Ekonom CSIS Nilai Target Ekonomi Tumbuh 5,4% di 2026 Sulit Dicapai, Mengapa?
Direktur Eksekutif Centre For Strategic And International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri mengatakan Indonesia akan kesulitan mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4% pada 2026. Target tersebut tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 yang disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Nota Keuangan, Jumat (15/8).
Dia menyebut kesulitan ini disebabkan oleh turunnya permintaan dan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, nikel, dan gas alam. Padahal empat komoditas unggulan ini menyumbang 40% kinerja ekspor Indonesia.
“Keempatnya sudah mengalami pelemahan harga cukup dalam dibandingkan dengan dua atau tiga tahun lalu dan hal ini masih akan berlangsung,” kata Yose dalam media briefing, Senin (18/8).
Dia mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia salah satunya bergantung pada pergerakan harga komoditas. Jika harga komoditas baik, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga positif. Begitupun sebaliknya, jika harga komoditas menurun, maka potensinya pertumbuhan ekonomi juga turun.
“Jadi kembali lagi akan sangat sulit, untuk kita mencapai target pertumbuhan atau asumsi ekonomi 5,4%,” ujarnya.
Selain pertumbuhan ekonomi, pergerakan harga komoditas juga berdampak bagi penerimaan negara. Menurutnya, pada periode 2022-2024 penerimaan negara sangat ditopang oleh pajak ekspor komoditas.
“Dengan kondisi ini, kita bisa melihat bahwa penerimaan pemerintah dari pajak ekspor juga akan sulit, tidak semudah tahun- tahun sebelumnya,” ucapnya.
Dia menyebutkan, berbagai lembaga dunia memang sudah memprediksi bahwa kondisi ekonomi global akan turun pertumbuhannya. IMF Economic Outlook pada Januari lalu memproyeksi pertumbuhan ekonomi dunia hanya 3,3%, namun enam bulan selanjutnya mereka merevisi proyeksi ekonomi hanya tumbuh 3,1%.
“Ini tentunya akan berpengaruh sekali ke RAPBN 2026 yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,4%,” katanya.
Target Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh lebih kencang pada 2026. Ia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4% dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 16.500 per dolar AS.
“Tingkat pengangguran terbuka tahun 2026 ditargetkan terus turun ke tingkat 4,44% hingga 4,96%. Angka kemiskinan kita turunkan ke 6,5% hingga 7,5%,” kata Prabowo, Jumat (15/8).
Ia juga menyebut target rasio gini pada 2026 berada di kisaran 0,377 sampai 0,38%. Sementara indeks modal manusia ditargetkan mencapai 0,57%, dengan peningkatan indeks kesejahteraan petani dan proporsi penciptaan lapangan kerja formal.
Prabowo berharap pembahasan RAPBN 2026 dapat dilakukan secara konsultatif dengan semangat gotong royong.
“Demi tercapainya cita-cita Indonesia merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. Semoga Allah SWT senantiasa memberi rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sekalian dalam melaksanakan tugas dan amanah seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
