Geliat MR.DIY (MDIY) Genggam Pasar Retail Nusantara hingga Komitmen Dividen 40%
PT Daya Intiguna Yasa Tbk atau dikenal dengan MR DIY (MDIY) terus memperluas jejak bisnisnya dari nusantara hingga mancanegara. Di tengah dinamika ekonomi dunia dan perubahan perilaku konsumen perusahaan yang berfokus pada aneka kebutuhan rumah tangga itu menyiapkan sejumlah strategi.
Dalam sembilan tahun sejak membuka gerai pertama di Mega Bekasi Hypermall pada 2017, jaringan ritel yang menaungi MR.DIY itu telah berkembang menjadi sekitar 1.300 gerai di seluruh Indonesia. Perusahaan menawarkan lebih dari 18.000 jenis produk.
Tak hanya memperkuat penetrasi di pasar domestik, MR.DIY juga menggenggam jaringan ritel global yang telah mencapai sekitar 5.500 gerai di 14-15 negara. Besarnya jaringan gerai tersebut menjadi salah satu komitmen MR.DIY untuk menawarkan produk dengan harga terjangkau kepada konsumen.
Presiden Direktur MR.DIY Indonesia, Edwin Cheah, mengatakan produk yang ditawarkan mencakup 10 kategori. Mulai dari kebutuhan rumah tangga, perlengkapan kebersihan, peralatan makan, aksesori rumah dan kendaraan, hingga kosmetik, perhiasan, alat tulis, dan mainan.
Edwin menjelaskan MR.DIY memposisikan diri sebagai peritel yang menawarkan nilai terbaik bagi konsumen, dengan menekankan tiga hal utama yakni "hemat, lengkap, dan dekat". Hemat merujuk pada harga yang terjangkau, lengkap menggambarkan ragam produk yang lengkap. Sementara dekat adanya strategi perusahaan memperluas jaringan gerai agar lebih mudah dijangkau masyarakat.
“Jadi mereka tetap menginginkan kualitas yang baik, tetapi dengan harga yang baik. Bukan berarti ketika membeli sesuatu harga murah berarti kualitasnya juga murah,” kata Edwin ketika ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (15/6).
Harga Tetap Sama dari Sabang Hingga Merauke
Harga Tetap Sama merupakan komitmen MR.DIY demi menjaga harga produk tetap terjangkau bagi konsumen di tengah kenaikan bahan baku, rupiah, hingga kenaikan BBM. Melalui komitmen tersebut, perusahaan mempertahankan harga produk pada level yang sama dari waktu ke waktu sehingga konsumen dapat membeli produk yang dibutuhkan tanpa khawatir ada kenaikan harga.
Demi menjalankan komitmen tersebut, MR.DIY memastikan ketersediaan stok dalam jumlah yang memadai di gudang maupun gerai. Selain itu, perusahaan memanfaatkan skala pembelian yang besar untuk meningkatkan efisiensi dan menyerap sebagian kenaikan biaya, sehingga tidak membebankan konsumen.
Menurut Edwin, langkah tersebut merupakan komitmen besar yang dijalankan perusahaan untuk memberikan kepastian harga kepada pelanggan. Dengan begitu, konsumen dapat mengatur pengeluaran dan tetap memperoleh berbagai kebutuhan rumah tangga, perlengkapan sekolah, hingga peralatan memasak dengan harga yang terjangkau.
"Ini merupakan komitmen besar bagi kami. Karena itu, ketika terjadi kenaikan biaya, kami tidak serta-merta membebankannya kepada pelanggan. Kami memilih menyerap sebagian biaya tersebut agar harga produk tetap sama," kata Edwin.
Bagi MR.DIY, kampanye Harga Tetap Sama bukan hanya soal mempertahankan harga produk. Kampanye tersebut juga menjadi upaya perusahaan memberikan rasa tenang kepada konsumen bahwa berbagai kebutuhan sehari-hari tetap bisa diperoleh dengan harga yang terjangkau kapanpun dibutuhkan.
Edwin menceritakan, misalnya sejumlah orang tua tiba-tiba baru mengetahui kebutuhan sekolah anaknya pada malam hari untuk digunakan keesokan harinya. Dalam situasi seperti itu, konsumen membutuhkan toko yang mudah dijangkau, memiliki pilihan produk yang lengkap, dan menawarkan harga yang pasti dan tidak memberatkan.
Menurutnya, peran tersebut yang ingin diambil MR.DIY sebagai toko kebutuhan keluarga yang dekat dengan masyarakat. Selain memenuhi kebutuhan utama, konsumen juga kerap menemukan berbagai produk menarik lain saat berbelanja, mulai dari alat tulis, perlengkapan rumah tangga, hingga barang-barang yang sedang tren.
