Riri.

Riri mengatakan investasi bukan soal mencari keuntungan terbesar dalam waktu singkat, melainkan membangun kestabilan finansial yang berkelanjutan. Dalam hal itu, ia mendiversifikasi portofolionya dan itu menjadi kunci utama menghadapi dinamika pasar yang terus berubah.

Untung rugi reksa dana
Untung rugi reksa dana (AI / Diolah Katadata)

Alternatif Aman Saat Pasar Bergejolak

Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto mengaku dari seluruh jenis reksa dana yang ada, reksa dana pasar uang menjadi jenis reksa dana yang paling konservatif. Adapun reksa dana pasar uang berisi instrumen seperti deposito, obligasi dengan tenor di bawah satu tahun, serta SRBI. 

Menurutnya fluktuasi harganya relatif sangat minim. Meski kenaikan yield tetap bisa memengaruhi kinerja, dampaknya cenderung tipis. Sejak dulu, instrumen ini memang kerap menjadi alternatif deposito sekaligus tempat parkir dana sebelum investor beralih ke produk dengan risiko lebih tinggi.

Ia juga menyoroti penetrasi pasar reksa dana pasar uang tergolong baik, tercermin dari dana kelolaan yang terus meningkat. Selain itu, produk reksa dana pasar uang juga memiliki sejumlah keunggulan. Misalnya bukan objek pajak, proses pencairan yang relatif mudah, hingga kinerja yang dinilai lebih kompetitif dibandingkan deposito.

“Asumsi return sekarang yang wajar adalah 3,5-4,5% per tahun,” kata Rudiyanto kepada Katadata.co.id, Rabu (6/5). 

Selain itu Rudiyanto menyebut pergerakan harga reksa dana pasar uang tetap bisa berfluktuasi secara harian. Namun, karena sifatnya yang sangat konservatif, penurunannya cenderung terbatas dan dalam banyak waktu kinerjanya bergerak naik.

Instrumen reksa dana pasar uang juga tidak hanya berupa deposito, tetapi juga mencakup obligasi jangka pendek. Dalam kondisi suku bunga menurun, harga obligasi biasanya akan meningkat.

Sesuai karakteristiknya, reksa dana pasar uang umumnya direkomendasikan bagi investor dengan horizon investasi jangka pendek, yakni kurang dari satu tahun.

“Misalkan Anda sedang menyiapkan rencana liburan akhir tahun atau rencana pulang kampung pada saat libur Lebaran, bisa mempertimbangkan jenis reksa dana ini,” ujarnya.

Potensi imbal hasil reksa dana pasar uang dalam jangka panjang memang tidak setinggi reksa dana saham. Namun, menurut Rudiyanto risikonya juga jauh lebih rendah sehingga peluang merugi relatif kecil. 

Sebagian dari porsi dana darurat juga bisa ditempatkan di reksa dana pasar uang. Sebab dengan potensi imbal hasil yang setara atau berpotensi lebih tinggi dari deposito dan kemudahan dalam pencairan, reksa dana pasar uang juga cocok untuk memaksimalkan hasil pengembangan dana darurat.

“Anda tentu tidak berharap rencana pulang kampung sekeluarga saat libur Lebaran jadi batal karena harga saham sedang turun bukan?,” ucap Rudiyanto.

Tahan Banting di Tengah Lesunya Pasar Modal

Kala dihantam gejolak ekonomi, data menunjukkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana justru bergerak berlawanan dengan mayoritas indeks pasar. Saat IHSG, LQ45, dan IDX80 mencatatkan kinerja negatif hingga April 2026, NAB reksa dana tetap tumbuh positif dan konsisten berada di zona hijau.

Kinerja Indeks Rekasana
Kinerja Indeks Rekasadana (AI/ diolah Katadata)

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi, mengatakan total AUM industri reksa dana per April 2026 mencapai Rp 694,72 triliun. Torehan ini naik 5,47% year-to-date (ytd). 

”Kinerja industri reksa dana tetap terjaga ditopang oleh kecenderungan investor untuk melakukan subscription, dengan angka net subscription sebesar Rp 8,11 triliun secara mtd dan Rp 37,24 triliun secara ytd,” kata Hasan dalam konferensi pers RDK OJK, Selasa (5/5).

Seiring dengan naiknya AUM reksa dana, jumlah investor di pasar modal dalam negeri naik sebanyak 1,74 juta investor baru pada bulan April 2026 (mtm). Dengan perkembangan tersebut, secara ytd jumlah investor di pasar modal melesat 30,06% menjadi 26,49 juta investor.

Pintar Reksa Dana Lewat Program SIMUDA

Demi memperluas basis investor domestik, khususnya di instrumen reksa dana, OJK meluncurkan Program Investasi Terencana dan Berkala Reksa Dana atai PINTAR Reksa Dana pada 27 April 2026. 

