Cerita Bengkel Autotama Binaan Astra di Ujung Timur Bali, Raup Omzet Rp 7 Miliar
Sejauh lebih dari 1.200 km dari Ibu Kota Jakarta, tepatnya di Kabupaten Karangasem, Bali, berdiri sebuah bengkel. Tempat perbaikan dan perawatan mobil yang dulu hanya sebuah bengkel kecil itu kini tumbuh menjadi bisnis berskala besar dengan omzet mencapai Rp 7 miliar per tahun.
Bengkel tersebut adalah Bengkel Autotama, salah satu UMKM binaan Yayasan PT Astra International Tbk (ASII). Bisnis itu kini berkembang menjadi jaringan bengkel dengan tiga cabang memiliki puluhan karyawan.
I Wayan Sutama merintis usahanya mulai 2004. Jauh sebelum mendirikan Bengkel Autotama, Sutama lebih dulu menggeluti usaha di bidang pertanian. Di lokasi yang kini menjadi bengkel, ia awalnya membuka toko pertanian untuk melayani kebutuhan petani di Karangasem.
Pada 2004, Sutama memutuskan untuk menambah lini usaha dengan membuka bengkel. Keputusan itu terbilang berani karena ia sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan maupun pengalaman kerja di bidang otomotif.
"Saya berpikir jangan menaruh semua usaha dalam satu keranjang," kata Sutama saat dijumpai di Karangasem, pekan lalu.
Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mencoba mendiversifikasi usaha dengan tetap menjalankan toko pertanian sambil merintis bengkel.
Berbekal modal nekat dan kesukaannya memperbaiki kendaraan milik keluarga, Sutama pun mendirikan Bengkel Autotama. Awalnya, ia dibantu empat karyawan yang terdiri atas satu staf administrasi dan tiga mekanik. Namun, perjalanan usahanya jauh dari kata mulus.
"Saya tidak punya basic di bidang otomotif. Pendidikan tidak ada, pekerjaan juga tidak pernah di bidang itu, jadi kalau dibilang buka usaha tanpa adanya bekal," ujar Sutama.
Baru enam bulan beroperasi, tiga mekanik yang menjadi tulang punggung bengkel memilih keluar. Wayan mengaku saat itu ia kerap dibohongi karena minimnya pengetahuan teknis mengenai bisnis perbengkelan. Kondisi itu membuat usaha yang dirintisnya berjalan penuh tantangan. Selama lima tahun pertama, bengkel tidak ada perkembangan bahkan cenderung stagnan.
Kemudian ia bangkit lagi. Seiring berjalannya waktu, tantangan terbesar datang lagi pada 2009. Saat itu, mekanik kepercayaannya kembali keluar dan membawa sebagian pelanggan dan membuka usaha sendiri. Sutama menyebut masa-masa itu sebagai titik terendah dalam perjalanan bisnisnya.
Titik Balik
Di tengah kondisi itu, Sutama tiba-tiba dihubungi dan menerima undangan untuk mengikuti pelatihan dari Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Momen tersebut menjadi titik balik yang mengubah arah usahanya.
Melalui berbagai program pembinaan manajemen, operasional, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang mulai diikutinya sejak 2010, Wayan perlahan membangun kembali fondasi bisnisnya.
Perubahan tersebut terlihat dari ekspansi usaha yang dilakukan secara bertahap. Bengkel Autotama membuka cabang kedua pada 2013 dan cabang ketiga pada 2017. Kini, usaha tersebut memiliki tiga lokasi operasional di Karangasem dengan 49 karyawan yang tersebar di seluruh cabang.
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade, Bengkel Autotama kini dikenal sebagai salah satu bengkel umum terbesar di wilayah Karangasem. Wayan menargetkan usahanya menjadi pilihan utama pelanggan setelah bengkel resmi pabrikan Astra.
"Visi kami menjadi bengkel terlengkap dan terpercaya, dan menjadi pilihan kedua setelah bengkel resmi," katanya.
Perjalanan bisnis Bengkel Autotama juga sempat terpukul saat pandemi Covid-19. Ketergantungan Bali terhadap sektor pariwisata membuat aktivitas masyarakat menurun drastis, ikut berdampak pada permintaan layanan bengkel.
