InfraNexia Bakal Pegang Kendali 90% Aset Infrastruktur TLKM Mulai Oktober

Karunia Putri
26 Agustus 2026, 14:54
Sejumlah peserta mengikuti pembukaan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (26/8/2026).
ANTARA FOTO/Fauzan/nz
Sejumlah peserta mengikuti pembukaan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Nusa Dua, Badung, Bali, Rabu (26/8/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menargetkan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau InfraNexia dapat beroperasi penuh pada 1 Oktober 2026 sebagai anak usaha bidang infrastruktur secara mandiri. Target tersebut akan dicapai setelah TLKM menyelesaikan pemisahan atau spin off seluruh aset fiber connectivity ke TIF.

Direktur Strategic Business Development Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan proses spin off Wholesale Fiber Connectivity atau InfraCo saat ini masih berlangsung. TLKM menargetkan pemisahan tahap kedua rampung pada akhir September 2026.

“Targetnya akhir September hingga 1 Oktober itu sudah full operation,” kata Seno saat ditemui di acara BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Rabu (26/8).

Seno mengatakan spin off tersebut merupakan bagian dari transformasi bisnis TelkomGroup. Salah satu fokusnya adalah melakukan delayering dan memisahkan pengelolaan aset infrastruktur dari bisnis utama Telkom.

Menurut dia, proses carve out InfraCo telah memasuki tahap berikutnya setelah fase pertama yang dilakukan pada 2025. Telkom menargetkan proses carve out lanjutan dapat rampung pada akhir September.

“Targetnya insyaallah kalau semuanya lancar, akhir September itu kita akan carve out lagi. Setelah itu carve out berikutnya adalah enterprise,” ujarnya.

Sebelumnya, Telkom menyebut nilai transaksi spin off tahap kedua Infraco mencapai Rp 49,86 triliun. Aksi tersebut merupakan kelanjutan dari pemisahan InfraCo tahap pertama yang telah dilakukan pada Januari 2026.

Dalam transaksi tahap kedua, Telkom akan mengalihkan segmen usaha Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraCo melalui pemisahan tidak murni (spin off) dengan skema non-tunai.

Sebagai kompensasi atas pengalihan tersebut, TIF akan menerbitkan 498,58 juta saham baru kepada Telkom dengan nilai konversi Rp 100.000 per saham. Setelah transaksi, kepemilikan Telkom di InfraCo akan menjadi 99,9999999%, sedangkan PT Multimedia Nusantara memiliki 0,0000001% saham.

Rencana pemisahan tersebut akan dimintakan persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Telkom pada 30 September 2026. Pengalihan aset dan bisnis dengan nilai total Rp85,7 triliun itu akan memperkuat InfraNexia dalam mengelola lebih dari 90% aset jaringan Telkom.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan spin off InfraCo tahap kedua merupakan upaya mempercepat transformasi bisnis TelkomGroup. Langkah tersebut juga sejalan dengan agenda Danantara Asset Management (DAM) untuk mengonsolidasikan aset-aset BUMN.

Menurut Dian, pemisahan tersebut akan membuat Telkom lebih fokus mengelola bisnis utamanya, sementara aset infrastruktur digital dapat dikelola secara lebih terfokus melalui InfraNexia. Dengan demikian, perusahaan dapat lebih cepat merespons peluang pasar, memperluas kerja sama, dan menciptakan nilai jangka panjang.

Langkah tersebut juga mendukung strategi TLKM 30, khususnya melalui pilar unlock value. Strategi ini mencakup percepatan monetisasi aset infrastruktur bernilai tinggi, seperti data center, menara, dan jaringan fiber, untuk membuka sumber pertumbuhan baru bagi Telkom.

“Spin-Off InfraCo Tahap 2 sebagai langkah strategis dalam perjalanan transformasi TLKM 30 untuk memperkuat InfraNexia sebagai mesin pertumbuhan baru,” ujar Dian.

Setelah seluruh portofolio bisnis dan aset dialihkan, InfraNexia akan menguasai lebih dari 90% aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya dimiliki Telkom. Portofolio tersebut mencakup jaringan akses pelanggan, core backbone, hingga berbagai infrastruktur pendukung lainnya.

Dengan tambahan aset tersebut, InfraNexia akan mengelola sekitar 112.000 kilometer jaringan fiber optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik yang membentang di seluruh Indonesia. Panjang jaringan tersebut setara dengan hampir tiga kali keliling bumi.

Penguasaan aset tersebut akan memperkuat posisi InfraNexia sebagai penyedia layanan wholesale connectivity yang berfokus pada pengembangan infrastruktur konektivitas digital nasional.

Dian menambahkan, spin off InfraCo tahap kedua juga diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.

“Spin-Off InfraCo Tahap 2 merupakan strategic initiative dari TelkomGroup yang tidak hanya bertujuan untuk menghadirkan bisnis infrastruktur yang lebih fokus, agile, dan berdaya saing,” ucap Dian.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Karunia Putri
Editor: Yuliawati

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...