RUPST Antam Hari Ini, Investor Menanti Dividen Jumbo dari Laba Rp 7,2 Triliun
PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (10/6). Salah satu agenda yang paling dinantikan investor yakni penetapan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk keputusan pembagian dividen.
Rapat ini menjadi sorotan pasar karena ANTM berpeluang kembali membagikan dividen besar seperti yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun buku 2025, emiten tambang pelat merah tersebut membukukan laba bersih sebesar Rp 7,2 triliun, melonjak 97,8% dibandingkan laba bersih tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,64 triliun.
Jika mengacu pada rekam jejak pembagian dividen, ANTM dikenal konsisten membagikan sebagian besar laba kepada pemegang saham.
Pada tahun buku 2024 misalnya, perseroan menetapkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sebesar 100% dari laba bersih. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp 3,6 triliun atau setara Rp 151,77 per saham.
Hal serupa juga diterapkan untuk tahun buku 2023. Saat itu, ANTM membagikan dividen senilai Rp 3,07 triliun dengan rasio pembayaran 100% dari laba bersih, atau setara Rp 128 per saham.
Dengan laba bersih yang hampir dua kali lipat lebih besar pada tahun buku 2025, pasar pun menantikan apakah perseroan akan kembali mempertahankan kebijakan pembagian dividen 100%.
Menjelang pelaksanaan RUPST, saham ANTM mencatatkan pergerakan yang cukup agresif. Pada perdagangan Selasa (9/6), harga saham ANTM melonjak 13,83% ke level Rp 2.880 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham emiten tambang emas tersebut telah menguat 10,34%. Namun, secara year to date (ytd), saham ANTM masih terkoreksi 8,57%.
Lonjakan Harga Emas Bikin Moncer Performa Antam (ANTM)
Antam mencatatkan kinerja keuangan yang solid pada kuartal I 2026. Selama periode tersebut, emiten tambang emas pelat merah itu membukukan laba bersih mencapai Rp 3,66 triliun.
Untung yang diperoleh ANTM pada triwulan pertama tahun ini tumbuh 58% secara year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berjumlah Rp 2,32 triliun. Kinerja tersebut ditopang oleh penguatan operasional di tengah tantangan global seperti fluktuasi harga komoditas, ketegangan geopolitik, dan perlambatan ekonomi dunia.
Pertumbuhan profitabilitas ANTM juga tercermin dari peningkatan EBITDA sebesar 55% menjadi Rp 5,05 triliun dari Rp 3,26 triliun pada kuartal I 2025. Selain itu, laba kotor tercatat naik 54% menjadi Rp 5,62 triliun, sedangkan laba usaha melonjak 67% YoY menjadi Rp 4,50 triliun.
Direktur Utama ANTM, Untung Budiharto menuturkan, capaian positif tersebut merupakan hasil dari strategi bisnis yang adaptif. Kinerja moncer ANTM turut didukung oleh kenaikan penghasilan lain-lain serta efisiensi biaya operasional yang konsisten dijalankan perusahaan.
"Capaian kinerja keuangan yang positif tersebut turut didukung oleh konsistensi perusahaan dalam menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dan inovatif, serta pengendalian biaya yang efektif dan disiplin di seluruh lini operasional," ungkapnya dalam keterangan di Jakarta, Selasa (28/4).
Dari sisi neraca, total aset ANTM meningkat signifikan sebesar 31% menjadi Rp 63,30 triliun. Ekuitas juga tumbuh 17% menjadi Rp 40,41 triliun. Sementara posisi kas dan setara kas naik 31% menjadi Rp 9,04 triliun, mencerminkan fleksibilitas keuangan yang semakin kuat untuk mendukung ekspansi usaha.
Kinerja operasional turut menopang pertumbuhan tersebut. Penjualan bersih ANTM pada kuartal I 2026 mencapai Rp 29,32 triliun, naik 12% YoY dibandingkan Rp 26,15 triliun pada kuartal I 2025. Penjualan domestik menjadi penyumbang paling besar, dengan kontribusi mencapai 97%.
Segmen emas masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 81% terhadap total penjualan, diikuti segmen nikel sebesar 15%, serta bauksit dan alumina sebesar 3%.
