Ace Oldfields Beli Tanah dan Bangunan di Bogor dari Dana Hasil IPO
PT Ace Oldfields Tbk (KUAS) akhirnya merealisasikan pembelian tanah seluas 10.705 meter persegi beserta bangunannya senilai Rp 28 miliar dari dana hasil penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) yang berlangsung Oktober 2021 lalu.
Perjanjian jual beli tanah dan bangunan telah ditandatangani oleh pemilik tanah dan dewan direksi di hadapan komisaris dan notaris pada 29 Desember 2021 lalu.
“Kami telah melaksanakan transaksi jual beli untuk sebagian tanah dan bangunan yang digunakan saat ini sesuai dengan tujuan IPO,” ujar Sekretaris Perusahaan Ace Oldfields, Hadi Sunardi dalam pengumuman tertulis di laman Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (14/2).
Sebelumnya, perusahaan telah menyewa tanah beserta bangunannya seluas 22.380 m2 untuk keperluan produksi, penyimpanan bahan baku, dan barang jadi. Pembiayaan untuk menyewa tanah beserta bangunan tersebut senilai Rp 4,8 miliar setiap tahunnya.
Bagian tanah seluas 10.705 m2 beserta bangunan sedang dalam proses pelunasan pembayaran secara bertahap sesuai kesepakatan dengan pemilik tanah serta bangunan. Untuk sisa tanah serta bangunan yang masih digunakan tetap disewa sehingga produktifitas dan kegiatan usaha perseroan tetap berjalan tanpa hambatan.
“Diharapakan dengan adanya transaksi ini, produksi perseroan dapat lebih efisien dan meningkatkan produktifitas dan penjualan” kata Hadi.
Sebelumnya, perusahaan bidang produksi peralatan dan perlengkapan pengecatan itu mencatatkan sahamnya di pasar modal dengan harga Rp 195. Nilai ini berada di batas bawah harga penawaran awal yakni, Rp 195 - Rp 250.
Dikutip dalam prospektus IPO, produsen kuas cat ini menawarkan maksimal 390 juta saham baru dengan nominal Rp 50. Jumlah saham tercatat 30,17% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan. Dengan harga penawaran yang ditetapkan, proyeksi jumlah dana yang akan diperoleh perusahaan menjadi Rp 76 miliar.
Dalam waktu bersamaan, Ace Oldfields juga menerbitkan maksimal 130 juta waran seri I yang menyertai saham baru atau maksimal 14,4% saham perusahaan. Waran diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif bagi para pemegang saham baru.
Setiap 3 saham baru berhak memperoleh 1 waran seri I. Instrumen ini memberi hak kepada pemegangnya untuk membeli 1 saham baru yang dikeluarkan dalam portepel dan berlaku selama 6 bulan.
Sebanyak 39,4% dari dana hasil penawaran umum perdana saham akan digunakan untuk pembelian sebagian tanah dan bangunan di Jonggol, Bogor, dari pihak afiliasi senilai Rp 28 miliar. Tujuannya, untuk mengurangi biaya sewa perusahaan dan pengembangan usaha di masa mendatang.
"Transaksi (pembelian tanah) akan dilakukan paling lambat tiga bulan setelah dana IPO diterima," demikian tertulis dalam prospektus perusahaan dikutip Kamis (23/9).
Sisanya, 60,6% dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja perusahaan, yakni membeli bahan baku, beban operasional, dan biaya pemasaran. Sementara itu, dana dari pelaksanaan waran seri I juga akan digunakan untuk modal kerja.
Perusahaan pertama kali didirikan di Bogor pada 1989 dengan nama PT Ace Panbrush Industry. Perusahaan milik pengusaha lokal ini bergerak di bidang industri kayu, barang dari kayu dan gabus, dan barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya.
Barang-barang dari kayu yang diproduksi antara lain, alat tenun, gantungan bayu, sumpit, tusuk gigi, sempoa, penggaris, dan papan tulis. Termasuk pula alat-alat kerja dari kayu di antaranya, plesteran, palu, rumah serutan kayu, gagang pegangan perkakas, palet, papan cucian, dan sejenisnya.
Kemudian, pada 1996, Ace Panbrush Industry melakukan joint venture dengan Oldfields International Pty Ltd of Australia, produsen perlengkapan pengecatan di Australia yang berdiri sejak 1916.
Ace Oldfields bertransformasi menjadi produsen peralatan pengecatan di Indonesia, terutama kuas cat dan baki cat. Dalam pemasarannya, perusahaan tidak hanya menjual produk di pasar domestik, tetapi juga ekspor ke sejumlah negara tujuan yakni, Australia, Selandia Baru, dan Eropa.
Berdasarkan laporan keuangan per Mei 2021, perusahaan membukukan pendapatan Rp 42,16 miliar, dengan beban pokok pendapatan Rp 33,26 miliar. Dengan demikian, laba kotor yang diperoleh Rp 8,89 miliar.
Perusahaan juga menggelontorkan sejumlah pengeluaran antara lain, beban umum dan administrasi Rp 7,27 miliar, beban bunga dan keuangan Rp 1,79 miliar. Namun, dengan pendapatan lain-lain yang mencapai Rp 1,81 miliar, perusahaan berhasil mencatat laba sebelum pajak penghasilan Rp 1,64 miliar. Secara total, laba bersih Ace Oldfields per Mei 2021 tercatat Rp 1,52 miliar.
