Anak Usaha TLKM Telin Bidik Ekspansi Kabel Laut ke Afrika hingga Amerika Latin

Karunia Putri
26 Agustus 2026, 07:16
Chief Executive Officer Telin Abdul Rahman Ansyori (kiri), Presiden Direktur Telkom Indonesia Dian Siswarini (tengah) dan Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria D. Purba (kanan) pada Konferensi pers Bali Annual Telkom International
Katadata/Karunia Putri
Chief Executive Officer Telin Abdul Rahman Ansyori (kiri), Presiden Direktur Telkom Indonesia Dian Siswarini (tengah) dan Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria D. Purba (kanan) pada Konferensi pers Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Bali, Selasa (25/8).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Anak usaha emiten telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yaitu PT Telekomunikasi Indonesia International (Telin) tengah menyiapkan ekspansi bisnis kabel laut internasional ke sejumlah koridor baru, termasuk Afrika hingga Amerika Latin.

Chief Executive Officer Telin Abdul Rahman Ansyori mengatakan saat ini Telin beroperasi di tiga koridor utama, yakni inter-Asia, trans-Pasifik yang menghubungkan Asia hingga Amerika serta Asia-Eropa. Ke depan, perusahaan akan memperluas jangkauan bisnis ke koridor lain untuk menangkap peluang pertumbuhan konektivitas global.

“Rencana investasi akan jalan terus dan akan kami lakukan sesuai dengan arahan grup. Tetapi akan kami lakukan dengan sangat prudent dan dengan sangat hati-hati agar memastikan bahwa setiap rupiah yang kita keluarkan selalu akan kembali ke negara,” ujar Ansyori saat ditemui usai konferensi pers BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Selasa (25/8).

Rencana ini dibangun karena Telin melihat peluang pertumbuhan AI yang besar di global. Saat ini dunia mengalami lonjakan AI yang kemudian mendorong peningkatan kebutuhan konektivitas secara signifikan. 

Untuk kebutuhan AI compute to compute, dia menyebut kebutuhan bandwidth bahkan dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi salah satu pendorong pertumbuhan bisnis konektivitas Telin.

Sebelumnya, Telin telah menyelesaikan pembangunan kabel laut Bifrost yang menghubungkan Singapura hingga Amerika Serikat melalui perairan Indonesia. Kabel tersebut membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk dibangun. Namun, kapasitasnya telah terserap habis dalam waktu kurang dari satu tahun setelah selesai.

Kondisi itu menunjukkan pertumbuhan permintaan konektivitas yang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan industri dalam membangun infrastruktur. Tingginya permintaan tersebut mendorong Telin untuk terus mengembangkan kabel laut internasional sebagai salah satu penggerak pendapatan bisnis internasional Telkom Group.

Strategi Telin Perpanjang Kabel Laut

Anshori mengatakan ekspansi tersebut akan dilakukan secara bertahap dan dengan pendekatan yang prudent. Telin tidak akan langsung membangun kabel laut di setiap pasar baru, tetapi terlebih dahulu menguji potensi pasarnya melalui skema penjualan kembali atau reselling kapasitas.

Jika permintaan telah terbentuk dan kapasitas yang tersedia semakin terserap, Telin baru akan mempertimbangkan investasi untuk membangun infrastruktur sendiri.

Ansyori mengatakan ekspansi kabel laut Telin ke depan tidak lagi dilakukan dengan pendekatan satu negara atau satu jalur. Perusahaan akan melihat kebutuhan konektivitas berdasarkan koridor secara terintegrasi.

Strategi tersebut diperlukan untuk menyediakan layanan konektivitas secara end-to-end, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan konektivitas akibat perkembangan artificial intelligence (AI).

“Pembangunan kabel ke depan juga bukan lagi kita lakukan dengan pola yang sama, cuma melihat link per link atau negara per negara, tetapi harus melihatnya per koridor,” ujarnya.

Dengan pendekatan tersebut, Telin akan mengamankan sejumlah titik strategis di setiap koridor untuk membentuk jaringan yang lebih lengkap. Infrastruktur tersebut diharapkan dapat mendukung layanan konektivitas dari satu titik ke titik lainnya secara end-to-end.

Telin saat ini telah beroperasi di 10 negara dan memiliki lima kantor perwakilan di delapan negara. Ekspansi global tersebut membuat perusahaan harus memenuhi regulasi yang berbeda di setiap negara tempatnya beroperasi.

Ansyori mengatakan kepatuhan terhadap regulasi menjadi salah satu pertimbangan utama dalam ekspansi Telin. Aturan tersebut mencakup perlindungan data, keamanan jaringan hingga persyaratan tenaga kerja yang mengoperasikan perangkat telekomunikasi.

Compliance tetap menjadi sesuatu yang kami ikuti dan kami fokuskan agar bisnis Telin bukan hanya mengejar keuntungan sesaat, tetapi lebih memikirkan bagaimana bisnis ini tidak hanya short oriented, tetapi juga long term oriented,” kata dia.

Dalam pembangunan kabel laut lintas negara, Telin juga menggandeng operator lokal di negara yang dilalui jaringan. Kerja sama tersebut diperlukan untuk mengurus perizinan, memenuhi ketentuan regulasi serta memastikan operasional jaringan sesuai dengan aturan setempat.

Dia juga mengatakan salah satu program strategis Telkom untuk memperluas konektivitas internasional adalah Indonesia Cable Express (ICE). Program tersebut terdiri dari 14 proyek kabel laut yang dirancang untuk menghubungkan Indonesia dengan Asia, Eropa, Timur Tengah, Amerika dan Australia.

Berapa Capex TLKM untuk Infrastruktur Digital?

Perpanjangan pembangunan kabel laut itu selaras dengan prospek bisnis AI ke depan. Presiden Direktur Telkom Indonesia Dian Siswarini mengatakan, negara-negara di kawasan Asia tengah agresif terhadap investasi di bisnis AI. Namun dia melihat Indonesia dapat menangkap peluang.

“Memang kami melihat bahwa Indonesia ini memiliki peluang yang luar biasa sebagai pesaing bagi para pemain di kawasan Asia Pasifik,” kata Dian.

Dian mengatakan nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari US$ 130 miliar pada 2026 dan berpotensi menembus US$ 360 miliar pada 2030. Potensi tersebut, menurut dia, perlu didukung infrastruktur digital yang memadai, mulai dari konektivitas hingga platform berstandar internasional.

Dia menilai pembangunan infrastruktur digital tidak cukup hanya dilakukan oleh satu perusahaan. Kolaborasi antara pelaku industri diperlukan untuk membangun ekosistem yang mampu mendorong inovasi dan menciptakan nilai ekonomi secara berkelanjutan.

Di samping itu, Dian menyampaikan belanja modal atau capital expenditure (capex) Telkom Group pada tahun ini berada di kisaran 19%-20% dari total pendapatan.

Capex akan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan infrastruktur, termasuk jaringan seluler, digital home, jaringan fiber, kabel laut internasional, menara dan pusat data.

“Standar kami itu antara 18 sampai 20%. Tahun ini sekitar 19 sampai 20% dari total revenue,” ujar Dian.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...