Program ini menjadi bagian dari reformasi struktural untuk memperkuat peran pasar modal sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perekonomian nasional. Peluncuran PINTAR Reksa Dana juga menjadi langkah pendalaman pasar yang dijalankan secara terintegrasi melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan di industri keuangan.

Ketua Presidium Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI), Lolita Liliana, mengatakan program PINTAR Reksa Dana dirancang agar masyarakat memiliki tujuan finansial yang lebih terukur, sekaligus mendorong disiplin investasi, meningkatkan akses dan inklusi keuangan, serta memudahkan diversifikasi portofolio.

Melalui program itu, masyarakat dapat berinvestasi secara berkala dengan nominal fleksibel, baik mingguan, bulanan, bahkan harian. Menurut Lolita, sudah ada perbankan yang menyediakan skema investasi harian mulai dari Rp 10.000.

Ia menjelaskan pola investasi penting untuk membantu investor menghadapi fluktuasi pasar. Dengan metode averaging, investor tidak perlu menebak kapan pasar berada di titik tertinggi atau terendah karena investasi dilakukan secara rutin dan konsisten. 

Lolita mengatakan investasi berkala melalui reksa dana tidak hanya bermanfaat bagi investor, tetapi juga bagi pasar keuangan domestik. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang rutin berinvestasi, basis investor dalam negeri akan semakin kuat sehingga pasar modal Indonesia menjadi lebih stabil saat menghadapi gejolak.

“Bisa dipakai untuk pembiayaan. Pembiayaan sektor-sektor, swasta bisa, pemerintah juga bisa,” kata Lolita.

Lebih lanjut, program PINTAR Reksa Dana juga menjadi upaya seiring besarnya kebutuhan investasi nasional dalam beberapa tahun ke depan. Hasan Fawzi menyebut Kementerian PPN/Bappenas memproyeksikan kebutuhan investasi Indonesia sepanjang 2025–2029 mencapai Rp 47.573 triliun. 

Di tengah keterbatasan kapasitas pendanaan APBN, pasar modal diharapkan mengambil peran lebih besar, baik melalui instrumen saham, obligasi, maupun reksa dana. Dari total kebutuhan itu, pasar modal ditargetkan dapat berkontribusi sekitar 3,81% atau setara Rp 1.812 triliun.

“Hal ini mencerminkan besarnya potensi pasar modal sebagai salah satu pilar utama pendukung pembiayaan ekonomi nasional kami,” ungkap Hasan. 

Penguatan integritas pasar modal, menurut OJK, tidak cukup hanya ditopang tata kelola yang baik, tetapi juga harus dibarengi dengan semakin luasnya partisipasi investor domestik. Hingga 24 April 2026, jumlah investor di industri pengelolaan investasi tercatat mencapai 24,86 juta investor, dengan mayoritas memulai perjalanan investasinya melalui produk reksa dana.

Hal ini sekaligus menegaskan peran reksa dana sebagai pintu masuk utama bagi investor pemula untuk mengenal pasar modal. Menariknya, Hasan menyebut sebanyak 54,71% investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun. Dominasi generasi muda itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa masa depan pasar modal Indonesia akan banyak digerakkan oleh investor muda.

Di tengah tren tersebut, Hasan mengatakan peluncuran program PINTAR Reksa Dana yang dikolaborasikan dengan program Simuda menjadi langkah konkret untuk memperluas akses investasi sekaligus mendorong partisipasi masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih dekat dengan instrumen pasar modal.

Melalui pendekatan systematic investment plan (SIP) dan kemudahan investasi lewat rekening Simuda, program ini diharapkan dapat membentuk kebiasaan investasi yang lebih disiplin, rutin, dan berkelanjutan di kalangan masyarakat.

“Sehingga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat luas dalam membangun kebiasaan berinvestasi yang sehat sejak dini,” ucap Hasan. 

Dari sisi industri, ekosistem reksa dana juga terus berkembang pesat. Sejak Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) berdiri pada 1999 yang awalnya hanya beranggotakan manajer investasi dan bank kustodian, saat ini tercatat terdapat 89 manajer investasi dan 28 bank kustodian.

Kemudian terdapat 33 agen penjual reksa dana bank, 18 agen penjual reksa dana online, serta lebih dari 6.500 pemegang izin perorangan Wakil Manajer Investasi (WMI) dan Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana (WAPERD). Perkembangan tersebut mendorong APRDI bertransformasi menjadi Dewan APRDI pada 2017 dengan anggota yang terdiri dari enam asosiasi pelaku industri.

Enam asosiasi tersebut meliputi Asosiasi Manajer Investasi Indonesia (AMII), Asosiasi Bank Kustodian Indonesia (ABKI), Asosiasi Bank Penjual Reksa Dana Indonesia (ABPRI), Perkumpulan Agen Penjual Efek Reksa Dana Online (PAPERDO), Asosiasi Penasihat Investasi Indonesia (APII), serta Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia (PWMII).





add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...