Mengingat Bahaya Judi Online Lewat Lakon Wayang Kuliterasi
“Dodotiro, dodotiro.. Kumitir bedah ing pinggir.. Dondomono, jlumatono”
Sepenggal lirik dari tembang Ilir-ilir membuka sebuah lakon. Lakon dari sebuah peristiwa yang nantinya akan memicu malapetaka bagi sebuah kota, Amarta, dan semua penyebabnya adalah hal sederhana, kebodohan atas nafsu diri dari tiga orang pria.
Tiga orang itu adalah Prabu Duryudana, Patih Sengkuni, dan Prabu Puntadewa. Dalam lakon Wayang Kuliterasi bertajuk “Pandawa Kalah Judol”, cerita dimulai dari Balai Kadipaten Ngastina. Duryudana tampak gelisah ketika melihat Kerajaan Amarta yang dipimpin Pandawa terus berkembang.
“Aduh, Patih Sengkuni... atiku iki rasane mangkel lan iri ndeleng Kerajaan Amarta. Pandawa makin maju, negarane makin sugih lan megah. Aku iki bad mood banget, Patih!” ujar Duryudana dalam acara Katadata Financial Healing di Taman Literasi Martha Tiahahu, Jakarta, Sabtu malam (3/10).
Kegelisahan itu kemudian mendapat balasan dari Sengkuni. Alih-alih mengajak Duryudana berperang secara langsung, Sengkuni menawarkan strategi yang disebutnya sesuai dengan zaman.
“Wong-wong zaman saiki iku gampang diajaki, gampang diprak-prak, mung modal ngeklik wae gelem,” kata Sengkuni.
Menurutnya, Kurawa tidak perlu menggunakan jalan kekerasan untuk menjatuhkan Pandawa. Media sosial dan teknologi dapat menjadi sarana untuk mempengaruhi orang.
“Kita atur strategi, kita provokasi lan ajak Pandawa main judi!” lanjutnya.
Rencana itu mulai dijalankan ketika Puntadewa dan Bima datang berkunjung ke Ngastina. Duryudana menyambut Puntadewa dan mengajaknya bermain dadu dengan alasan mempererat hubungan persaudaraan.
“Untuk memperingati persaudaraan lan nostalgia, ayo kita dolanan dadu sithik-sithik, mung hiburan wae,” kata Duryudana.
Bima langsung memperingatkan Puntadewa. Ia melihat ajakan tersebut sebagai akal-akalan Kurawa.
“Kakang Puntadewa, ojo dituruti! Iku akal-akalan Kurawa. Judi iku ora ono apike, mung nggawe sengsara!” ujar Bima.
Namun, Puntadewa tetap menerima ajakan tersebut. Ia menganggap permainan itu sebatas hiburan bersama saudara.
Permainan dimulai tanpa taruhan uang. Puntadewa memilih angka dua, sementara Duryudana memilih angka empat. Setelah dadu dikocok, angka dua keluar. Puntadewa menang.
Kekalahan itu tidak membuat Duryudana berhenti. Ia justru meminta permainan diulang.
“Baleni maneh, durung panas!” katanya.
Memasuki putaran kedua, permainan mulai melibatkan uang. Duryudana memasang taruhan 200 dolar dari brankas pribadinya. Puntadewa menerima tantangan tersebut.
“Aku nyanggupi! Aku pilih angka lima,” ujar Puntadewa.
Duryudana memilih angka tiga. Dadu kembali dikocok. Angka lima keluar. Puntadewa kembali menang dan membawa uang taruhan.
Kemenangan tersebut justru membawa permainan ke tahap yang lebih besar.
Duryudana kemudian menaikkan taruhan. Kali ini bukan uang yang dipertaruhkan.
“Yen kowe wani, taruhane aja mung dhuwit minor! Pertaruhno Negaramu Amarta sak isine lan para adhimu, tak tandingi karo Negara Ngastina lan sak isine!” kata Duryudana.
Bima kembali mencoba menghentikan Puntadewa.
“Kakang Puntadewa! Ojo gelem, iki wis ngawur! Bakal entek kabeh yen dituruti!” katanya.
Namun, Puntadewa merasa harga dirinya telah ditantang. Ia menerima pertaruhan tersebut dan mempertaruhkan Kerajaan Amarta beserta seluruh isinya.
“Aku pilih angka telu,” ujar Puntadewa.
Duryudana memilih angka lima.
Permainan memasuki babak terakhir. Kali ini, hasil permainan tidak lagi sekadar menentukan siapa yang membawa pulang uang. Masa depan Amarta dan para Pandawa ikut dipertaruhkan.
Dadu kemudian dikocok.
Namun, permainan itu sejak awal tidak berlangsung secara adil. Sengkuni menggunakan benang sutra untuk memengaruhi pergerakan dadu. Dengan cara tersebut, dadu diarahkan hingga menunjukkan angka lima.
“Sengkuni sing licik nyekel benang sutra, dadu diputer-puter nganti metune angka lima,” tutur dalang.
Duryudana pun dinyatakan sebagai pemenang.
“Haha! Metu angka lima! Duryudana sing menang! Amarta saiki dadi duweke Kurawa!” kata Sengkuni.
Bagi Pandawa, kekalahan itu berarti hilangnya Amarta. Bima kembali mengingatkan akibat dari permainan yang sejak awal ia tolak.
“Kandhani kok! Akibat judi, negara amblas, paseduluran rusak!” ujar Bima.
Lakon “Pandawa Kalah Judol” menempatkan perjudian sebagai pintu masuk konflik yang lebih besar. Permainan yang pada awalnya disebut sebagai hiburan berubah menjadi taruhan uang, lalu berkembang menjadi pertaruhan terhadap sesuatu yang jauh lebih besar.
Di dalam lakon tersebut, kejatuhan Amarta tidak semata-mata terjadi karena kecurangan Sengkuni. Kejatuhan itu dimulai ketika Puntadewa menerima permainan yang sejak awal telah diperingatkan oleh Bima. Dari permainan tanpa taruhan, naik menjadi taruhan uang, hingga akhirnya mempertaruhkan kerajaan.
Amarta akhirnya jatuh ke tangan Kurawa. Permainan yang semula disebut sebagai hiburan berakhir dengan hilangnya negara dan rusaknya persaudaraan.
Lakon “Pandawa Kalah Judol” menyampaikan pesan bahwa perjudian dapat bermula dari sesuatu yang dianggap sederhana dan menghibur. Ketika seseorang mulai mengejar kemenangan dan tidak mampu mengendalikan diri, taruhan dapat terus meningkat hingga membawa kerugian yang lebih besar.
Puntadewa kehilangan Amarta setelah mengabaikan peringatan Bima dan membiarkan harga diri membawanya masuk lebih jauh ke dalam permainan. Sementara itu, Sengkuni menggambarkan bagaimana teknologi dan ruang digital dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi seseorang.
Melalui kisah Pandawa, lakon ini mengingatkan bahwa persoalan judi tidak berhenti pada kehilangan uang. Ketika dibiarkan, perjudian dapat merusak hubungan, menghilangkan kepercayaan, dan membuat seseorang kehilangan kendali atas keputusan yang diambilnya.