Pengalaman menemukan produk baru dengan harga yang tetap terjangkau menjadi salah satu daya tarik yang terus dihadirkan perusahaan. Melalui strategi itu, MR.DIY berupaya memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses berbagai kebutuhan sehari-hari tanpa perlu khawatir terhadap kenaikan harga.
Demi memastikan profit tetap tumbuh ke depan, Edwin menjelaskan perusahaan mengandalkan model bisnis yang sudah matang dan terbukti selama lebih dari 20 tahun dan telah disesuaikan dengan kondisi Indonesia selama sekitar 9 tahun terakhir.
Ada tiga pilar utama yang dijaga, pertama ia menyebut skala ekonomi. Saat bisnis sedang bertumbuh, volume cenderung meningkat. Ia mengatakan perusahaan bisa mendapatkan biaya yang lebih efisien dan harga yang lebih kompetitif, baik dari sisi produk maupun struktur biaya.
Kedua, kemitraan dengan pihak ahli. Perusahaan bekerja sama dengan penyedia jasa logistik (3PL) dan mitra lain dengan biaya, kualitas layanan, dan efisiensi terbaik. Hal yang sama juga berlaku ke pemasok, semakin besar volume pembelian, semakin kuat posisi tawar untuk mendapatkan harga yang lebih baik.
Ketiga, disiplin operasional. Meski ekspansi terus berjalan, kata Edwin, perusahaan tetap menjaga kontrol biaya dan efisiensi operasional agar struktur biaya tidak melebar dan profitabilitas tetap terjaga.
“Jadi, model bisnis ini memungkinkan kami untuk berkembang dengan cepat dan pesat, selama 3–10 tahun ke depan, kami akan tetap konsisten dalam cara kami beroperasi seperti itu dan itu akan terus membantu kami untuk tetap menguntungkan,” kata Edwin.
Geliat Ekspansi MR.DIY
Seiring dengan memastikan harga tetap sama di seluruh Indonesia, pemilik jaringan ritel bermerek MR.DIY itu berencana membuka sekitar 270 gerai baru sepanjang tahun ini dan menargetkan penambahan 1.200-1.500 gerai dalam tiga tahun ke depan demi memperkuat pangsa pasar di seluruh Indonesia.
Edwin mengatakan hingga saat ini perusahaan telah hadir di 37 dari 38 provinsi di Indonesia dan menjangkau lebih dari 400 kota. Edwin mengatakan masih banyak wilayah yang berpotensi untuk digarap, sehingga perusahaan berupaya memperluas jangkauan gerai dalam waktu yang relatif cepat demi meningkatkan akses masyarakat terhadap produk-produk MR.DIY.
Strategi ekspansi perusahaan dipengaruhi oleh sebaran populasi dengan Jawa dan Sumatra menjadi wilayah dengan jumlah gerai terbanyak. Menurutnya kedua pulau tersebut menampung sebagian besar penduduk Indonesia. Saat ini, sekitar 700 gerai MR.DIY berada di Jawa dan Sumatra, sementara masing-masing sekitar 150 gerai beroperasi di Kalimantan dan Sulawesi. Lalu sebanyak 50 gerai ada di Papua.
“Setelah kami membuka Papua, pelanggan mulai berdatangan ke toko kami, sekarang sudah hampir 50 toko di seluruh Papua, kecuali Papua Pegunungan,” ucap Edwin.
Menurut Edwin, kehadiran gerai baru tidak hanya bertujuan memperluas jaringan bisnis, tetapi juga mendekatkan akses konsumen terhadap berbagai kebutuhan sehari-hari. Di banyak daerah, MR.DIY bahkan dipandang sebagai toko serba ada yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga dalam satu tempat.
Seiring dengan itu, dalam beberapa bulan ke depan, MR.DIY berencana mempertahankan laju ekspansi yang agresif dengan membuka sedikitnya 20 gerai baru setiap bulan. Ekspansi tersebut tidak hanya difokuskan di Jabodetabek atau Pulau Jawa, melainkan juga menyasar berbagai wilayah lain yang dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan dan kebutuhan akses ritel modern yang tinggi.
“Jadi, kami telah membuka toko-toko baru di Surabaya, Papua, di mana-mana. Sebenarnya, itu tergantung di mana ada peluang. Peluang disini adalah ruang yang tersedia dan tarif sewa yang cocok,” ungkap Edwin.
Perusahaan juga menyampaikan sebenarnya ada rencana ekspansi ke sejumlah negara baru tahun ini, namun belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Beberapa negara tujuan ekspansi itu disebut berada di luar kawasan Asia Tenggara.
Saat ini, Edwin mengatakan perusahaan telah beroperasi di sekitar 14–15 negara. Selain di Asia Tenggara, MR.DIY juga sudah telah menggenggam jaringan retail di India, Bangladesh, Turki, Afrika Selatan, Spanyol, Polandia, dan Rumania.
