Daya Beli Kuat Dongkrak Sektor Ritel Indonesia

Dini Hariyanti
Oleh Dini Hariyanti - Tim Publikasi Katadata
15 Januari 2026, 09:58
sektor ritel
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/tom.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Memasuki awal tahun 2026, optimisme terhadap perekonomian Indonesia semakin menguat. Meskipun situasi global masih dibayangi ketidakpastian, pasar domestik diperkirakan tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Sektor ritel Indonesia diprediksi akan terus berkembang sepanjang tahun ini, didorong oleh daya beli masyarakat yang tetap kuat meskipun menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

Optimisme ini didasarkan pada analisis Bank Mandiri Office of Chief Economist terhadap Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia. Kinerja konsumsi rumah tangga menunjukkan tren positif yang berlanjut sejak akhir 2025.

Momentum libur panjang dan perayaan hari besar menjadi faktor utama yang menjaga mesin ekonomi tetap berjalan lancar.

Mengacu pada data, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Desember 2025 diperkirakan tumbuh 4,4% secara tahunan (year-on-year) menuju level 231,7. Secara bulanan, angkanya juga menunjukkan kenaikan yang signifikan, yakni 4,0%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa masyarakat tetap aktif berbelanja, terutama pada momen Natal dan Tahun Baru.

“Beberapa sektor ritel menunjukkan pertumbuhan yang kontras namun saling menguatkan,” tulis laporan Bank Mandiri seperti dilansir Badan Komunikasi Pemerintah, Kamis (15/1).

Kelompok suku cadang dan aksesori tercatat tumbuh pesat hingga 12,3% secara tahunan, diikuti oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang meningkat 6,9%. Barang budaya dan rekreasi tumbuh 3,5%, sementara bahan bakar kendaraan bermotor juga mengalami kenaikan 0,2%.

Menariknya, peralatan informasi dan komunikasi menunjukkan lonjakan terbesar pada level bulanan, yakni tumbuh 13,9%, yang mencerminkan bahwa teknologi tetap menjadi prioritas utama bagi masyarakat.

Satu kabar baiknya adalah bahwa lonjakan belanja ini tidak disertai dengan lonjakan harga kebutuhan pokok. Bank Mandiri mencatat bahwa ekspektasi inflasi cukup terkendali. Meskipun Indeks Ekspektasi Harga (IEH) untuk Februari 2026 diperkirakan berada di angka 168,6 karena faktor musiman, angka ini diperkirakan akan turun ke level 154,8 pada Mei 2026.

"Ini menunjukkan bahwa tekanan harga hanya bersifat sementara," jelas laporan Bank Mandiri.

Secara makro, inflasi diprediksi akan berada di kisaran 2,78% pada tahun 2026. Angka ini cukup rendah dan memberikan angin segar bagi konsumen, memastikan daya beli tetap terjaga meski ada kenaikan harga barang pokok.

Proyeksi Ekonomi 2026

Bank Mandiri memproyeksikan konsumsi rumah tangga akan tumbuh sebesar 5,06% sepanjang tahun 2026. Banyaknya libur nasional dan cuti bersama pada tahun ini diprediksi akan mendorong masyarakat untuk tetap aktif dalam beraktivitas, bepergian, dan berbelanja.

Pemulihan aktivitas masyarakat pasca-pandemi juga memberikan kontribusi positif terhadap keberlanjutan sektor ritel.

Namun, laporan ini juga mencatatkan perlunya kewaspadaan dari pelaku usaha terhadap potensi ketidakpastian global yang dapat memengaruhi sentimen konsumsi.

Dengan dasar ekonomi domestik yang kuat dan inflasi yang terjaga, sektor ritel Indonesia siap menghadapi tantangan di tahun 2026 dengan penuh percaya diri. Pertumbuhan ini diharapkan akan membawa dampak positif yang luas, memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...