Fitch Tahan Rating BBCA di BBB, Outlook jadi Negatif Bagaimana Prospeknya?

Nur Hana Putri Nabila
22 April 2026, 12:32
BBCA
ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/tom.
Staf BCA memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang program pembiayaan KKB Refinancing pada Fin Expo 2025 di Pontianak Convention Center, Kalimantan Barat, Sabtu (18/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

 Lembaga pemeringkat kredit internasional, Fitch Ratings menegaskan peringkat kredit jangka panjang Bank Central Asia (BBCA) di level BBB dengan perubahan outlook menjadi negatif. Keputusan ini mencerminkan kuatnya profil bisnis dan profitabilitas perseroan, namun tetap dibayangi meningkatnya risiko eksternal, terutama terkait penurunan prospek kredit Indonesia. 

Lembaga pemeringkat menilai posisi BBCA masih solid, tetapi ruang perbaikan rating ke depan menjadi terbatas dalam jangka menengah. Fitch menyoroti bahwa perubahan outlook tersebut tidak terlepas dari keterkaitan erat antara peringkat bank dan risiko negara, di mana tekanan terhadap sovereign dapat langsung memengaruhi profil kredit perbankan domestik. 

Meski demikian, fundamental BBCA dinilai tetap kuat, ditopang oleh kualitas aset yang terjaga, permodalan yang memadai, serta likuiditas yang solid. Dalam jangka panjang, prospek BBCA akan sangat bergantung pada stabilitas makroekonomi Indonesia dan arah kebijakan fiskal serta moneter ke depan.

Meski dibayangi prospek negatif, Fitch menilai peringkat IDR jangka panjang BCA ditopang oleh Viability Rating (VR) ‘bbb’. Adapun peringkat nasional jangka panjang tetap di ‘AAA(idn)’ dengan prospek stabil. Fitch menyebutkan basis pendanaan granular memberi akses besar ke dana murah dan menjaga margin bunga tetap solid. 

Keunggulan ini seiring kuatnya permodalan yang membuat kinerja keuangan BCA konsisten melampaui pesaing di berbagai siklus bisnis. Menurut Fitch BCA mempertahankan posisi sebagai bank swasta terbesar dan ketiga terbesar secara keseluruhan di Indonesia, dengan sekitar 12% aset sistem per akhir 2025. 

“Dan kami menganggap ini sebagai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam jangka menengah,” tulis Fitch.

Tak hanya itu Fitch melihat profil risiko BCA mencerminkan kuatnya standar penyaluran kredit dan mampu menjaga kualitas aset tetap konsisten sepanjang siklus. Target pertumbuhan kredit juga relatif lebih berhati-hati dibandingkan dengan pesaing, sehingga risiko pada neraca lebih rendah. Fitch menyebut pendekatan konservatif ini diperkirakan akan terus dipertahankan dalam beberapa tahun ke depan.

Rasio kredit bermasalah (NPL) membaik menjadi 1,7% pada akhir 2025 dari 1,8% pada 2024, sementara rasio pinjaman berisiko (LaR) turun ke 4,8% dari 5,3%, termasuk yang terendah di antara bank domestik. 

“Cadangan kredit yang mencakup 184% dari NPL pada akhir Desember 2025 juga seharusnya menjaga biaya kredit tetap rendah selama dua tahun ke depan,” tulis Fitch.

Kinerja laba BCA juga dinilai masih solid, dengan rasio laba operasional terhadap aset tertimbang menurut risiko (RWA) naik tipis menjadi 7,6% pada 2025 dari 7,5% pada 2024, meski diperkirakan telah mendekati puncak.

Di samping itu margin bunga bersih (NIM) diproyeksikan tetap terjaga, ditopang oleh dominasi dana murah, struktur kredit yang tidak cepat menyesuaikan suku bunga, serta porsi besar aset berbunga tetap dalam portofolio.

Rasio CET1 BCA mencapai 29,2%, meningkat dari 28,1% pada 2024, dan tetap menjadi salah satu yang tertinggi di antara bank besar di kawasan. Posisi ini terus menjadi salah satu faktor utama yang mendukung kekuatan peringkat bank.

“Kami percaya posisi modal solid memberikan penyangga yang cukup terhadap penurunan kualitas aset di luar apa yang ditutupi oleh pendapatan sebelum provisi dan cadangan kredit bank,” tulis Fitch.

Fitch juga melihat BCA memiliki basis dana pihak ketiga yang luas dan granular, dengan porsi dana murah (CASA) mencapai 84,6%, tertinggi di antara bank Indonesia yang diperingkat Fitch. Likuiditas juga sangat kuat, tercermin dari rasio LCR 311% dan NSFR 159%, jauh di atas rata-rata bank domestik maupun regional. 

Meski menjadi kekuatan utama, profil ini tetap dibatasi oleh peringkat Indonesia sehingga outlook masih negatif. Fitch menegaskan Government Support Rating (GSR) BCA di level ‘bbb-’, satu tingkat di bawah peringkat Indonesia. 

Tingginya potensi dukungan negara mencerminkan peran penting BCA dalam sistem keuangan, termasuk menguasai sekitar 12% dana pihak ketiga nasional. BCA juga berperan dalam infrastruktur pembayaran domestik l dan sulit tergantikan dalam jangka pendek.

“Namun, kemampuan pemerintah untuk memberikan dukungan berada di bawah tekanan, seperti yang tercermin dalam prospek negatif pada peringkat Indonesia,” tulis Fitch.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Nur Hana Putri Nabila

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...