Aksi Amman Mineral AMMN Jelang Berakhirnya Relaksasi Ekspor Konsentrat April

Nur Hana Putri Nabila
11 Maret 2026, 07:03
RUPS PT Amman Mineral Internasional Tbk, ammn,
Amman Mineral
RUPS PT Amman Mineral Internasional Tbk
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mengungkapkan sejumlah langkah perusahaan menjelang berakhirnya masa relaksasi ekspor konsentrat tembaga dari pemerintah pada April.

Vice President Corporate Communications Amman Mineral Kartika Octaviana mengatakan, perusahaan belum memutuskan akan mengajukan perpanjangan relaksasi ekspor konsentrat tembaga. Saat ini, perusahaan masih berfokus menyelesaikan perbaikan fasilitas smelter agar operasional dapat pulih secepatnya dan kapasitas produksi meningkat secara bertahap.

Selain itu, Amman Mineral akan terus berupaya melakukan perbaikan hingga batas relaksasi bulan depan sesuai dengan arahan pemerintah. Apabila nantinya ada pengajuan untuk memperpanjang ekspor konsentrat tembaga, maka akan ada evaluasi dan verifikasi lagi. 

“Sebab, masih ada 1,5 bulan. Banyak hal bisa terjadi, tetapi sejauh ini sudah cukup baik, bahkan lebih baik dari yang kami harapkan,” kata Vina ketika ditemui di Jakarta, Selasa (11/3). 

Vina mengatakan smelter menjadi tantangan bagi perusahaan, karena selama ini fokus utama AMMN yakni menambang. Seiring dengan perbaikan smelter, ia menyebut Amman Mineral masih beradaptasi dengan berbagai aspek baru dalam proses pengolahan mineral, seperti pengelolaan sulfur dan komponen lainnya.

Menurut dia, proses perbaikan masih berjalan seiring perusahaan berupaya meningkatkan kapasitas operasi smelter secara bertahap. Namun, apabila berkaca di luar negeri, proses hingga smelter bisa operasi stabil biasanya memakan waktu sekitar dua hingga tiga tahun.

Meski begitu, ia mengatakan AMMN mampu menyelesaikan pembangunan smelter dalam waktu cepat sekitar dua hingga tiga tahun, sekaligus berupaya mempercepat pengoperasiannya sesuai amanat pemerintah.

Sebelumnya, pemberian izin ekspor ini terkait dengan kondisi kahar di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) perusahaan. Kemudian anak usaha AMMN, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memperoleh rekomendasi ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). 

Izin ekspor 480 ribu metrik ton kering (dmt) ini berlaku selama enam bulan, mulai 31 Oktober 2025 hingga April 2026. 

Presiden Direktur AMNT Rachmat Makkasau menjelaskan, smelter sempat berhenti beroperasi sementara pada Juli dan Agustus 2025 karena perbaikan pada unit Flash Converting Furnace dan Sulfuric Acid Plant. Ia mengatakan kegiatan operasional fasilitas smelter AMNT terpaksa dihentikan sementara untuk mencegah kerusakan lebih parah dan risiko bagi keselamatan kerja.

“Kerusakan ini terjadi murni di luar kemampuan kami, tidak disengaja, dan tidak dapat dihindari,” ujar Rachmat dalam keterangan resmi, pada November 2025.

Berdasarkan laporan kinerja hingga September 2025, AMMN menargetkan produksi 430.000 dmt konsentrat tembaga pada 2025 dengan kandungan sekitar 228 juta pon tembaga dan 90.000 ons emas. 

Hingga 30 September 2025, produksi telah mencapai 310.143 dmt, dengan 273.506 dmt di antaranya telah diumpankan ke smelter. Sementara itu, total persediaan konsentrat tercatat 226.637 dmt pada akhir September 2025. 

Kontribusi AMMN ke Ekonomi Capai Rp 173 Triliun per Tahun 

Seiring dengan itu, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB Universitas Indonesia menilai beroperasinya smelter tembaga milik AMMN berpotensi meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus memperkuat hilirisasi industri mineral nasional.

Kepala Kajian Natural Resources and Energy Studies LPEM FEB UI, Uka Wikarya, menyebut smelter tersebut juga dapat mendorong perkembangan industri hilir berbasis logam, seperti elektronik, energi, dan manufaktur. Dengan dukungan kebijakan hingga penguatan ekosistem industri hilir, AMMN dinilai berpotensi menjadi salah satu pendorong struktur ekonomi nasional.

“Lalu meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan dan inklusif,” tulis Uka dalam hasil kajian bertajuk “Analisis Dampak Makroekonomi dan Sosial Ekonomi AMNT sepanjang periode 2018 hingga 2024” dikutip Rabu (11/3). 

Dalam kajiannya, Uka menyebut kontribusi AMMN terhadap pembentukan PDB nasional mencapai Rp 173,4 triliun atau rata-rata Rp 24,8 triliun per tahun. Angka ini setara sekitar 0,13% dari PDB atas dasar harga berlaku nasional pada 2024.

Kajian tersebut juga mencatat peningkatan pendapatan rumah tangga sebesar Rp 67,6 triliun. Kenaikan ini diperkirakan turut menurunkan tingkat kemiskinan nasional sebesar 0,024–0,098 poin persentase atau sekitar 80 ribu hingga 206 ribu orang. AMMN juga dinilai menekan tingkat pengangguran sebesar 0,012–0,069 poin persentase atau sekitar 29 ribu hingga 90 ribu orang.

Dari sisi fiskal, kata Uka, sepanjang 2018–2024, total kontribusi fiskal Amman baik pembayaran langsung ke kas negara maupun dampak tidak langsung dari aktivitas ekonominya mencapai Rp 39,05 triliun.

“Yang mencakup pembayaran pajak, royalti, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP), serta peningkatan penerimaan fiskal dari sektor-sektor terkait,” ucap Uka. 

Lebih jauh, dalam analisisnya Uka menyebut Amman juga berkontribusi signifikan terhadap penerimaan negara. Sepanjang 2018–2024, total kontribusi fiskal perusahaan baik pembayaran langsung ke kas negara maupun tidak langsung dari aktivitas ekonomi terkait mencapai Rp 39,05 triliun, yang mencakup pajak, royalti, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).

Dari sisi eksternal, aktivitas ekspor perusahaan turut berdampak positif terhadap neraca pembayaran Indonesia. Total ekspor AMMN selama periode tersebut mencapai US$ 10,29 miliar dan menghasilkan penghematan devisa bersih sekitar US$ 7,66 miliar atau rata-rata US$ 1,09 miliar per tahun.

“Temuan ini mengindikasikan peran AMMAN dalam memperkuat stabilitas eksternal dan cadangan devisa Indonesia,” tulis Uka.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...