"Saat Covid itu kami sampai di titik terbawah," kata Sutama.
Namun, seiring pulihnya perekonomian dan sektor pariwisata Bali, kinerja usaha perlahan kembali meningkat. Omzet Bengkel Autotama yang pada 2022 berada di kisaran Rp 1,5 miliar per tahun naik menjadi Rp 2,7 miliar pada tahun berikutnya. Hasil penjualan barang dan jasa itu kemudian menembus Rp 3 miliar, hingga kini mencapai sekitar Rp 7 miliar per tahun.
Setelah bergabung dengan pembinaan Yayasan Astra pada 2010, Bengkel Autotama mulai melakukan transformasi dan berkembang pesat. Sebelumnya, operasional bengkel berjalan tanpa pendampingan sehingga risiko usahanya tinggi dan sering terjadi pergantian mekanik.
Sutama mengatakan, melalui berbagai program pelatihan dan pendampingan yang diberikan Yayasan Astra bersama jaringan Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA), bisnis bengkelnya mulai kokoh.
Salah satu perubahan mendasar yang diterapkan adalah penguatan manajemen bengkel. Sutama dan tim belajar mengelola sumber daya manusia, menyusun sistem operasional baku, serta merancang strategi pemasaran yang lebih efektif.
Selain itu, Bengkel Autotama juga mengadopsi konsep service advisor untuk meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan. Pendekatan ini menyempurnakan komunikasi dengan pelanggan, transparansi selama proses perbaikan, hingga penjelasan saat kendaraan diserahkan kembali kepada pelanggan.
Transformasi yang dijalankan tidak hanya menghasilkan sistem kerja yang lebih baik, tetapi juga berdampak langsung pada perkembangan bisnis. Bengkel Autotama berhasil memperluas jaringan usahanya hingga memiliki tiga cabang, meningkatkan jumlah pelanggan, hingga lonjakan omzet.
5 Keunggulan Bengkel Autotama:
- Kompetensi Tim: Kolaborasi mekanik berpengalaman dan service advisor yang proaktif.
- Budaya Training: Peningkatan keahlian rutin adaptif terhadap teknologi otomotif terkini.
- Peralatan Modern: Dukungan fasilitas canggih untuk diagnosis yang akurat dan efisien.
- Standar Konsisten: SOP ketat dari penerimaan awal hingga tindak lanjut purna servis.
- Budaya Kerja 5R: Menjaga lingkungan kerja tetap rapi, resik, rawatm dan rajin sehingga nyaman bagi pelanggan.
Mengenal Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA)
Selain mendapatkan pembinaan dari Yayasan Astra, Bengkel Autotama juga aktif dalam Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA) Jawa Timur dan Bali. Komunitas yang berdiri sejak 11 Maret 2014 di Waru, Sidoarjo, itu dibentuk dengan keyakinan bahwa bengkel UMKM tidak dapat tumbuh sendirian dan membutuhkan ekosistem bersama.
Melalui HBBA, para pemilik bengkel mendapat ruang untuk berbagi pengalaman, memperluas jaringan, hingga belajar langsung dari praktik terbaik bengkel yang lebih maju. Komunitas ini juga menjadi wadah untuk menyampaikan aspirasi kepada pembina serta meningkatkan kepercayaan diri para pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya.
Daftar Anggota HBBA Bali
- Bengkel Autotama: I Wayan Sutama
- Redana Motor Sanur: Eka Redana
- Redana Motor Sidakarya: Eka Redana
- Wisma Motor: I Wayan Arya Wisma
- Chisnayoga Motor: I Made Gustika
- Pardi Motor: I Wayan Supardi
- Surya Service:I Made Dwi Wirawan
- Bengkel Mobil Mertanadi: I Made Arya Dhama Suka
- Ina Motor: I Komang Suwidnya
- Bengkel Mobil NOS Motor: I Gede Wisnata
Pemilik Pardi Motor sekaligus Bendahara Koordinator Wilayah Bali HBBA Jatim-Bali, I Wayan Supardi, bercerita bahwa bengkel yang dirintisnya sejak 2004 awalnya masih dikelola secara konvensional. Meskipun telah memiliki bekal teknis saat memulai usaha, berbagai pengetahuan tersebut belum optimal karena minimnya pendampingan dan arahan dalam pengelolaan bisnis.
