Prospek Ekonomi Indonesia 2026 di Bawah Pemerintahan Prabowo

Dini Hariyanti
Oleh Dini Hariyanti - Tim Publikasi Katadata
15 Januari 2026, 10:04
ekonomi indonesia
Katadata/Fauza Syahputra
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Ekonomi Indonesia memasuki 2026 dengan semangat yang positif. Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan sentimen yang optimis, mulai dari pasar keuangan, pasar saham, hingga inflasi.

Pasar keuangan dimulai dengan momentum yang lebih kuat dibandingkan awal 2025, memberikan modal yang baik bagi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memandang arah ekonomi nasional sepanjang tahun ini.

Laporan dari BRI Danareksa Sekuritas seperti dikutip dari Badan Komunikasi Pemerintah menyebutkan bahwa kondisi awal 2026 jauh lebih stabil, didorong oleh membaiknya situasi makro ekonomi global dan domestik.

Tekanan besar yang sebelumnya mengkhawatirkan pasar, seperti penguatan dolar AS, lonjakan yield global, hingga likuiditas yang ketat, kini perlahan mereda.

Starting point 2026 jauh lebih stabil dibandingkan awal 2025, dengan beberapa tantangan utama kini mulai mereda,” tulis laporan BRI Danareksa Sekuritas, dikutip Kamis (15/1).

Dari sisi global, inflasi yang terus menurun membuka peluang untuk kebijakan moneter yang lebih longgar. Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang cenderung akomodatif diperkirakan akan menekan penguatan dolar AS, serta mempersempit selisih suku bunga. Kondisi ini dianggap lebih mendukung mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Likuiditas global juga tetap longgar. Yield jangka pendek masih terjaga, sementara kenaikan yield tenor panjang lebih dipengaruhi oleh risiko fiskal dan geopolitik, bukan oleh pengetatan moneter yang agresif. Hal ini memberi ruang bagi stabilitas pasar obligasi dan aset berisiko.

IHSG Positif hingga Inflasi Terkendali

Sentimen positif terlihat di pasar saham. Laporan BRI Danareksa Sekuritas mencatat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 3,4% secara year-to-date dan sempat mencetak rekor tertinggi dengan menembus level psikologis 9.000 pada minggu pertama Januari 2026. Secara historis, penguatan IHSG di awal tahun sering kali menjadi sinyal positif bagi minat risiko investor.

Namun, BRI Danareksa Sekuritas mengingatkan bahwa kinerja IHSG selama setahun penuh tetap bergantung pada faktor makro dan rotasi sektoral. Pengalaman di 2025 menunjukkan bahwa penguatan IHSG juga bisa dipengaruhi oleh reli terbatas pada saham-saham tertentu.

Dari sisi domestik, inflasi mulai bergerak menuju level yang lebih sehat. Inflasi pada Desember 2025 tercatat 2,92%, yang merupakan level tertinggi sejak 2022, didorong oleh harga emas, volatile food, dan penyesuaian harga yang diatur pemerintah. Inflasi inti yang meningkat secara moderat mencerminkan pemulihan permintaan domestik.

Kebijakan terkait upah juga menunjukkan perkembangan yang lebih seimbang. Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 rata-rata sebesar 5,82% dianggap menjaga daya beli masyarakat tanpa memberatkan dunia usaha. Di beberapa daerah, seperti Sulawesi Tengah, kenaikan upah juga mencerminkan dampak positif dari hilirisasi nikel.

Meskipun rupiah dan yield masih mengalami fluktuasi, arus dana asing menunjukkan sinyal yang positif. Investor global kembali mencatatkan net inflow ke pasar obligasi dan saham di awal tahun.

Dengan kombinasi stabilitas makro, normalisasi inflasi, dan dukungan arus modal, awal tahun yang kuat ini menjadi bekal penting bagi pemerintahan Prabowo untuk menjaga optimisme terhadap ekonomi Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...