Kunjungi Phapros (PEHA), Komisi VI DPR Dorong Substitusi Bahan Baku Obat Impor
Komisi VI DPR menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku obat sebagai tantangan utama dalam mewujudkan kemandirian industri farmasi nasional. Isu tersebut menjadi fokus dalam kunjungan kerja spesifik Komisi VI ke fasilitas produksi PT Phapros Tbk (PEHA) di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (10/7) lalu.
Kunjungan itu juga dihadiri sejumlah pejabat dari BP BUMN, PT Danantara Asset Management, PT Bio Farma (Persero), dan PT Kimia Farma (Persero) Tbk (KAEF). Tujuan kegiatan itu adalah mengevaluasi upaya substitusi bahan baku obat impor dengan produksi dalam negeri sekaligus meninjau kesiapan industri farmasi nasional dalam memperkuat ketahanan sektor kesehatan.
Ketua Komisi VI DPR, Anggia Erma Rini mengatakan, Indonesia masih menghadapi tantangan besar akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku obat impor. Karena itu, menurutnya, pengembangan bahan baku lokal harus dipercepat dengan memanfaatkan kekayaan biodiversitas Indonesia yang didukung riset dan inovasi.
"Optimalisasi potensi bahan baku lokal, termasuk berbasis herbal dan biodiversitas Indonesia, perlu terus didorong agar mampu menjadi alternatif pengganti bahan baku impor," kata Anggia dalam keterangan yang dikutip pada Senin (13/7).
Selain itu, ia menilai sinergi antarkementerian dan BUMN farmasi perlu diperkuat agar kebijakan yang diambil benar-benar mendukung penggunaan produk dalam negeri. Pemerintah juga dinilai perlu memiliki data yang akurat mengenai penggunaan obat produksi nasional dalam berbagai program kesehatan.
Anggia menambahkan, industri farmasi nasional juga dituntut meningkatkan daya saing melalui inovasi dan pengembangan produk baru. "Tidak cukup hanya mengandalkan pasar yang sudah ada. Inovasi produk, pengembangan produk baru, serta peningkatan kualitas harus terus dilakukan agar mampu bersaing dengan produk impor," ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Komisi VI DPR juga mengevaluasi efektivitas sinergi antara BP BUMN, Danantara, dan Bio Farma Group dalam pengelolaan aset serta pembiayaan investasi industri hulu farmasi. DPR juga mengidentifikasi sejumlah tantangan struktural yang masih dihadapi industri bahan baku obat dalam negeri, mulai dari keterbatasan skala ekonomi, penguasaan teknologi, hingga sumber daya manusia.
Managing Director Business PT Danantara Asset Management, Febriani Eddy, menilai penguatan industri farmasi harus dimulai dari kondisi keuangan perusahaan yang sehat. "Kemandirian industri farmasi harus dimulai dari penguatan kondisi keuangan perusahaan," kata Febriani.
Ia menambahkan, program penyehatan BUMN farmasi menjadi salah satu program strategis Danantara yang akan terus dilanjutkan. Menurutnya, pembangunan industri bahan baku obat dalam negeri juga membutuhkan skala ekonomi yang memadai sehingga pengembangannya dapat dilakukan secara bertahap melalui ekosistem industri yang berkelanjutan.
PEHA, yang fasilitas produksinya menjadi lokasi kunjungan itu, adalah anak usaha KAEF yang telah beroperasi sejak 1954 dan memproduksi lebih dari 200 jenis produk farmasi. Selain memenuhi pasar domestik, perusahaan juga menjalankan kerja sama contract manufacturing dan telah mengekspor produknya ke Kamboja sejak 2013.
Pada kuartal I 2026, Phapros membukukan laba bersih sebesar Rp 761,5 juta, yang menjadi salah satu indikator perbaikan kinerja perusahaan di tengah transformasi BUMN farmasi.