Perubahan mulai dirasakan setelah Pardi Motor bergabung dengan Himpunan Bengkel Binaan Astra (HBBA) pada 2019. Menurut Wayan, keanggotaan di HBBA membuka banyak kesempatan untuk belajar, mendapatkan inspirasi, serta menghadapi tantangan baru yang mendorong pengembangan usaha.
Salah satu nilai yang paling membekas baginya adalah konsep continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan. Prinsip tersebut kemudian diiringi dengan komitmen dan konsistensi dalam menjalankan usaha.
Melalui HBBA, ia mengaku memperoleh banyak ilmu, arahan, dan pendampingan untuk membangun visi menjadi bengkel yang mandiri dan berkelas. Dukungan dari para mentor serta sesama anggota komunitas juga berperan penting dalam membantu perkembangan usaha yang dijalankannya hingga saat ini.
“Ini hal yang luar biasa. Tidak banyak orang yang bisa ada di posisi ini. Dengan bergabungnya di HBBA, saya mendapatkan sesuatu yang benar-benar kelihatan luar biasa dalam pengembangan usaha bengkel,” ucap Wayan.
Selain itu Wayan mengatakan Pardi Motor juga tengah bersiap melakukan ekspansi dengan membuka cabang kedua yang ditargetkan beroperasi pada 2026. Saat ini, proses pembangunan dan persiapan cabang baru tersebut telah mencapai sekitar 65%.
Menurutnya, rencana ekspansi itu merupakan bagian dari target jangka panjang yang dibangun melalui komitmen dan konsistensi dalam mengembangkan usaha. Ia menjelaskan perjalanan pelaku usaha bengkel umumnya dimulai dari seorang mekanik yang awalnya dihantam berbagai tantangan di lapangan.
Namun, ketika beralih menjadi pengusaha bengkel, tantangan yang dihadapi menjadi lebih kompleks karena tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga pengelolaan sumber daya manusia, aset usaha, peralatan, hingga menjaga kepercayaan pelanggan.
Kendati demikian, ia optimistis seluruh tantangan itu dapat dilalui dengan semangat untuk terus belajar dan berkembang. Baginya, menjadi pengusaha bengkel bukanlah tujuan akhir. Setelah berhasil membangun usaha dan membuka beberapa cabang, para pelaku usaha diharapkan dapat naik ke level berikutnya sebagai investor yang mampu menciptakan lebih banyak peluang usaha dan lapangan kerja.
“Itu goal kami. Dari pekerja, dari sebagai pengusaha, pemikir, menjadi investor bengkel. Ini cita-cita kami,” ujar Wayan.
Bagi para anggotanya, HBBA Jawa Timur dan Bali bukan sekadar komunitas bengkel, melainkan wadah pembelajaran dan pendampingan yang telah berjalan lebih dari satu dekade. Sejak berdiri pada 2014, komunitas ini terus membina pelaku usaha bengkel di Jawa Timur dan Bali, termasuk 10 bengkel anggota yang berada di Pulau Dewata.
Pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek teknis perbengkelan, tetapi juga pengembangan kapasitas pelaku usaha. Melalui berbagai pelatihan, diskusi, hingga berbagi pengalaman antaranggota, para pemilik bengkel didorong untuk membangun usaha yang lebih profesional, mandiri, dan berdaya saing.
Dampaknya tidak hanya terlihat dari pertumbuhan omzet dan ekspansi usaha para anggota, tetapi juga kontribusi mereka terhadap masyarakat. Sejumlah anggota kini turut terlibat dalam pengembangan sumber daya manusia, termasuk menjadi pengajar atau mitra sekolah kejuruan, sekaligus membuka lapangan kerja baru di daerah masing-masing.
Bagi Yayasan Astra, pembinaan tersebut bukan hanya tentang membesarkan bengkel sebagai unit usaha, tetapi juga membangun manusia.

