Andry Setiawan Dikabarkan Tinggalkan Kursi Co CIO INA
Andry Setiawan dikabarkan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Co Chief Investment Officer (Co-CIO) Indonesia Investment Authority (INA). Mundurnya Setiawan menambah kekosongan pimpinan di sovereign wealth fund (SWF) pertama Indonesia tersebut.
Merujuk laporan Bloomberg, Setiawan yang merupakan salah satu dari dua CIO INA, mengajukan pengunduran diri pada awal bulan ini dan saat ini tengah menjalani masa pemberitahuan (notice period). Dengan mundurnya Setiawan, kini tinggal hanya dua dari lima kursi dewan INA yang diisi pejabat definitif. Sementara sisanya masih dijabat oleh pelaksana tugas atau plt.
Sebelumnya, Chief Executive Officer (CEO) INA, Ridha Wirakusumah menyelesaikan masa jabatannya pada 15 Februari dan hingga kini belum memiliki pengganti. Posisi Chief Risk Officer (CRO) juga kosong sejak Thomas Oentoro bergabung dengan maskapai nasional PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) pada Oktober lalu.
Untuk sementara, Chief Financial Officer (CFO) Eddy Porwanto ditunjuk sebagai pelaksana tugas CEO dan CRO. Adapun satu CIO lainnya yaitu Christopher Ganis tetap menjabat.
Katadata telah meminta konfirmasi manajemen INA terkait pengunduran diri Setiawan. Mereka berjanji untuk menyampaikan keterangan resmi segera.
"Sebentar ya, saya akan share official statement kami," kata Corporate Communication INA, Aditia Grasio Nelwan, dalam pesan teksnya kepada Katadata, Rabu (25/2].
Ketidakpastian kepemimpinan di INA terjadi di tengah akselerasi SWF Indonesia lainnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara yang dikabarkan mulai meningkatkan penyaluran investasi dari dana kelolaan sebesar US$ 12 miliar.
Seperti Danantara, INA melapor langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Lembaga yang berdiri pada Desember 2020 ini memiliki mandat untuk menarik modal baru ke Indonesia melalui skema co-investment langsung dan solusi modal hibrida, termasuk kredit swasta.
Berdasarkan presentasi perusahaan pada Februari, INA telah menggelontorkan lebih dari US$ 4,5 miliar bersama mitra investor di berbagai sektor, mulai dari transportasi dan infrastruktur, digital, energi hijau, kesehatan hingga pendidikan.
Pada 2024, INA memperoleh komitmen co-investment hingga US$ 2,75 miliar dari Abu Dhabi Investment Authority dan APG Asset Management untuk proyek jaringan jalan tol di Indonesia. Awal tahun ini, INA juga berpartisipasi dalam pendanaan Seri C senilai US$2 miliar untuk DayOne Data Centers, unit internasional operator pusat data asal Cina GDS Holdings Ltd.
Selain itu, INA aktif di pembiayaan kredit swasta. Lembaga ini menjadi salah satu pemberi pinjaman dalam fasilitas kredit US$250 juta kepada perusahaan energi dan kimia Chandra Asri Pacific untuk mendukung akuisisi SPBU bermerek Esso di Singapura dari Exxon Mobil. INA juga terlibat dalam pendanaan privat senilai US$300 juta untuk perusahaan rintisan perjalanan Traveloka Indonesia.
