Tutup 150 Toko, Perusahaan Ritel AS Bed Bath and Beyond Bangkrut

Patricia Yashinta Desy Abigail
28 April 2023, 17:47
Tutup 150 Toko, Perusahaan Ritel AS Bed Bath and Beyond Bangkrut
Istimewa
Bed Bath & Beyond Bangkrut

Perusahaan ritel peralatan rumah tangga Amerika Serikat Bed Bath and Beyond di ambang kebangkrutan. Perusahaan yang berbasis di Union, New Jersey ini mengajukan kepailitan Bab 11 pada 23 April 2023. 

Melansir Bloomberg, langkah tersebut diambil setelah berbulan-bulan peringatan tentang kemampuannya untuk tetap beroperasi. Bed Bath & Beyond menjadi saham meme pertama yang memenuhi nasib yang diramalkan Wall Street, yang mengajukan kebangkrutan.

Saham meme diartikan sebagai saham pada sebuah perusahaan yang telah mengalami peningkatan besar yang ramai diborong oleh investor retail dan disebabkan oleh aktivitas viral seperti dari platform sosial seperti Reddit.

Bed Bath and Beyond, yang dicatatkan di bursa Nasdaq, mengalami penurunan harga saham sebesar 99% di tahun ini. Emiten dengan kode saham BBBY ini mencatatkan kerugian bersih senilai US$ 392 juta dengan pendapatan yang anjlok 33% menjadi US$ 1,26 miliar pada kuartal IV 2022. 

Berdasarkan data Vanda Research, investor ritel yang bertaruh pada saham meme kemungkinan besar akan mengalami kerugian hampir US$ 140 juta di tahun ini.

Melansir Business Insider, perusahaan ritel mengatakan memiliki keraguan untuk dapat terus beroperasi di tengah situasi yang menimpa mereka pada Komisi Sekuritas dan Bursa. Hal ini diungkapkan setelah perusahaan beberapa kali mengalami peristiwa negatif.

Bahkan pada September 2022, Bed Bath and Beyond mengumumkan akan menutup 150 toko dan memangkas 20% posisi perusahaannya dalam upaya menekan beban. Adapun pada Juni 2022 perusahaan melaporkan kerugian bersih US$ 358 juta pada kuartal pertama.

Tak hanya itu, perusahaan turut merombak jajaran pengurus mulai dari mengganti CEO yaitu Mark Tritton dan sejumlah eksekutif lainnya pada saat itu. 

Namun, situasi makin memburuk tatkala investor dan Ketua GameStop Ryan Cohen menjual 9,8% saham Bed Bath & Beyond. Di mana bermunculan peringatan dari para analis bahwa perusahaan sedang berada di ambang kiamat.

Pada September 2022, perusahaan digemparkan kabar CFO perusahaan Gustavo Arnal yang tewas setelah jatuh dari gedung New York City. Kabarnya, Gustavo merupakan subjek gugatan seputar perdagangan orang dalam.

Sejarah Bed Bath & Beyond

Bed Bath & Beyond didirikan pada tahun 1971 di New Jersey oleh Warren Eisenberg dan Leonard Feinstein. Dulu nama perusahaannya adalah Bed 'n Bath, untuk mencerminkan produk utamanya yaitu linen khusus dan produk mandinya. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi Bed Bath & Beyond pada tahun 1987.

Pada 1985, Bed Bath & Beyond berkembang menjadi 17 lokasi, terutama di wilayah New York dan California. Tahun 1980 juga menandai era naiknya persaingan untuk Bed Bath & Beyond, sebab munculnya toko seperti Linens 'n Things.

Untuk membalas persaingan tersebut, perusahaan meluncurkan konsep superstore pertamanya pada tahun 1985. Perusahaan membuat toko seluas 20.000 kaki persegi yang akan menjadi model toko Bed Bath & Beyond modern.

Toko besar baru ini menampilkan beragam merek dan produk di hampir setiap warna dan gaya. Hal ini membedakannya dari department store lain pada saat itu yang cenderung menyimpan koleksi koleksi khusus yang terbatas.

Selama beberapa tahun berikutnya, Bed Bath & Beyond membuka lebih banyak superstore di New Jersey, California, Virginia, Illinois, Maryland, dan Florida. Seiring dengan majunya bisnis, perusahaan mengajukan initial public offering atau IPO pada Juni 1992.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Patricia Yashinta Desy Abigail

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...