Janji Bagi Dividen 40%
Adapun MR.DIY telah menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 pada Kamis (11/6). Salah satu agenda rapat tersebut adalah persetujuan penggunaan laba bersih tahun buku 2025, termasuk pembagian dividen kepada pemegang saham.
MR.DIY memutuskan membagikan dividen tunai perdana senilai Rp 440 miliar atau Rp 17,47 per saham. Pemegang saham yang tercatat hingga 24 Juni 2026 berhak menerima dividen yang akan dibayarkan pada awal Juli 2026.
Edwin mengatakan pembagian dividen merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk terus memberikan nilai tambah bagi pemegang saham. Untuk tahun buku 2025, perusahaan mengalokasikan 40% laba bersih sebagai dividen.
Besaran tersebut sejalan dengan komitmen yang disampaikan perseroan saat melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO), yakni membagikan dividen minimal 40% dari laba bersih.
"Kami berkomitmen untuk terus memberikan nilai bagi pemegang saham. Nilai tersebut tidak hanya berasal dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga melalui dividen yang kami bagikan," kata Edwin.
Adapun kedepannya MDIY berkomitmen mempertahankan rasio pembayaran dividen minimal 40% dari laba, dengan peluang pembagian yang lebih besar apabila kondisi bisnis dan keuangan perusahaan.
Seiring dengan itu, MDIY juga berkomitmen untuk menciptakan nilai jangka panjang kepada pemegang saham. Fokus pertama adalah pertumbuhan bisnis yang terus dijaga, dengan model usaha yang dinilai sudah terbukti mampu mendorong ekspansi secara konsisten, termasuk percepatan dalam sembilan tahun terakhir.
Selain itu, perusahaan juga menempatkan kemampuan beradaptasi terhadap kebutuhan konsumen. Edwin mengatakan perusahaan terbuka adanya berbagai masukan dari pelanggan untuk memahami preferensi pasar sehingga produk dan layanan tetap sesuai dengan kebutuhan di tengah dinamika yang terus berubah.
Di sisi lain, efisiensi dan disiplin biaya menjadi perhatian utama. MDIY juga akan mengoptimalkan pengelolaan belanja modal maupun operasional agar setiap pengeluaran memberikan hasil yang maksimal.
Aksi MDIY di Tengah Gempuran Bisnis Retail
Meski begitu, Edwin mengaku tidak melihat adanya pesaing retail karena model bisnisnya yang berbeda. Dengan menawarkan sekitar 10 kategori produk dalam satu atap, kata Edwin, sangat sedikit peritel yang memiliki cakupan serupa. Meski ada pemain lain seperti supermarket atau ritel non-makanan yang menjual sebagian kategori yang sama, ia mengklaim mereka hanya meniru sebagian kecil dari konsep yang dijalankan perusahaan.
Ia menegaskan bahwa fokus utama perusahaan bukan pada kompetitor, melainkan pada penguatan bisnis internal. Perusahaan terus mendorong pertumbuhan, menghadirkan produk yang relevan, dan menjaga disiplin operasional agar harga tetap kompetitif.
Di tengah berbagai perubahan lingkungan, perusahaan ingin menjadi ritel yang paling dapat diandalkan. Dengan menawarkan kepastian harga, kenyamanan, serta akses yang konsisten bagi pelanggan yang membutuhkan kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Perusahaan menekankan konsistensi layanan, termasuk operasional yang buka setiap hari sepanjang tahun.
Terkait potensi pengembangan segmen baru, Edwin menyebut perusahaan juga terus memperluas kategori produk berdasarkan kebutuhan konsumen. Salah satu contohnya adalah peluncuran produk wewangian dan parfum beberapa bulan terakhir, yang berasal dari riset dan respons terhadap permintaan pelanggan.
Ia mengatakan ekspansi kategori dilakukan dengan dua prinsip utama, menghadirkan produk yang benar-benar dibutuhkan konsumen, sekaligus tetap menawarkan harga yang kompetitif di ratusan toko yang dimiliki perusahaan.
“Jadi, kami kembali memiliki skala untuk menghadirkan produk yang mereka inginkan dengan harga yang lebih baik,” ucapnya.
Edwin dari MR.DIY menyampaikan bahwa seiring pertumbuhan bisnis dan komitmen terhadap harga yang tetap kompetitif, perusahaan menghadapi tantangan dalam mengendalikan tekanan biaya. Salah satu fokus utama adalah meningkatkan efisiensi, terutama dalam perencanaan rute logistik agar distribusi barang dapat berjalan lebih optimal.
“Dan selama kami memiliki skala dan disiplin biaya, kami akan terus memberikan stabilitas itu kepada masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke,” ujar Edwin.

