Laba Anak Pelindo (IPCC) Cetak Rekor Tertinggi Naik 20%, Bagaimana Prospek 2026?
Emiten transportasi dan logistik Grup Pelindo, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) raup laba bersih sebesar Rp 256,51 miliar tahun buku 2025.
Torehan ini menandai rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH) dan melonjak 20,87% secara tahunan (yoy) dibandingkan laba tahun sebelumnya sebesar Rp 212,21 miliar.
Seiring dengan itu, IPCC mencatatkan pendapatan Rp 929,96 miliar atau naik 12,77% yoy dibandingkan Rp 824,60 miliar pada 2024. Torehan ini didukung oleh kontribusi dominan dari Branch Tanjung Priok sebesar 91% atau Rp 842,55 miliar dan terminal satelit di berbagai wilayah strategis Indonesia yang berkontribusi 9% atau Rp 85,15 miliar.
Direktur Utama IPCC Sugeng Mulyadi mengatakan IPCC memperluas layanan melalui penambahan kapasitas melalui Pre Delivery Center (PDC) hingga integrasi layanan logistik sepanjang 2025.
“Dan in-land transportation sekaligus optimalisasi lahan-lahan idle di sekitar perseroan untuk menampung lonjakan kargo yang melalui terminal kami,” ucap Sugeng dalam keterangannya, Kamis (26/3).
Dari sisi komposisi bisnis, segmen Completely Built Up (CBU) masih menjadi penopang utama kinerja Indonesia Kendaraan Terminal dengan pendapatan mencapai Rp 697,66 miliar. Kontribusi tersebut diikuti segmen alat berat sebesar Rp 82,67 miliar dan truk dan bus senilai Rp77,31 miliar.
Perseroan juga mendorong pertumbuhan melalui akselerasi tren kendaraan listrik atau Battery Electric Vehicle (BEV), yang menjadi salah satu katalis utama pada 2025. IPCC tercatat melayani lebih dari 101.731 unit kendaraan listrik didominasi merek asal Tiongkok yang menyumbang lebih dari 80.000 unit.
Seiring dengan itu IPCC berkomitmen dalam menjaga kualitas layanan, khususnya dari sisi keamanan, keselamatan, dan penanganan kargo. Sepanjang 2025, perseroan juga telah menerapkan sistem full single billing serta meluncurkan inovasi bisnis In-Land Transportation pada kuartal IV-2025.
Dari sisi keuangan, IPCC membukukan kenaikan total aset sebesar 11,21% menjadi Rp 2,05 triliun pada akhir 2025, dari Rp1,85 triliun pada 2024. Kenaikan ini didorong oleh lonjakan kas dan setara kas yang mencapai Rp 1,08 triliun atau tumbuh 33,55%.
Bagaimana Prospek 2026?
Adapun saat ini IPCC memiliki area 30 hektare dengan kapasitas sekitar 12.000 unit, baik untuk segmen kargo completely built up (CBU), alat berat, bus, maupun truk.
Pada 2026 ini, Asisten Senior Manager Corporate Communication dan CSR IPCC, Mochamad Ilhamsyah mengatakan IPCC berencana menambah kapasitas melalui ekspansi lahan di Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan lahan milik Pelindo. Aksi itu ditargetkan bisa meningkatkan kapasitas hingga sekitar 20.000 unit.
“Sehingga kalau misalnya market-market, automaker produksinya digenjot lagi, karena pemenuhan ekspor di luar negeri permintaannya tinggi, itu kami bisa nampung,” katanya ketika ditemui Katadata beberapa waktu lalu.
Di awal tahun ini, Ilham mengatakan IPCC sebenarnya memperkirakan pertumbuhan bisnis 2026 akan cenderung moderat sekitar 10%. Hal itu salah satunya karena impor kendaraan listrik menurun usai biaya insentif dihentikan. Namun apabila pemerintah kembali memberikan insentif di tengah 2026, impor kendaraan listrik bisa kembali naik dan menjadi tambahan kargo bagi perusahaan.
Raup Untung dari Konflik AS–Iran
Emiten transportasi dan logistik Grup Pelindo itu diketahui meraup sentimen positif dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ilham mengaku hal itu karena memanasnya geopolitik membuat pengiriman kargo ekspor tertahan selama beberapa hari. Hal itu berdampak ke salah satu merek mobil yang produksinya di Indonesia memiliki porsi ekspor yang cukup besar ke Timur Tengah.
Apalagi ia menyebut produksi mobil di pabrik tetap berjalan sehingga unit kendaraan yang siap dikirim terus bertambah. Sementara itu, ia mengatakam kapasitas gudang di negara tujuan juga terbatas sehingga jumlah kendaraan untuk ekspor sementara tertahan di terminal.
“Akhirnya mau enggak mau akan dibawa ke pelabuhan, nah berkahnya buat kami itu di biaya storage-nya,” kata Ilham ketika ditemui Katadata.co.id di Jakarta, dikutip Senin (16/3).
Tak hanya itu, ia mengatakan unit kendaraan yang akan diekspor tetap didorong untuk masuk ke pelabuhan lebih dulu. Apabila nantinya pengiriman ke Timur Tengah kembali normal, kata Ilham, kendaraan yang tertahan bisa langsung diekspor.
Apabila menilik kinerja operasional perusahaan hingga Februari 2026, kunjungan kapal konsolidasi tercatat mencapai 593 call atau naik 23,06% secara tahunan (yoy). Segmen kargo truck/bus tercatat meningkat 50,61% yoy atau bertambah 17.062 unit.
Secara keseluruhan, kinerja operasional terminal kendaraan yang mencakup CBU, alat berat, serta truck/bus tumbuh 13,53% yoy. Pada segmen CBU, IPCC menangani 62.630 unit kendaraan hingga Februari 2026, meningkat sekitar 35% yoy. Vietnam tercatat menjadi tujuan ekspor terbesar dengan volume mencapai 11.672 unit.
Keseluruhan segmen kargo CBU konsolidasi mencapai 139.480 unit atau naik 4,41% yoy. Sepanjang Januari–Februari 2026 IPCC menangani 195.729 unit kargo kendaraan, meningkat 23.319 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
